Selasa, 21 Februari 2023

PEKARANGAN/NYUKAT PALEMAHAN

 

TATA CARA NYIKUT PALEMAHAN

OLEH : I NYOMAN SUNIA

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.        Latar Belakang

Arsitektur bangunan Bali tidak lagi terkesan unik dan tradisional, karena pengaruh globalisai yang menyebabkan banyak muncul pembangunan  berbagai bentuk sebagai tempat tinggal, sehingga status palemahannya juga banyak mengalami perubahan, tanah–tanah sawah, ladang/ tegalan, jurang/pangkung tepi sungai semakin menyempit dan bahkan ada yang hilang, berubah menjadi bangunan bertingkat tanpa mengetahui asal mula tanah . Sebagai umat hindu, tentunya lebih berhati-hati dalam menentukan lokasi, tata letak, karena tempat tersebut sangat menentukan kehidupan di dalam keluarga.  

Tanah /palemahan yang menjadi hak milik, atau diproleh dengan cara membeli, apabila digunakan sebagai tempat tingggal perlu diteliti sebelumnya, agar tanah yang  ditempati sesuai tujuan dan keinginan untuk terciptanya suatu kekeserasian, keharmonisan dan keselarasan dalam keluarga menuju bahagia. Biasanya tempat  yang diproleh dengan membeli harga murah, kurang mmperhatikan asal usul /tata letak tanah, dimana setelah diidirikan tempat tinggal tersebut menimbulkan permasalahan yang meresahkan, kurang merasa betah karena sering merasakan terganggunya pikiran, kesakitan menimpa keluarganya sehingga tidak jarang sampai ditinggalkannya.

Sebagai umat  Hindu di Bali yang berbekal dasar keyakinan tentunya didalam membangun tempat tinggal berdasarkan petunjuk sastra Agama Hindu dari  “Bhagawan Wiswakarma” sebagai dewanya undagi yang dinyatakan dalam lontar Wiswakarma Tattwa dapat dijadikan pedoman untuk dihayati, karena tanah ( palemahan) itu memiliki nilai baik dan buruk. Nilai baiknya agar tanah yang dijadikan tempat tinggal dapat tercipta kehidupan ” Santa Jagadhita dan Tata Tentram Kerta Raharja, Gemah Ripah Loh Jinawi, Landuh Kang Sarwa Tinandur Murah Kang Sarwa Tinuku, kehidupan semakin rukun,dan bahagia skala niskala.

 

B. Proses suatu Bangunan Tempat Tinggal / Rumah

    1. Pemilihan lokas tanah /palemahan

 Palemahan atau Tanah yang dipilih untuk lokasi tempat tinggal atau perumahan dengan mengikuti beberapa ketentuan tentang baik buruknya tata letak dan bentuk pekarangan sesuai dengan petunjuk  yang tersurat pada rontal Tutur Bhagawan Wiswa Karma, Bhama kretih,Rontal Asta Bhumi sebagai acuan  dalam pemilihan tempat pekarangan/palemahan untuk dijadikan tempat tinggal. Adapun hal ini dapat dilihat dari ciri-cirinya;

1). Ciri-ciri Palemahan baik (Hayu):

a.    Palemahan terletak di barat miring ke Timur itu dinyatakan mendapatkan keuntungan (manemu laba).

b.   Palemahan tinggi diselatan  miring ke Uttara dinyatakan hidup berkecukupan/ tidak kekurangan makanan dan minuman (Paribhoga Wreddhi atau Wreddhi Putra).

c.    Palemahan itu datar, tidak terhalang dari keempat arah (tidak ada yang menyaingi/ menyendiri ) , pelemahan itu termasuk sedang,tidak termasuk baik ataupun buruk mendapatkan sinar yang lengkap, mendapatkan kekuatan air dan angin, tanah subur sehingga  tanamannya subur.

d.   Palemahan yang letaknya tinggi dan miring, datar ataupun miring bersih,sejuk,dan tidak ada yang menghalangi ,memberikan bau yang harum, menarik bagi setiap orang yang masuk kesana, palemahan ini dinyatakan “ Dewa Ngukuhi” ( Sthananya Para Hyang )atau palemahan berlandaskan manik menyebabkan selamat dan bahagia bagi mereka yang menempati.

e.    Palemahan yang tanahnya berbau pedas, dinyatakan “asihing Kanti / Sihing Kadang warga dan teman sebagai jalan menuju sukses.

2). Ciri- ciri Palemahan tidak baik (Hala)

a.    Palemahan warna tanahnya hitam rupanya kotor tidak baik dipakai tempat tinggal.

b.   Palemahan yang tanahnya berbau busuk ,sangat tidak baik, jangan dipakai tempat tinggal.

c.    Karang sandang lawe yaitu  Karang yang berpapasan dengan jalan tidak baik dipakai tempat tinggal karena akan menyebabkan penyakit berjangkit.

d.   Karang Sula Nyupi yaitu karang yang dikelingi ( kalingkuhin ) oleh jalan, itu buruk tidak baik dipakai tempat tinggal.

e.    Karang Kuta kunbandha yaitu karang yang diapit oleh jalan,itu buruk.

f.     Karang sandang lawang yaitu karang yang bersebelahan jalan dengan saudara  / orang yang berasal tunggal dari keluarga laki-laki  ( karang negen margi) amat buruk dipakai tempat tinggal  itu namanya menyamai Bhatara( Amada-mada bhatara)  .

g.    Karang yang mempunyai  pintu keluar masuk  dua ,itu sangat buruk, “ boros Wong” namanya.

h.   Karang bekas pura,kuburan ,peyadnyan sulinggih,orang mengamuk/perang, tempat orang mati gantung diri,amat buruk dipakai tempat tinggal.

i.     Karang Nyeleking yaitu karang yang pintu masuknya tepat berhadap-hadapan  dengan pintu masuk pekarangan orang lain yang berada didepannya , itu tidak baik.

j.     Karang karubuhan(suduk Angga) yaitu karang katumbak/ katusuk jalan , rurung/gang  sungai ,got (jelinjingan) pempatan pertigaan, bale banjar (ngulonin bale banjar), .pura,batas tembok  tetangga, tidak baik.

       Pekarangan  yang tidak baik (ala) tersebut di atas, disebut karang panes atau tenget (angker) apabila difungsikan sebagai lokasi membangun tempat tinggal/ perumahan, hendaknya dibuatkan upacara penetralisir , pemahayu  atau  pamarisuddha karang, dan dibuatkan Song Sombah  mengahadap ke arah penumbak. Song Sombah adalah sebuah lubang berbentuk segi tiga yang berada pada bagian  bawah tembok samping angkul angkul,   berfungsi

            panguus sarwa mala, dan mohon   (ngayat)

sebagai sang  Kala / Bhuta   Amengkurat   ,karena

Penjaga song sombah yaitu  Sang Bhuta Amangkurat .

        Disaping itu juga dibangun sebuah pelinggih padma capah di luar penyengker pekarangan sebagai sthana Ida sanghyang  Indrablaka. Dan   apabila    ada   binatang    seperti    lebah ( nyawan) ,tabuan  sirah, tabuan kulid  pada  bagian atas /atap paumahan atau merajan , ular masuk dipekarangan rumah,ulat lulut,dan  binatang aneh lainnya  sama panasnya. Dan kemunculan binatang terbut sebagai pertanda bahasa isyarat dari alam. Apabila ada ular dilumbung dan sanggah kamulan itu adalah pertanda baik. Bintang tersebut sebaiknya di beri laban dengan upacara keprewesan kedurmangalan mohon kehadapan sanghyang Druwa Rsi, agar utusan  berupa makhluk tersebut diatas ,dapat membawa pengaruh positif dalam keluarga, tetapi kalau hal tersebut  diabaikan akan menimbulkan munculnya pengaruh negatif yang tidak di kehendaki.

        Dalam rontal Bhama Kretih  disebutkan : Karang /palemahan seperti tersebut diatas walaupun  dibuatkan upacara pecaruan sepuluh atau lima belas kali tidak akan ada gunanya, kalau tidak tepat upacaranya yang dilaksanakan untuk karang atau tanah (palemahan) disebut karang angker atau karang nyakitin.

 

2.   Tata Cara Merubah Tanah sawah/Tegalan.

      Setelah menetukan lokasi dan tata letak tanah untuk dijadikan pekarangan atau tempat tinggal perlu adanya persiapan atau tahapan-tahapan selanjtnya  sebagai berikut :

a.       Upacara penyepihan (pengaplingan tanah) yang sudah ditentukan.

b.      Upacara Nuntun Bhatara Sri ka Badugul dngan tapakan daksina panuntun.

c.       Upacara Ngeruwak/ Nyapuh .

d.      Upacara Ngrapuh 

e.       Upacara Nyakap /Ngingkup tanah

        Tata laksana upacara tersebut di atas mempunyai makna dan  tujuan  agar  tanah  yang dijadikan tepat tinggal tidak menimbulkan pengaruh negative. Makna dari upacara nyepih,ngeruwak (nyapuh), nyakap atau ngingkup tanah sebagai berikut :

a.    pembersihan atau penyucian areal pekarangan yang dijadikan tempat tinggal.

b.   Melebur atau merubah status/mengalih fungsikan  tanah dari tanah sawah, ladang/tegal menjadi tanah tempat tinggal.

       Tujuan dari upacara nyepih, ngeruwak (nyapuh), nyakap atau ngingkup tanah adalah untuk menetralisir hal-hal  negatif ( tidak baik) yang  ada  pada areal tanah tersebut, agar nantinya tanah yang dijadikan tepat tinggal dapat memberikan kenyaman,kesejukan, ketentraman, keharmonisan dan menyenangkan dalam lahir dan batin, terhindar dari gangguan-gangguan yang tidak kita hendaki baik secara skala maupun niskala agar dapat terwujudnya  Tri Hita Karana dalam hidup dan kehidupan (  Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, 2004 ;11).

 

3.   Nyukat Karang (pengukuran )

        Sebelum  melakukan  pengukuran  atau  nyukat  karang ,  terlebih   dahulu   hendaknya menghaturkan banten pejati ( daksina, pras ajuman,)  pada Ibu Prethiwi , mohon ijin agar dalam pelaksanaan pengukuran tempat tersebut dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan dan  segehan manca warna dihaturkan pada sang Bhuta Bhuana. Upacara nyukat karang dilaksanakan dengan maksud mengukur secara pasti mengenai tata letak bangunan yang akan didirikan, dan luas masing-masing palemahan (mandala) sehingga tercipta sebuah tatanan bangunan yang sesuai dengan ukuran-ukuran (sukat)  yang termuat dalam  lontar Asta Kosala-Kosali atau asta Bhumi. Adapun ukuran yang digunakan dalam mengukur tempat tinggal, sebagai berikut :

a.    Ukuran Depa ,(depa agung, depa sedang,depa pendek ( untuk ukuran pekarangan).

b.   Ukuran Hasta, (ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewasa dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka),jengkal dan genggaman dipakai untuk mengukur kelebihan (sisa) dari ukuran depa.

c.    Ukuran Musti (ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas).

        Nyukat ( ukuran) pekarangan dihitung dengan memakai hitungan  depa agung, depa sedang, dan depa alit,sisanya dihitung dengan Hasta, jengkal, atau genggaman.Untuk menetukan halaman ( natah) rumah dengan memakai ukuran tlapak (tampak)kaki  dan tampak ngandang sebagai pengurip-urip. Cara pengukurannya dimulai dari  Timur kebarat, dari Utara keselatan . Ukuran (sukat) panjangnya Timur barat selisih lagi satu depa dari Utara keselatan di tambah dengan penguripnya sama “ Ahasta Musti”. Sedangkan  ukuran  (sukat )  pintu  masuk  ( pemedal)   terbagi   9  ( Sembilan) setelah itu sisanya keteben (ngrupet keteben ) .Ukuran (sukat)  menggunakan batang pohon dapdap dengan ukuran satu depa yang memiliki rumah kemudian diberi sasat pengengeh dengan rerajahan “ Ongkara dan juga aksara Ang Ah” lalu diperciki tirtha pebersihan ( Ida Bagus Anom,2002 : 49).

Nama-nama ukuran ( sukat) dan pengaruhnya:

1.   Ukuran sisi Utara ke Selatan  15 depa, dan sisi Timur ke Barat 14 depa,ukuran (sukat)nya bernama : Gajah, pengaruhnya baik

2.   Ukuran sisi Utara ke Selatan 14 depa, dan sisi Timur ke Barat 13 depa,ukuran (sukatnya) bernama :Dwaja , pengaruhnya baik.

3.   Ukuran sisi Utara ke Selatan 13 depa, dan sisi Timur ke Barat 12 depa,ukuran (sukat) bernama : Singa, pengaruhnya baik.

4.   Ukuran sisi Utara ke Selatan 12 depa, dan sisi Timur ke Barat 11,ukuran (sukatnya) bernama : Wreksa , pengaruhnya baik.

5.   Ukuran sisi Utara ke Selatan 11 depa, dan sisi Timur ke Barat 10 depa, ukuran (sukatnya) bernama: gajah , pengaruhnya baik.

6.   Ukuran sisi Utara ke Selatan 10depa, dan sisi Timur ke Barat 9  depa ukuran ( sukatnya) bernama : Dwaja , pengaruhnya baik.

7.   Ukuran sisi Utara ke Selatan  9 depa, dan sisi Timur ke Barat 8 depa, ukuran ( sukatnya) bernama : Singa, pengaruhnya baik.

8.   Ukuran sisi Utara ke selatan 8 depa, dan sisi Timur ke Barat 7 depa, ukuran (sukatnya) bernama : Wreksa pengaruhnya baik. 

Seperti yang dilaksanakan dalam lontar Asta Kosala-Kosali sebagai berikut :

Nihan tingkahing angamet, yan anut sikut hayu dahat palanya,sat maka kahyangan Bhatara Nawa Sanga, tan mari kegeringan puara pejah ika, elingakena, aja ima, kakalan ring pawilangan sikut “.

Artinya :

Inilah caranya menggunakan ukuran rumah, jika tidak sesuai dengan ukuran, dapat tertimpa marabahaya yang dapat menyebabkan kematian, hal ini harus di ingat jangan disembarangkan, akan kehadiran Bhuta Kala karena kesalahan menggunakan ukuran.

 

Bentuk dan tata letak bangunan.

        Bentuk Bangunan dan tata letak bangunan Bali berdasarkan  ketentuan-ketentuan yang tersurat  dalam rontal Asta Kosala-Kosali,Asta dewata, dan Asta Bhumi .  Arsitektur bangunan di Bali merupakan suatu keunikan tersendiri, karena setiap bangunannya berlandaskan  konsep Asta Kosala – kosali  yang  di yakini oleh masyarakat Hundu Bali.

        Menurut Pandita Dukuh Samyaga, perkembangan arsitektur bangunan Bali, tak lepas dari peran  besar arsitek  Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang banyak mewarisi landasan pembangunan arsitektur Bali. Tokoh-tokoh inilah yang ikut mewarnai khasanah arsitektur tersebut di tulis dalam rontal  Asta Kosala-Kosali dan Asta Bhumi yang menganggap Bhagawan Wiswakarma  sebagai dewanya para arsitektur.Menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali, bangunan adat memiliki nilai-nilai bangunan yang sangat sakral dan memiliki jiwa dari Bhuana Agung (alam makrokosmos) sedangkan manusia yang menempati bangunan adalah bagian dari Bhuana  Alit (mikrokosmos) dan bangunan yang ditempati harus harmonis, agar bisa mendapatkan keseimbangan antara  kedua alam tersebut. Oleh karena itu pembuatan bangunan harus sesuai  dengan konsep-konsep Asta Bhumi dan Asta Kosala – Kosali.

        Asta Kosala- kosali merupakan aturan tentang bentuk-bentuk niyasa ( symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang,lebar ,tinggi,pepalih (tingkatan) dan hiasan. Sedangkan Asta Bhumi adalah aturan tentang luas halaman pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih. Aturan tentang Asta Kosala dan Asta Bhumi ditulis oleh Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan. Uraian mengenai Asta Kosala  khusus untuk bangunan padmasana,hiasan padmasana, bentuk-bentuk padmasana dan letak padmasana. Sedangkan  Asta Bhumi tentang pembuatan pura atau sanggah pemerajan.

        Asta Kosala- Kosali merupakan fengshuinya Bali,  karena  tata cara,tata letak dan, Tata bangunan untuk tempat tinggal dan tempat suci yang ada  di  Bali ,  sesuai  dengan  landasan Filosofi, Etis, dan Ritual serta pelaksanaan yadnya.  Adapun   landasan    Asta Kosala – Kosali  ,  sebagai berikut :

1.   Landasan Filosofis

Bangunan Adat Bali  dibangun berdasarkan tattwa (falsafah) Agama Hindu dan didasarkan pada kemanunggalan Buana Agung  (makrokosmos)dan Bhuana Alit (mikrokosmos) yang tertuang dalam konsep Tri Hita Karana, sebagai landasan filosofis pembangunan tempat tinggal dan menjadi tujuan hidup.

2.   Landasan Etis

Tata nilai  atau tata letak bangunan harus disesuaikan dengan kansep Tri Hita Karana, agar dapat memberikan kesimbangan, keharmonisan dan keselarasan dalam kehidupan. Dari konsep inilah terwujudnya Tri Angga atau Tri Mandala sebagai tatanan suatu palemahan atau bangunan Adat Bali.  konsep Rwabinedha yang diwujudkan dalam bentuk hulu dan teben ,dan sesuai petunjuk, Tri Angga  dan Tri Mandala ,Tri Loka,dan catur Loka Pala( catur Dewa).Adapun tata cara membangun sesuai petunjuk sastra agama atau berdasrkan pada konsep -konsep sebagai berikut :

a.    Tri Hita Karana :

1.   Parhyangan( tempat suci): sanggah / merajan.

2.   Pawongan (tempat aktivitas kehidupan), peristirahatan ( rumah).

3.   Palemahan ( tempat pelayanan umum,peternakan).

b.   Rwa binedha :

1.   Hulu  (Luan) sebagai tempat suci( genah parhyangan). Ada dua patokan mengenai  hulu yaitu :

a.    Arah dimana letak Gunung  : Kaja

b.   Arah Matahari terbit            : Timur.

         Dari Gunung Tuhan memberikan sebuah kehidupan dan Matahari itu adalah symbol dari cahaya terang yang menuntun manusia. Jadi arah yang paling  baik adalah

Timur laut (Kaja Kangin).

2.   Teben (hilir) adalah arah  yang  berlawanan  dengan  hulu  atau  tempat yang termasuk  leteh, kotor  (reged, mala) sebaiknya di tempatkan  Kelod Kauh.

 

 

c.    Tri Angga :

1.   Uttama angga   : kepala/ atap bangunan.

2.   Madhya Angga : badan bangunan yang terdiri dari tiang dan dingding.

3.   Kanista Angga  : dasar/ pondasi bangunan.

d.   Tri Mandala :

1.   Uttama Mandala : tempat suci/tempat pemujaan ( parhyangan).

2.   Madhya Mandala: tempat tinggal penghuni/ rumah ( pawongan).

3.   Kanista Mandala : pekarangan / perkebunan, kandang (palemahan).

e.    Tri Loka :

1.   Bhur Loka   : dasar bangunan

2.   Bhuah Loka : badan bangunan

3.   Swah Loka  :  atap ( kereb) bangunan

 

 

f.     Catur Loka Pala(Catur dewata) :

1.   Uttara (Kaja),tempat gedong : dewa Wisnu.

2.   Timur(Kangin), tempat Bale Dangin , Bale Gede :  Dewa Iswara.

3.   Selatan (Kelod), tempat dapur : Dewa Brahma.

4.   Barat ( Kauh), tempat Loji : Dewa Maha Dewa.

        Disamping landasan bangunan tersebut di atas,semua wujud  bangunan Adat Bali hendaknya berdasarkan pada ketentuan-ketentuannya,jenis/ pengelompokan bangunan, ciri-ciri  bangunan, dan fungsi  bagian-bagian bangunan Bali sebagai berikut :

 Ketentuan-ketentuan bangunan Adat Bali :

1.    Temat / denah berdasarkan rontal Asta

  Bhumi

2.    Bangunan / konstruksi berdasarkan

 rontal Asta Dewa dan Asta Kosala-Kasali.

3.    Bahan-bahan berdasarkan rontal Asta

 Dewa dan Asta Kosala-Kosali seperti :

 kayu, batu , alang-alang, ijuk, bata dan

 sebagainya.

Jenis – jenis atau Pengelompokan  bangunan Bali meliputi :

1.   Banguna suci / keagamaan sebagai tempat pelinggih-pelinggih yang disucikan.

2.   Bangunan kepara/ adat yaitu bangunan – bangunan tempat tinggal dan bangunan adat lainnya.

Bangunan Bali mengandung ciri – ciri :

1.   Pengider-ngideran ( Catur  Loka Phala/ Asta Dala).

2.   Tri Hita Karana, Tri Mandala / Tri Loka.

3.   Adanya upacara sangaskara/ penyucian.

4.   Mengandung simbul-simbul sesuai dengan ajaran  agama  hindu, ( misalnya : Sanghyang Acintya , Naga , Padma  dan sebagainaya. 

Fungsi bagian-bagian  bangunan Bali

1.   Pamerajan, ini adalah tempat yang paling disucikan, posisinya berada diarah matahari terbit dan letak gunung ( Timur dan Uttara/ Timur Laut).

2.   Umah Meten/ gedong,  bangunan ini biasanya di tempati oleh orang yang paling tertua di rumah.

3.   Bale tiang sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu.

4.   Bale Sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anak-anak atau anggota keluarga lain.

5.   Bale Dangin,  tempat ini untuk menaruh banten(perlengkapan  upacara ) dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upacara keagamaan.

6.   Dapur( paon) , merupakan tempat untuk memasak.

7.   Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya.

8.   Latar atau halaman tengah sebagai ruang luar.

9.   Angkul - angkul  yaitu  berfungsi  sebagi  gapura/ pintu  masuk , sedangkan Aling-aling, sebagai   tembok pembatas/ penghalang pandangan dari luar, agar tidak bisa langsung melihat kedalam.

3.   Landasan ritual.

        Setiap mendirikan bangunan hendaknya selalu dilandasi dengan pelaksanaan upacara yadnya , seperti upacara nuntun Bhatara Sri, upacara ngeruwak, nyapuh,nyakap/ngingkup memakuh, dan mlaspas  tujuannya mohon ijin kepada  penguasa tempat, menetralisir hal-hal yang tidak baik,agar terhindar dari gangguan-gangguan yang tidak di kehendaki,membersihkan/menyucikan (menyuddha mala), memberi jiwa(dihidupkan), mohon perlindungan skala –niskala agar dapat terwujudnya Tri Hita karana dalam kehidupan keluarga.

 

         Letak bangunan.

        Areal tempat tinggal / pekarangan  berbentuk segi empat panjang yang mempunyai sudut (paduraksa / pemucu ). Padu artinya pertemuan,menyatukan , dan  Raksa   artinya  harus disesuaikan dengan susdut (pemucu) pekarangan rumah :

1.   Sudut / pemucu Kaja Kangin (Timur laut) : Sri/ Sri raksa , tempat suci/parhyangan.

2.   Sudut/ pemucu Kelod kangin (Tenggara)  : Guru/ Aji Raksa, jineng, tempat air,dapur.

3.   Sudut / pemucu Kelod Kauh (Barat daya): Rudra Raksa, tempat WC, Tebe,Kandang.

4.   Sudut Kaja Kauh (Barat laut)      : Kala Raksa ,tempat Penunggun Karang.

           Sedangkan letak atau jajaran  bangunan diareal pekarangan rumah sesuai dengan     Asta Bhumi dan  Kosali yang menetapkan bilangan   asta dewata , Asta Dala, dan Asta wara : Sri ,Indra,Guru, Yama, Ludra, Brahma, kala, Uma.   Tata letak yang sesuai :

1.   Sri         : Kaja Kangin ,tempat suci   

                (parhyangan).

2.   Indra     : Kangin, Bale Dangin, Bale Gede.

3.   Guru     : Kelod Kangin, jineng, sumur.

4.   Yama     : Kelod, Dapur.

5.   Rudra    : Kelod kauh, Teba.

6.   Brahma : Kauh, Loji.

7.   Kala       : Kaja Kauh, Penunggun Karang.

8.   Uma       : Kaja, Gedong.

      Letak bangunan menurut Ideran:

1.      Letak Merajan di Timur Laut disebut Purwaning karang ( Kala raksa).

2.      Letaknya di barat laut disebut Penunggun Karang.

3.      Letak Meten di Utara.

4.      Letak Bale di selatan / Barat.

5.      Letak jineng di Selatan/ Barat daya.

6.      Letak Paon di selatan/ barat daya.

7.      Letak Sumur di Selatan / Barat daya.

8.      Letak kandang di selatan/barat daya.

9.      Letak kamar mandi di Selatan / Barat daya.

 

 Tata letak pintu masuk(pemedal)

         Disamping tata letak bangunan tersebut diatas, tata letak pintu masuk ( pemedal)tidak  boleh  ditempatkan sembarangan, karena pintu masuk juga dapat  berpengaruh terhadap kehidupan penghuninya. Menurut petunjuk sastra Agama Hindu untuk membuat pintu masuk harus berdasarkan petunjuk rontal Asta Bhumi. Sesuai kepercayaan umat hindu bahwa pintu masuk sebagai sthananya Sanghyang Kala atau Dewa Ganapati dengan bhiseka jaga-jaga yang bertugas sebagai pecalang. Pintu pemedal atau disebut dengan apit lawang dengan swabhawa- Nya Sanghyang Panca Kala yang merupakan manifestasi Sanghyang Widhi pada tempat suci pekarangan rumah sehingga tercipta tanda Tapak Dara(+ ) pada pintu masuk pekarangan,sebagai berikut :

1.   Sebelah kanan pintu keluar Maha kala

2.   Sebelah kiri pintu keluar Adi Kala

3.   Tepat dipintu masuk Sang Kala

4.   Di depan pintu Sang Sunia Kala

5.   Pada Aling-aling Sang Dora Kala

        Dora Kala berasal dari kata, dora dan Kala.Dora artinya pintu (lawang), Kala artinya  waktu / hari . Jadi  Dora  Kala  artinya  pintu  keluar  masuk  sehari – hari (Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, 2004 ; 41). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                         

 

BAB II

NYAPUH

 

I. Tata Cara Nyapuh

        Nyapuh adalah  membersihkan  sawah,  ladang  atau  tegalan ,  meratakan  tanah   dan  mengalih  fungsikan/ merubah status tanah. Sebelum melaksanakan upacara Nyapuh  terlebih dahulu   melakukan  upacara   nuntun   Linggih   Bhatara   Sri   kembali   ke   pura   Badugul

sebagai  hulunya (penghuluning )  sawah, dan   dilanjutkan   nuhur   tirtha   sebagai   penutup  ( pemuputing) yadnya. Adapun tata cara Nyapuh sawah/tegalan  sebagai berikut:

a.    Pertama ngambil tanah pada bagian hulu disimpan dalam katipat dampul ,Kemudian dilanjutkan mengambil tanah bagian teben simpandalam katipat nasi.

b.   Mendirikan  (Nanceb) Sanggah Cucuk , disanggah Cucuk munggah banten daksina Banjotan ,nasi hitam maulam bawan jahe, canang atanding,katipat dampul dan  katipat nasi digantung disanggah cucuk. Banten tersbut di atas dihaturkan sang Bhuta Kala Dengen , sang Bhuta Kala Bongol dan Bhatara Sedahan sawah/ tegal.

Diantar dengan mantra :

Ih Sang Bhūta Kāla Dengen,Sang Bhūta Kāla bongol mwang kita Bhaāra Sedahan sawah / tegal, iki tadah sajinta, daksina banjotan mwang sega ireng maulam bawang jahe, mangke hulun anyapuh sawah / tegalan ajasira manirudha

Śiddhi  swāhā

 

 

Dilanjutkan dengan ngeruwak.

        Ngeruwak berasal dari kata  ”wak “ artinya membuka, yaitu membongkar dan meratakan tanah yang  dijadikan tempat tinggal.        Upacara pangeruwak karang , sebagai upacara awal persiapan membangun , yakni merubah status tanah yang awalnya sawah,tegalan,pangkung/jurang,sungai. Upacara ini di laksanakan berkaitan dengan adanya pembanguan. Tujuannya sebagai  permohonan kehadapan Sang bhuta ruwak Bhuana dan sang Bhuta Dengen yang menempati tanah sawah atau tegalan tersebut, agar tidak  menimbulkan munculnya gangguan – gangguan yang tidak dikehendaki, dan menurut keyakinan atau kepercayaan umat Hindu di Bali agar tidak kena Pamali.

Tanah yang disapuh/diruwak sebagai berikut :

1.   Tanah yang disapuh/diruwak adalah tanah sawah, maka yang dihaturkan atau Dihayat Bhatara Ulun carik atau Pura bedugul.

2.   Tanah yang diruwak adalah tanah tegal/kebun,maka yang dihaturkanatau dihayat Bhatara Ulun Tegal

3.   Tempat suci (merajan/pura)yang akan dipindahkan ,maka yang dihaturkan atau   dihayat adalah Bhatara yang bersthana disana.

Banten Caru

Banten   Caru Ngeruwak Bhuana adalah caru ayam berumbun dengan olahan 33 tanding dengan sate lembat asem dan lawar berwarna merah putih dengan penek/nasi 5 warna dengan  urip-uripnya :

Ø  Tumpeng putih 5       : tempatnya ditimur.

Ø  Tumpeng merah 9     : tempatnya diselatan.

Ø  Tumpeng kuning 7    : tempatnya dibarat.

Ø  Tumpeng hitam 4      : tempatnya di uttara.

Ø  Tumpeng manca warna: tempatnya ditengah-tengah.

Ø  Layang-layang kulit ayam tersebut ditaruh pada wadah

dengan 33 bidang tandingan tiga , dengan Sanggah Cucuk.

       Banten caru tersebut di haturkan kehadapan Sang Bhuta Ruwak Bhuana dan segehan Agung dengan tetabuhan dipersembahkan kepada sang Bhuta Dengen.

Diantar dengan mantra:

Ong ndah ta kita Sang Bhūta Ruwak Bhuana , Sang Bhūta  Kāla  Dengen  mwang wadwanira sedaya, , iki tadah sajin Ira penek manca  warna iwak ayam brumbun, winangun urip, katekeng saruntutania, manawi wenten kirang lan luput deng agung sinampura sang adruwe caru. Sirata nugraha dirga yusa sang adruwe caru. Iki jinah satak selawe lan lawe satukel. Tuku akena ring pasar agung.wus mangkana mawali ta kita kagenah sowang sowang sumurup kita manadi Sanghyang Tiga wiesa,pasang sarga ta kita ring Bhaāra siwa.

O śiddhir astu  swāhā

O Sapūra ya nama

         

II  . Ngerapuh

        Ngerapuh adalah mengalih fungsikan tanah atau melebur sawah / tegalan, , merubah tembok ( nguwad )pekarangan sebaiknya dibuatkan upakara pengingkup,  memindahkan( ngingsirang) bangunan seperti : pelinggih, Jineng, Paon dan tempat lainnya sebaiknya dituntun,apabila hal itu tidak dilakukan akibatnya tidak baik.

Banten Ngerapuh:

Ø  Daksina, Tebasan jaga Satru ( tumpeng bang sampyan andong bang, sekar taman, sekar mangle), tebasan Sapuh awu ( nasi sasah kelawu), canang wangi-wangian.

Ø  Sega Agung

Ø  Nasi Kojong

Ø  Nasi Wong-wongan

Diantar dengan mantra:

Pakulun Sanghyang Ibu Pthīwi,manusan paduka,pakulun aminta anugraha, ri paduka pakulun Sanghyang Ibu Pthīwi, mwang Sang Pamali Agung,mangkin manusan paduka pakulun angrapuh ayuwa amidanda,iki ganjaran katur ring paduka Sanghyang Ibu Pthīwi,, maduluran sarining canang wangi burat wangi,dakina maruntutan tebasan jaga satru,tebasan sapuh awu,sega agung mwang nasi kojong katur ring Sanghyang Pthīwi, mwah nasi wong-wongan katur ring Pamali Agung,neda amukti pwa sira dena becik,dena terepti,manusan paduka pakulun,aminta urip waras,dirga yusa.

 

    III. Ngeed sawah/Tegal ( Nyapuh Pundukan)

          Banten :

Ø  Pras Penyeneg  , rayuan putih kunig, katipat kelanan, ajengan.

Ø  Sesantun masari 727.

Ø  Ring natah carik caru bebek selem ( jejatah lembat asem 5 tanding,ketengan 33 tanding + sengkui kulit melayang.

Ø  Santun 1, parisuddha dening toya mawadah sangku temaga siratin mider ping tiga.

Diantar dengan mantra:

Ong Nini Pamali wates, kaki Pamali wates tan hana jurang pangkung,aku Ibu Pthīwi ngelebur sakaluwiring hala

         Ong bhūta sih,Kāla sih ,Dewa teka

         pūra.

 

IV. Upacara Asakap-sakap ( Ngingkup)

        Asakap-sakap maksudnya kawin antara yang punya tanah dengan tanah yang ditempatinya nanti. Upacara nyakap/ ngingkup bertujuan mempersatukan unsur skala niskala, agar ingkup atau bersatu secara utuh, sehingga terwujud keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan antara unsur sanghyang Widhi dengan seluruh manifestasi-Nya dan yang bersthana ditempat tersebut. Upacara nyakap atau ngingkup erat kaitannya dengan pelaksanaan pendirian tempat tinggal.

Bantennya :

Ø  Sanggah Tutuan, munggah suci asoroh maguling itik  ( nunas pesaksian majeng bhatara surya).

Ø  Disor ( beten sanggah tutuan) :

·         Sesayut Pengambeam ,  Pengulapan, Pras Penyeneng,Sodan

·         Penebusan

·         Gelar sanga

·         Pemangguh Pemali

·         Segehan Agung ( telur 3 butir, kelapa 3, benang dan uang kepeng.

·         Bubuh mawadah suyuk 5 tanding.

Diantar dengan mantra:

Ong Bhaāra sapu jagat ,ingsun bendesa sawah, I pasek Pacung,I Kabayan Badung, ingsun wus kalugraha ,de Bhaāra Siwa mangasahang lemah pesawahan (tegalan) iki, apan ingsun anak Bhaāra guru, wus ingsun mangasahang lemah ika wastu asah sih…3X, aja sira angadakaken gering,desti,pamala-pamali iki tadah sajinira sowang-sowang poma poma poma.

 

   Pakeling : .          

 

Mohon tirtha ring :

§  Kamulan

§  Dalem

§  Puseh

§  Bedugul

§  Surya

 

            Setelah selesai eedan upacara tersebut di

  atas :

Ø  Tancapkan cangkul.

Ø  Ambil tanah mawadah katipat Dampul dan katipat Nasi raris sambehang tanah  dibawah beserta semua banten ).

 

           Pakeling :

Untuk penyelenggaraan upacara, diantarkan dengan mantram tersebut diatas.

v  Apabila sudah dinyatakan selesai, lagi diupacarai, walaupun itu disawah, ladang,pekarangan perumahan, sama tata caranya, tetapi dengan memohonkan tirtha di pura Puseh, Dalem, dan Bedugul.

v  Yang boleh menyelenggarakan tata cara upacara Nyapuh :

Padadukuan wenang mputang yan sira weruh ring tataning nyapuh, hala phalanya, yan tan weruh teka mamurug, hala dahat kapanggih tekeng sang madruwe umah mang kana kadadinya.

 

Artinya :

Para Dukun/Balian boleh menyelenggarakan  upacaranya bila beliau tahu tata caranya, baik akibatnya, apabila tidak tahu lalu melanggar, amat buruk yang akan ditemukan oleh yang mempunyai  rumah, demikian akibatnya (Dra. Ni Made Sri Arwati, M.Si, 2009 ;19).

        Setelah rangkaian  upacara tersebut di atas dilaksnakan dilanjutkan dengan  upacara“ Nyukat” karang.Upacara ini dilaksanakan untuk mengukur secara pasti  luas tempat atau tata letak bangunan yang akan didirikan sesuai dengan konsep Asta Kosala-kosali dan Asta Bhumi.

 

V. Nasarin

        Upacara  nasarin  adalah  sebagai  peletakan  batu  pertama  atau   disebut Dengan upacara mendem (mulang)  dasar.  Upacara ini  didahului dengan upacara  permakluman kepada  Ibu perthiwi ,  dengan  mempersembahkan  upakara   sesayut Prethiwi ,  pejati  dan  upakara  lainnya.Pemendeman dasar bangunan biasanya dilakukan pada saat bangunan itu dirikan,tetapi ada juga dilaksanakan pada upacara  pemakuhan.

        Esensi  dari mendem dasar terutama tempat suci harus berdasarkan petunjuk ajaran Asta Bhumi dan asta kosala-Kosali , dan tidak terlepas  dari kerangka dasar agama yaitu : Secara Tattwa( filosofis), dasar  itu  adalah  lambang  dasar bhumi. Hal ini tidak terlepas dari  kemanunggalan  Bhuana  Agung  dan  Bhuana alit, secara Etika,merupakan  tata cara membangun  , yang  didahului  dengan  mendem dasar  ( mulang dasar), sebagai tatanan suatu bangunan dan     susunan  penataan  pendeman  sesuai   dengan petunjuk sastra agama. Secara  Sarana dasar  yang  akan dipendem  seperti  :  bata  ,   batu bulitan,kelapa gading, kwangen,uang kepeng, benang  tri  sedatu  beserta  eedan  bantennya, hendaknya selalu  dilandasi dengan ritual.

        Pada upacara ini ditanam sebuah bata merah   yang telah dirajah dengan Bedawang Nala yang bertuliskan Angkara dan bata merah dirajah dengan padma anglayang dengan aksara dasa aksara dibungkus dengan kain merah ,batu Bulitan yang dirajah dengan aksara Ang  Ung  Mang ,  dibungkus  dengan  kain  hitam  dan  di  isi   sebuah kwangen,dan klungah kelapa gading dirajah dengan aksara “ Omkara Gni “dibungkus dengan kain putih dan diisi sebuah kwangen.

Diantar dengan mantra :

Ong angawang angawang ulung-uliung kapwa kita  anadi watu kuma yasa ,anadi pwa kita kabaturan…( wewangunan) , indrang kita dening walening pande wesi kajenengan de Bhagawan Penyarikan, inastwa pwa kita menadi babaturan , ing urip denira Sanghyang Wiṣṇu,inastren denira Sanghyang Guru Wiesa, lumakune ring sarwa rogha sang angawe lawan sang ginawe,

Ong ayu wddhi,yasa wddhi, wddhi prajñān sukha śriya dharma Santana wddhi śca santute sapta wddhaya.

 

VI. Caru Menempati rumah.

        Caru menempati rumah dan pindah pindah kerumah baru sebagai penjaga rumah.

          Bantennya:

Ø  Daksinaberisi uang kepeng 500.

Ø  Tumpeng poleng 1, ulam taluh , setelah diupacarai ditanam di natah pekarangan rumah.

Ø  Satu tanding banten tebasan , pras dan tulung 3 tanding setelah diupacari dimakan.

Ø  Banten caru memakai darah  mentah satu takir  berisi hati satu buah,serta tumpeng ditanam di depan sanggah rong tiga/ kamulan.

Ø  Dan sebatang besi dipakai titi pada tempat keluar masuk( pemedal) pekarangan rumah diinjak terlebih dahulu barulah kemudian masuk ke pekarangan rumah (Dra. Ni Made Sri Arwati, M.Si, 2009 ; 19).

Diantar dengan mantra:

O  Sanghyang warisatu ya nama swāhā

Ih Sang Kāla Naga, Sang Kāla Bhumi,Sang Gumatap–gumitip, ampuranen raren ingsun,poma poma poma.

 

VII. Upacara membuat dan mematikan  Sumur.

      Banten membuat sumur  :

Ø  Daksinanya memakai kelapa sudamala,canang sari, nasi putih kuning lauknya telor asin / bekasem, pencok kacang,tipat kelanan, uang sesari 1700, tumpeng brumbun lauknya ayam brumbun.

 

Diantra dengan mantra :

O sanghyang Ibu Pthīwi, ingsun amutulana sarwa menga Bhūta Wigra apadapwak, dadi Dewa Yoni

O śri Jagat paduka bhyo nama  sang patang

Menimbun atau Mematikan ( ngematyang) sumur.

 

        Sebelum sumur diprelina/dimatikan, hendaknya yang bersthana pada sumur terlebih dahulu  dituntun/ dipindahkan  dan di sthanakan pada sumur yang baru,dengan sarana banten panuntunan daksina lingga memakai kelapa sudamala,setelah sthana beliau ditunun, baru dilaksanakan upacara mrelina.

Bantennya :

Ø  Daksina 1, nasi wong-wongan selem(hitam) lauknya siput(kakul),prasnya memakai tumpeng hitam lauknya pencok kacang,ayam hitam dibakar(pinanggang),dan jijih/biji padi ,injin semuanya dibungkus dengan tapis ,7 buah kwangen, dijadikan sarana penimbunan yang akan ditanam pada sumur, ditambahi nasi sasah 9 tanding matatakan don  tlujungandan klakat sudamala.

Ø  Ayam selem 1,yang masih hidup dipakai pakelem.

Ø  Caru ayam ireng(hitam) asoroh

Ø  Banten tebasan sapuh awu asoroh

Ø  Banten pengulapan, prascita, durmanggala byakaon.

Setelah selesai diantrar,maka semua banten tersebut diatas, ditimbun pada sumur yang akan diprelina sebagai pekelem.

Diantar dengan mantra :

Ong Nini Pamali Wates, Kaki Pamali Wates,tan hana jurang  pangkung,Aku Ibu Pthīwi anglebur  sakaluwiring hala

Ong śuddha sih,Kāla sih,dewa teka pūrna

O Sa,Ba,Ta,A,I ,Sang Patang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

MEMAKUH

A.    Memakuh

        Umat Hindu di Bali meyakini bahwa setiap bangunan yang sudah selesai dibangun dilanjutkan dengan upacara memakuh.  Memakuh  asal   kata   dari “ Bakuh “ artinya menyatu dan kuat. Dalam kaitan ini memakuh tujuannya menyatukan bagian-bagian bangunan  mulai dari pondamen, tiang dan atap ,sehingga berbentuk  suatu jenis  bangunan misalnya Meru Padmasana, Piasan, dan bangunan lainnya.

        Upacara memakuh dapat pula diartikan mewujudkan  bentuk bangunan dari bahan –   bahan : batu, pasir, semen,kayu, genteng dan bahan bangunan lainnya, menjadi  pelinggih,rumah. Dengan kata lain yang tadinya berupa tumpukan material, sekarang berubah menjadi bentuk bangunan yang mempunyai nama. Setiap bangunan yang baru selesai dibangun baik itu sanggah, pemerajan, pura dan kahyangan harus dibuatkan upacara makuh/ pengurip-urip dan kemudian dilanjutkan dengan upacara mlaspas. Ketentuan ini dapat kita jumpai dalam lontar Dewa Tattwa,yang bunyinya sebagai berikut :

 Nihan tingkahing angwangun kahyangan  Dewa, Riwus puput salwiring pakadanya wenang mlaspas alit, sesayut pengambean,pras penyeneng, suci 2 soroh,ring banten genahnya,mwangt ring sanggar ngawilang kwehning sanggar, iwak itik ginuling,away sasigar,teka wenang Brahma pandita anglukat wangunan ika”.

Terjemahan :,

“ Demikianlah tata cara membangun tempat memuja Hyang Widhi  Wasa, pada saat selesai  dibangun, segala peralatan /bahan (bangunan) wajib dibuatkan upacara mlaspas kecil, dengan sesayut pengambean,pras penyenng, suci 2 soroh di bebanten tempatnya, juga disanggar( tempaat memuja) menurut banyaknya tempat (linggih) memuja,daging itik yang diguling,jangan di pecah,dan seyogyanya Brahmana panditalah yang patut membersihkan /mensucikan bangunan itu.

        Dilaksanakannya upacara memakuh  sebagai ucapan terima kasih kepada gurunya dari para undagi yaitu Bhagawan wiswakarma yang juga merupakan arsiteknya seni bangunan para Dewa yang diwujudkan dengan memohon tirtha pemakuhan, serta segala peralatan tukang juga di ikut sertakan dalam upacara pemakuhan.  

        Dalam upacara memakuh yang terpenting adanya pengurip. Pengurip berasal dari kata “ Urip” artinya hidup. Maksudnya adalah segala unsur/ bahan yang digunakan untuk bangunan , diambil dari alam, yang dahulunya hidup. Misalnya : pohon/kayu, batu, pasir ,tanah dan bahan-bahan lainnya. Setelah pohon ditebang, batu dipecah, pasir dikeruk, tanah dibakar  dijadikan bata dan genteng, maka bahan-bahan itu mengalami  perubahan bentuk asalnya atau mati. Agar bangunan atau pelinggih yang dibangun tidak terdiri dari bahan-bahan yang mati, sudah sewajarnya bangunan tersebut dihidupkan ( di urip ) dan di adakan upacara “ Masupati “ dengan melaksanakan upacara pemakuhan. Masupati asal katanya “ Pasupati berarti menjadikan sakral. Bangunan atau pelinggih yang disakralkan dengan tirtha pasupati dan penorek/matatorek yaitu memberi tanda dengan warna : merah ( darah ayam), putih ( kapur/apuh) , dan hitam ( arang) .

        Dalam pelaksanaannya penorek pertama adalah kapur yang berwarna putih, sebagai lambng Siwa yaitu  Dewa Pelebur(Prelina),melebur /merelina segala yang kotor (mala), agar menjadi bersih dan suci, penorek yang kedua adalah darah ayam yang berwarna merah, lambang Brahma, yaitu pencipta(utpeti), dan yang ketiga adalah arang warnanya hitam, lambang Wisnu,sebagai Dewa pemelihara ( Sthiti)dan asaban cendana dengan warna kuning, lambang maha Dewa, sebagai lambang kesuburan dan kebahagiaan.

        Jadi upacara memakuh bertujuan untuk merubah bahan bangunan dari benda-benda mati, untuk dihidupkan dan disucikan dari segala  kekotoran bekas  manusia( letuhing tetampak manusia), dan kotoran bekas tali ukuran (letuhing taining sepat).

Banten Pemakuh :

Ø  Eteh-eteh pemakuhan asoroh

Ø  Daksina yang berisi uang 225 ,Pras Penyeneng, tipat kelanan, canang dengan nyahnyah  gula kelapa, pisang mas, urip-urip, tempayan dengan kumkuman,  dengan rumput ilalang 11 katih, semeti pahet, uang andel-andel berisi benang .

Ø  Daksina sagi-sagi.

Ø  Prayascitta, Byakaon

Ø  Caru Eka Sata menurut bulan  :

·         Ayam putih, bulan XII,I,I

·         Ayam Biying  ,bulan III, IV, V

·         Ayam buik kuning ,bulan IX, X,XI

·         Ayam Ireng, bulan VI, VII, VIII

·         Prayascitta, Byakaon

1.   Tata Cara Memakuh

 Sebelum upacara pemakuhan di mulai, terlebih dahulu :

1.   Tempat yang akan di upacarai ( terutama tempat suci dibersihkan disapu dengan rumput ilalang yang masih segar.

        Di antar dengan mantra :

Pakulun manira mangadakaken sapsapan  menyapa ken kari geteng wewangunaning ulun

śiddhir astu ya nama swāhā

 

2.   Sapsap ,mantra :

Ong ingsun ginawe śuddha, śuddha bhumi, śuddha kayu, śuddha wewangunan, śuddha sakluwiring ika śuddha wari astu ya nama swāhā

3.   Makarya tirtha Pembersihan,mantra :

Ong Idep Bhaāra pañca tatha gata mwang

Bhaāra Ratna trava Humandali Bajrodaka

O Ang Ung Mang nama

O Gagā śindhu Saraśwatī wipaśa kausikā Nādhi   Yamuā mahati sṛṣṭhah sarayū   mahati  Nādhi

 

Makarya Tirtha Pembersihan, dengan sarana pancopakara ( pegang bunga),mantra :

O anantāsana ya nama

O padmāsana ya nama

O Dewa pratiṣṭha ya nama

O Hrāng Hring Sa Parama Śiwa Āditya Ya nama Swāhā

O I, Ba, Sa, Ta, A

O ya, na, ma Śiwa, Mang Ang Ung nama

O Sa, Ba, Ta, A, I

O Nama Śiwa ya, Ang Ung Mang Nama

Raris sekar (bunga) dimasukan ke toya anyar mantra :

O Ang Gagā ya nama

O Ang Śindhū ya nama

O Ang Saraśwatī ya nama

    O Ang Wipaa ya nama

O Ang Kauikā ya nama

O Ang Yamuā ya nama

O Ang Sarayū ya nama

 

Raris masukan sarana pancopakara, mantra :

O śrī gandewśari amta bhyo nama    

O puspa dantā ya nama                         

O kung kumāra w ījā ya nama              

O agnir agenir jyotir ya nama swāhā

O Dhūpa samarpayami

Raris ngayab pasepan, mantra : Īś Ā ū ī   ṣṭ    Ś ñ ṣṇñā

O Ang Brahmā sandhyo ya nama

O Ung Wiṣṇnu sandhyo ya nama

O Mang Īśwara sandhyo ya nama

(Jro Mangku Sedana .S.Ag ).

Raris sekar (bunga) dimasukan ke toya anyar, mantra :

O Gaga Dewī Mahā Puya

Gaga jalañca medhinī

Gaga kalasa sayukta

Gaga dewī  namo’śtute

 

O Śrī Gagā mahā dewī

Saupama amtañjiwani

Ungkāra akara bhuwana

Padā amta manohara

 

O apśu dewī pawitrani

gaga dewī namostute

sarwa kleśa winasaya

toyane pariśuddhyate

sarwa pāpa winasini

sarwa rogha wimucane

sarwa kleśa winasana

sarwa bhoga awa- pnuya

(Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, 2003)

 

Raris toy aider tiga kali,mantra :

O Bhūr bhwa swa swāhā

mahā ganggayai tīrtha pawitani  ya nama

Raris masirat ring angga ping tiga, mantra :

O Ātma paripūra ya nama swāhā

O j īwita pari pūra ya nama swāhā

O sarīra paripūra ya nama swāhā

Raris akna biji, mantra : Īś Ā ū   ṣṭ    Ś  ṣṇñā ī

O idha bhaman para guhya

sarwa pāpa wināsaya

sarwa kleśa wiāsaya

sarwa rogha wināsaya nama

 

4.   Makarya tirtha Pengelukatan,mantra :

O sanghyang t īrtha kamandalu winadahan

kundi manik sira ta maka huriping sanghyang pthīwi

apah, teja, bāyu, ākāsa, sira ta maka huriping

Dewata kabeh tumurun saking swarga loka

anglukat, anglebur, pañca mala, daa mala kalukat

dening padānira Bhaāra mwang Bhaāri

Ong śiddhir astu swāhā

(Ida Bagus Putra Pudharta ,S.Ag, 2000).

 

Dilanjutkan dengan,mantra :

O gaga muncar saking pūrwa

Tininggalana telaga noja

Jambangan nira salaka

     Tinancebang tunjung petak pūra

Padyusan nira Bhaāra Īśwara

Pangilangan ning sarwa papa kleśa mokah hilang

O sang ya nama

O gaga muncar saking dakina

Tiningalana telaga noja

Jambangan nira tembaga

Tinancebang tunjung bang

Padyusan nira Bhaāra brahmā

Pangilangan ning sarwa wighna mokah hilang

O bang  ya nama

 

O gaga muncar saking paścima

Tiningalana telaga noja

Jambangan nira mas

Tinancebang tunjung jenar

Padyusan nira Bhaāra mahadewa

Pangilangan ning sarwa pataka mokah hilang

O tang ya nama

 

O gaga muncar saking uttara

Tiningalana telaga noja

Jambangan nira wesi

Tinancebang tunjung ireng

Padyusan nira Bhaāra Wiṣṇnu

Pangilangan ning sarwa pataka mokah hilang

O Ang ya nama

 

O gaga muncar saking Madhya

Tiningalana telaga noja

Jambangan nira amañca wara

Tinanceban tunjung amañca wara

Padyusan nira Bhaāra śiwa 

Pangilangan ning dasa mala mokah hilang

O Ing ya nama

(Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, 2003)

 

Dilanjutkan dengan,mantra :

Ong Ang Brahmā  dhīpa  makadi sanghyang tiga mūrti eka jñāna jute suci sanghyang nirmala jñāna sarwa bhakti kararaban kerampuhan kinamelan kapletikan dening odak kararaban dening  roma,  kaiberin dening ayam, kalangkahin dening sona, kacecel dening wong rare, kacamahan dening wong campur, katiben ala, ujar ala,ipen ala, tuju teluh trañjana, ika pratiṣṭha kabeh dening

tīrthan bhaāra śiwa mūrti sakti,  wastu punah ilang mala pratakaning bhakti

O śiddhir astu ya nama pūra

O śuddha śuddha śuddha astu,pariśuddha astu śuddha  ākāsa, śuddha bhumi,śuddha wighna, śuddha mala, śuddha pāpa kleśa kaśuddha denira sanghyang tri loka nātha

O śiddhir astu tathā astu swāhā

 

Risampun puput ngastawa tirtha pengelukatan, raris masirat ring awing-awang ping tiga ,mantra:

O Ātma tatwa ātma śuddha mām swāhā

O kama sapūra ya nama

O śrī paśupataya hung pha ya nama

 

5.   Menghaturkan penegresikan (tepung tawar, prayascitta, Lis,isuh-isuh,Byakaon,nebusin)  tiga ,mantra:

O Bhaāra guru angeresiki, anepung tawarin, angelisin,  sarwa Dewa pañca rana,pañcamaya umilangaken, sarwa mala pāpa kang leteh pateletehing sapari krama

O kama sapūra ya nama swāhā

 

Dilanjtkan menghaturkan Prayascitta, raris siratin banten ping tiga, mantra :

O O Wiṣṇu ya nama

 

O śiddhir Guru srong sa osa      

sarwa wighna ya nama

sarwa kleśa winasaya

arwa rogha winasaya

sarwa satru winasaya

sarwa duṣṭa winasaya

sarwa pāpa winasaya astu ya nama swāhā

(Ida Bagus Putra Pudharta, S.Ag, 2000).

 

 

Dilanjutkan dengan mantra :

O  I, Ba, Sa, Ta, A, sarwa mala prayaścittaya nama swāhā

O Sa, Ba, Ta, A, I, sarwa pataka, lara rogha Wighna  prayaścitta ya nama swāhā

O A, Ta, Sa, Ba, I, sarwa kleśa, daśa mala Geleh pateleteh   prayaścitta ya nama swāhā

 

6.   Puja tirtha Durmangala ,mantra :

                 O mtyun ca rakta mara ya

sarwa rogha upadrawa

pāpa mtyu sangkara

sarwa kāla-kālika syah wigraha

ngawi padā, susupna durmanggala,

pāpa krodha wināsaya

sarwa wighna wināsaya nama

O kama sampūra ya nama swāhā

(Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, 2003)

Saa :

Sa, Ba, Ta, A, I, sarwa Bhūta ya nama swāhā

ndah ta kita sang Bhūta Durmangala,sang bhūta Durmangali, sang Bhūta Durwesa – Durwesi, manusan nira apaweha sira tadah saji Durmangala, iki tadah sajinira , Ngeraris amukti sari wus sira amukti sari, aluare sira ri prewatekking sarwa pinuja, ri prewatek parhyangan  Dewa mwah ring manusan nira sang ngabhakti, pasangsarga sira ring Bhaāri Durgā,

Ang Ah Amta Bhūta ya nama swāhā .

 

7.   Puja tirtha Pengulapan ,mantra :

Ong pakulun sanghyang teja pengulapan angulapaken saluwiring kayu rebah,angadeg ring wewangunan   hulun mangunang rahayu śiddhir astu ya nama swāhā

Dilnjutkan dengan nyiratang tetabuh ( arak tuak berem).

 

8.   Puja menghaturkan Byakaon, mantra :

O Ung Ra pha astrā ya nama

O Ātma tatwa ātma śuddhamām swāhā

O kama sampūrna ya nama swāhā

O pthama śuddha, dwitya śuddha,

Tritya śuddha, śuddha, śuddha, wariastu

 

Mempersembahkan Byakaon terlebih dahulu usapi dengan telor ayam, mantra :

O antiganing sawung pengawak

Sang hyang gala candu sagilingan

Pangilangan malaning wewangunan

O sa wausa nama

O Bang Bāma Dewa ya nama

O Dewa Bāyu angibaraken lara rogha

lara wighna pāpa kleśa

Ong Sang Bhūta Nampik Mala

Sang Bhūta nampik lara

Sang Bhūta nampik rogha

undur akena sakwehing lara rogha wighna

O kama sampūra ya nama swāhā

(Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, 2003)

 

9.   Nebusin, mantra :

O pūra candra, pūra bāyu, den kadi langgenging sūrya candra,mangkana tetep pegehing wewangunaning hana kene phala bhoga, anggatyani sabda rahayu, ametu aken ratna kencana

O sa wausa ya nama swāhā

( Drs K M . Suhardana  ).

 

10.  Menghaturkan lis Byakaon dan lis Prayascitta,mantra :

O bhumi ginawe śuddha

śuddha bhumi śuddha giri

śuddha brahmā, śuddha astu

tathā astu ya nama swāhā

O taya taya nama swāhā

 O mala lukat ya nama swāhā

 O dwi mala lukat ya nama swāhā

 O taya taya śuddha taka, ngicalang wigha

 saluwiring malaning wewangunan

 O kara sarwa nirmala ya nama swāhā

 O pakulun Bhaāra Śiwa agni, apan sampun jangkep

 tengerin tri bhuwana, mangkin ngadeg ring lis pabyakaonan

 mwang lis prayascitta

 O pthama śuddha, dwitya śuddha,Tritya śuddha, caturta

 śuddha, pañcami śuddha,Sadmi śuddha, saptami śuddha,

 śuddha, śuddha wariastu tathā astu astu ya nama swāhā

 

Dilanjutkan dengan ngosokan lis ,mantra :

Ong  pakulun sang janur kuning, ngadeg ta sira tumurun

Bhaāra Śiwa, hulun angaturang lis deddeg busung mareka

maringgit,winastu den sira Dewa Śiwa,  maka ron sarwaning laluwes

Ong lis jati semat jati angeseng dasa mala ,leteh,reged  wewangunan….( nama wewangunan) pegat ilang ya nama swāhā

O pūra sūrya pūra candra

O śuddha kleśa śuddha pataka sarīra utuh Dewa sari bersih ya nama swāhā

 

11. Toya penyapsap( priuk berisi ilalang 11

 katih),mantra :

O  ngadeg Bhaāra Guru angawe pemari śuddha ,bhumi śuddha dewasa śuddha, wewangunan śuddha, śuddha wariastu ya nama swāhā

 

12.  Pemakuhan ( sarana bungkak gading,

bunga empat warna, air cendana, samsam bija kuning lenga wangi, burat wangi, dupa tiga   batang  mantra :

Ong Sanghyang Guru Reka angerka ayu,angereka salah śuddha sukma

Ong Sanghyang Saraśwatī ya nama

Ong idepku sanghyang Paśupati,ling Sanghyang  Saraśwatī

Ang Ung Mang

Ong Dewa- dew ī adiyus ya nama swāhā

O Wiswakarma prayojana, ayu wddhi ya nama swāhā,

Bhuana ktha ya nama swāhā

 

13. Ngetok sunduk dan Lait.

 Ngetok Sunduk, mantra :

Ngadeg Bhaāra Semara Ratih matemuang Ageni astu Ang Ah

 Ngetok lait, mantra :

Ang Ang Ang Ah Ah Ah

Ong ingsun anangun sawen ana ring merca pada , anging Idewa Gunung Agung  anglunganing kakang, anangun sawen ring merca pada Rambut Rangkung panjang umur, jeng jeng jeng

Ong Pth īwi  ginawe kayu,, kayu ginawe jadma, aku ginawe bale urip kayu urip manusa, teka pada urip,urip urip.

O śiddhir astu ya nama swāhā

Pakulun Ida retuning kayu saluwiring, angadeganing sira maring lemah, kajenenganing sira Sanghyang Rambut Kāla.

Ong Sanghyang Naga meleleh uriping Bhuana, teka urip teka urip.

Dilanjutkan dengan ,mantra :

Ong kayu bah maring pūrwa, kayunira Bhaāra Īśwara

Ong kayu bah maring Dakina kayunira Bhaāra Brahmā

Ong kayu bah maring Paścima kayunira Bhaāra Mahā Dewa

Ong kayu bah maring Uttara kayunira Bhaāra Wiṣṇu

Ong kayu baha maring Madhya kayunira Bhaāra Siwa rinebah dening sanghyang Besawarna, rinaksanen dening Sanghyang Tunggal mekadi ya wewangunan,…( ucapkan nama wewangunan).

Semeti, mantra :

Ong upi sanga gawenku teka pada urip 3X.

Samsam ,mantra :

Ong pakulun kadi sambehaning nyadnyad, sambehang

letehing wewangunan hulun, poma,poma,poma .

Buu ,mantra :

Ong  śuddha wighna, śuddha danta upata, śuddha, śuddha śuddha, śuddha waria astu ya nama swāhā

Bija kunig, mantra :

Ong  prejayeng sarwa doh, śuddha mala, śuddha, rogha, śuddha, wighna , śuddha pataka, śuddha dasa mala, śuddha danda mala

Ong jayeng parama ya nama swāhā

Ong bija sakara suci nirmala ya nama swāhā

 

Dilanjutkan dengan nyambehang bija kuning pada bangunan yang dimakuh dengan mantra:

pakulun ingsun nepung tawarin ,tatuning taru ingalangaken sebeling kayu ,teka pūra,teka pūra

Baas Daksina, mantra:

O Siwa sampūra ya nama swāhā

Tatebus ,mantra :

Jaya Ang Ang Ang Ah

 

14. Mengolesi dara ayam ,sebelumnya  ayam di lukat , mantra :

Pakulun sira sang wewangunaning hulun , sira ta getihira,kalanan dening getih ayam sampun kalenan, lukata prasiddha maaradan sira ayu ingsun kayu, kalukat kabeh  sami pada lukat, ring tulah kalawan sarik,pakulun pada rahayu .

 Ong Mang Gung

 Ang Ong Gong

 Ang Gung Mang ya nama swāhā

 śiddhir astu tatha astu ya nama swāhā

Penorek :

·         Getih      :  O Ah  symbol Dewa Brahma, wrana merah.

·         Adeng     :  O Ang symbol Dewa Wisnu,warna  hitam.

·         Pamor     :  O Mang symbol Dewa Siwa, warna putih.

 

15. Memercikan tirtha Pengelukatan, mantra :

O pañca akara mahā t īrtha pawitra pāpa nāsana

pāpa koi saha śrana

O śriya bhawantu

sukha  bhawantu

pūra bhawantu

O Hrang Hring sa parama Siwa amta ya nama swāhā

 

16. Sarana Pengurip-urip, mantra :

Ong ngadeg Bhaāra Bāyu ,maka uriping rat Bhuana kabeh,angawe pengurip-urip Ang wewangunan urip ,Ang sang angawe weangunan urip Ang sang anganteb wewangunan urip teka urip,pada urip…3X.

Ang …Ah 3X.

 

17. Pengurip , mantra :

O Sa,Ba.Ta,A,I Na,Ma,Si,Wa, Ya

O Wiswakarma prayojane kthadnyana Ayu wrddhi ya nama , Bhuana ktha ya nama swāhā

O Siwa Sada Siwa Parama Siwa Sunia Siwa sor luhur kauripan temwuh urip wetan, urip kidul,urip kulon urip lor,urip ring Madhya ring sor, ring luhur, kaurip de Bhaāra Siwa

Ong teka urip, teka urip śrī bagia ya nama swāhā

 

18. Nganteb banten pemakuhan ,mantra :

Pakulun Bhagawan Wiswakarma saksinin manusanira angaturaken tadah saji pawitra saprekaraning saji pemakuhan, ipun angidep amakuhaken wewangunan...

(nama wewangunan ) asung krtha anugraha mapica tīrtha pengelukatan,anggen angelukat letuhing taining sepat, letuhing tetampak manusa, kalukat kalebur matemahan suddha nirmala ya nama swāhā

O pthama śuddha ,dwitya śuddha, tritya śuddha, caturta śuddha, Pancami śuddha ,sadmi śuddha saptami śuddha, śuddha, śuddha, śuddha śuddha wariastu anerus maring swarga pariśuddha

       (Percikan tirtha pemakuh pada banten pemakuhan) .

 

19. Pemahatan mantra :

Pakulun Bhagawan Angarasti ikang kayu, Sanghyang Indra dewataning taru duk binolong Sanghyang Citra Gotra Dewataning tatah, Sanghyang Punggung  Dewataning pengotok

Ong terus Patala ya nama swāhā

 

 

                               BAB IV

                          MELASPAS

A.    Melaspas

        Upacara mlaspas wajib dilakukan oleh umat Hindu di Bali ,dan sudah menjadi tradisi secara turun temurun .Melaspas dalam Bahasa Bali memiliki arti “Mlas artinya pisah dan pas artinya cocok. Dilaksanakannya upacara pemelaspasan ,karena bangunan tersebut terbuat dari berbagai unsur yang berbeda yaitu : ada yang dari kayu, ,batu, bata,tanah ,dan bahan bangunan lainnya, kemudian disatukan sehingga terbentuklah sebuah bangunan yang layak(cocok) untuk ditempati. Upacara Mlaspas ini diadakan ,agar nantinya orang yang akan menempati bangunan tersebut merasa aman,  nyaman, betah dan terhindar dari gangguan-gangguan yang tidak dikehendaki,maka bangunan yang baru selesai  harus diplaspas. Apabila  rumah yang belum diplaspas  ditempati akan ditadah  oleh Sanghyang Kala Ngaran.

        Tujuan upacara pemelaspasan adalah untuk membersihkan atau menyucikan   (  menyuddha   mala  )   bangunan    dari    leteh  kotor ( reged,mala ) , serta untuk menjadikan bangunan itu kokoh dengan memasukan unsur-unsur tenaga ( bayu) didalamnya. Upacara melaspas dapat digolongkan dalan tiga tingkatan, dan dilaksanakan sesuai kemampuan. Adapun tingkatan upacara melaspas sebagai berikut :

1.   Uttama   :  upacara tergolong besar  

2.    Madhya  :  upacara tergolong sedang

3.   Kanista   :  upacara tergolong kecil

 

Upacara Mlaspas tingkat Kanista( alit).

Ø  Banten ke Surya      : Pras daksina, suci sorohan dan soda canang.

Ø  Banten melaspas alit :  eedan pemelaspas, sorohan putih/kuning, tumpeng Agung(bebek guling),tumpeng putihkuning(ayamputih), prayascitta luwih,sayut pengambean jerimpen pajegan,sesayut pembersihan 11 soroh, Lis kelapa hijau dan kelapa gading, pemiak kala, pengulapan asoroh, penyeneng, canang tubungan, pengeredan, eedan pesucian,canang pengeraos, Suci  asoroh, pras daksina , Daksina sagi-sagi dan tehenan,segehana cacah.

Ø  Caru panca sata beserta eedannya.

 

Upacara melaspas tingkat Madhya  :

Ø  Banten munggah  disurya 

Ø  Banten melaspas Madhya : Suci 2 soroh,pula gembal sekartaman,prayascitta luwih, sesayut pengambean, pengulapan  solasan duang likur, tumpeng guru ( bebek  putih diguling), tumpeng putih kuning ( ayam putih), daksina gede 1, santun genep,rantasan dengan pesucian, kukusan baru, sibuh pepek. Pras lis, tepung campah ,isuh-isuh,rerakih ,tetebus, gelar sanga,segehan manca warna,tetabuhan arak, tuak,berem, dan api takep.

Ø  Caru panca sata beserta eedannya.

 

Upacara Melaspas uttama :

Ø  Banten munggah di Surya

Ø  Banten melaspas uttama:Guling bebangkit 1 soroh,suci 2, pengulapan pengambean tulung sesayut,sanga urip, pras  rayunan,sapsap gantung-gantungan, rantasan, pesucian dengan pras lis, tepung tawar,isuh-isuh buhu-buhu,rerakih,katipat lepas, tumpeng dandanan pras ayamsepelaken ( ayam putih jantan dan betina) dipanggang untuk persembahan Bhanapati raja.

Banten plaspas :

·         nasi kandik daging ancruk dengan uang kepeng 9

·         nasi timpas daging belalang dengan uang kepeng 7

·         nasi pahet daging sebatah dengan uang kepeng 5

·         nasi penyurutan daging pangi dengan uang kepeng 4

·         nasi panpatil  daging beneapelas dengan uang kepeng 1

·         nasi siku-siku daging payah dengan uang kepeng 3

·         sege sepat daging klentang dengan uang kepeng 7

·         mabala kojoh dengan uang kepeng 7

·         nasi pangutik daging kecai dengan uang kepeng 1

·         nasi pajungut daging kacang komak dengan uang kepeng 1

(Ida Bagus Anom, 2002 ; 70-71).

Ø  Caru panca sata beserta eedannya.

 

Pada waktu  upacara melaspas harus memasang sebagai berikut :

1.   Akah pedagingan

2.   Orti

3.   Ulap-ulap

 

Akah Pedagingan

        Mendem  atau mulang akah pedagingan merupakan rangkaian upacara melaspas untuk memfungsikan dan menghidupkan bangunan atau pelinggih.Akah Pedagingan yang ditanam didasar bangunan atau pelinggih terdiri dari Panca Datu yaitu :emas ,perak,tembaga,besi dan permata. Kelima unsur  panca datu sebagai symbol isi bhumi. Semua unsur panca datu dirajah dengan aksara “ Dasa bayu “ : Om,I ,A,Ka,Sa, ma, Ra, La,Wa,Ya. Setiap yang diplaspas, baik itu pelinggih atau bangunan lainnya harus dilengkapi dengan akah pedagingan yang ditanam dibagian tengah bangunan ,kelima macam pripih tersbut diatas dibungkus dengan kain putih dan di ikat  benang tri sedatu serta dengan penyugjug yang terbuat dari carang dapdap cangga tiga sebagai sarana penuntun. Jadi akah pedagingan merupakan isi dari bagunan suci yang berfungsi sebagai penarikan kekuatan sepiritual.

 

Orti

        Puncak upacara melaspas umumnya disertai dengan menancapkan tiga jenis bentuk banten yang disebut  Orti”, yaitu : Orti Temu,Orti Ancak ,dan Orti Bingin. Ketiga jenis Orti ini menggambarkan makna dari rumah tinggal. Orti Temu sebagai symbol yang melukiskan  rumah tinggal , setelah diplaspas bukan merupakan rangkaian bahan-bahan bangunan yang bersifat sekala semata, tetapi secara niskala rumah itu sudah hidup ( maurip). Orti Ancak sebagai  lambang untuk mengembangkan kehidupan yang baik dan benar. Orti Bingin sebagai lambang  kelanggengan atau gambaran terpenuhinya segala keinginan. Bingin juga disebut “ Kalpa Taru“ pohon yang akarnya berada disurga. Sedangkan cabang daun,bunga, dan buah berada di bhumi Orti Bagya artinya gambaran kebahagiaan. Dan Orti Bagia , Palakerti    di ikatkan dipuncak bangunann. Makna orti adalah  pemberitahuan bahwa bangunan tersebut sudah disucikan.

        Kesimpulannya dengan ditancapkan gambaran kalpa taru ( beringin yang disebut orti pada puncak bangunan itu adalah merupakan suatu pengharapan agar bangunan itu bisa mendatangkan kebahagiaan dan terpenuhinya semua keinginan bagi penghuninya.

 

Ulap-Ulap

        Sudah menjadi tradisi umat hindu di Bali, bahwa setiap bangunan yang akan diplaspas selalu disertai dengan ulap-ulap. Ulap-ulap merupakan suatu symbol dan sebgai sarana untuk memanggil suatu kekuatan atau sinar suci dari Ida sanghyang Widhi wasa , dan untuk menjiwai suatu bangunan. Ulap-ulap di buat dari   selembar (secarik) kain putih  dengan ukuran  tertentu berupa  rerajahan aksara ,yang bermakna mensakralkan bangunan pelinggih. Ulap-ulap berasal dari kata ulap yang berarti lambai sebagai tanda memanggil. Jadi ulap-ulap fungsinya untuk memanggil, yang dipanggil adalah apa yang tersurat dalam ulap-ulap tersebut.Ulap-ulap juga merupakan perlambang  adanya cahaya atau sinar suci  dan juga sebagai sarana pelengkap upacara mlaspas.

        Proses pembuatan ulap-ulap melalui beberapa tahap diantaranya persiapan alat-alat ,penyucian alat, peroses pelukisan( rerajahan) ,dan proses pengurip-urip yang di laksanakan oleh sulinggih. Dan ulap-ulap itu sesuai dengan tempat yang diplaspas , seperti padmasana ulap-ulapnya bergambar “Acintya “ dan Padma Anglayang dilengkapi dengan dasa Aksara suci yaitu  SANG, BANG ,TANG, ANG ,ING ,NANG, MANG, SING WANG YANG  dan gambar dari Sembilan buah senjata para Dewata  Nawa Sanga : BAJRA( ISAWARA),  DHUPA (MAHESORA), GADA( BRAHMA), MOKSALA ( RUDRA), ANGKUS (SANGKARA),CAKRA ( WISNU),TRI SULA(SAMBHU), dan PADMA (SIWA).Untuk bangunan selain padmasana, ulap-ulapnya tidak memakai gambar Acintya, artinya disesuikan dengan pelinggih. Sedangkan untuk bangunan tempat tinggal ulap-ulapnya dirajah dengan Dasa  Bayu.

        Secara singkat dijelaskan bahwa ulap-ulap mengandung tiga asfek yaitu : satyam Siwam Sundaram. Asfek Satyam atau kebenaran pada aula-ulap dijelaskan dalam  rontal Asta Kosala Kosali, Dewa Tattwa, dan Siwa Sidhanta. Asfek Siwam atau kesucian  dalam ulap-ulap  terletak pada proses pembuatan yaitu mulai dari mempersiapkan bahan sampai,pelukisan, disertai dengan upakara  dan mantram-mantram khusus. Asfek Sundaram atau keindahan pada ulap-ulap terletak  pada bentuk lukisan( rerajahan) .

        Uraian tersebut  di atas menunjukan bahwa pengertian dalam kreteria ulap-ulap terkandung tiga pengertian yaitu : Pertama sebagai  para Dewa-Dewi,baik berupa gambaran maupun berupa aksara yang dimohonkan  keselamatan ,yang terkait dengan  Dewa yadnya.Kedua, sebagai symbol baik berupa gambara maupun  aksara pada secarik kain/kertas untuk membersihkan segala kotoran pada saat proses mengerjakan bangunan,agartidak huni oleh  roh-roh jahat  yang mengganggu kehidupan manusia .Ketiga, sebagai symbol upasaksi  kehadapan Ibu Prethiwi bahwa tanah  yang semula memohon keselamatan, untuk membersihkan segala kotoran, dan sebagai symbol upasaksi kehadapan Ibu Perthiwi bahwa tanah yang semula  merupakan tanah sawah, ladang/tegalan,pangkung/jurang dirubah statusnya menjadi pura, perumahan,pertokoan , atau peruntukan yang lainnya.Dimana dalam upacara ini lebih menekankan kepada upacara Bhuta yadnya dengan menanam Panca datu, disamping menggunakan  bahan material juga tulisan aksara sucinya( Waktra, dkk. 2009 ; 33-35).

        Jadi kesimpulannya bahwa setiap pelinggih atau bangunan yang di plaspas harus dilengkapi dengan akah pedagingan, orti, dan ulap-ulap. Jika tidak demikian maka dalam Rontal Sanghyang Aji Swamandala disebutkan sebagai berikut : ……..” mwang yen ngewangun kahyangan tan mapedagingan, nista ,Madhya, uttama, luwire wewanguane, mearan Asta Dewa, dudu kahyangan Dewa ika, dadi umahing detya kubhada, tan pegat nandang wiadin sang madruwe Kahyangan ika sami mangguh kageringan, mekadi mati salah ton, kerangenkaning “Bhuta pisaca”

Artinya :

 ………. dan lagi jika membangun tempat suci tidak di isi “ pedagingan” baik dalam bentuk sederhana ,menengah maupun utama serta kelengkapanya, bangunan itu cacat, bukan sthana para Dewa , bahkan ditempati setan, menjadikan yang punya mendapat  rintangan, skit-sakitan, mungkin saja mati mendadak, atau dikuasai  setan.

Tata Cara  Melaspas  :

1.   Ngastawa Surya,mantra :

O Āditya śya paramjyotir,

raka teja namo’śtute

sweta pangkaja madhyaste                                                               

bhāskāra ya namo nama

 

O O shi sūrya saha śresu

tejo raso jagat pate,

anukha paya bhaktya

ghya mana Dewa kara ya namo’śtute

O hrāng hring paramaśiwa Raditya ya nama

O Hrāng Hring sa sūrya ya nama

O Hrāng Hring Śiwa sūrya para tejo

Śiwa rūpa ya namo nama swāhā

 

 

O prenamya bhāskāra Dewa

sarwa kleśa wināsana

Prenamya Āditya śiwatha

Bhūkti mukti wara prada

O Hrāng Hring sa parama Śiwa āditya Ya nama swāhā

 

Saa :

Nastuti pukulun paduka Bhaāra Sūrya candra lintang tranggana, makadi Sanghyang Trayo daa saksi, saksinin aturan pinakenghulun, angaturaken saprekaraning piodalan lan pecaruan, akedik aturan pinakenghulun Agung pinakeng hulun amelaku, mangda tan keneng cakra bhawa tulah pamidi

O Śiddhir astu pujaning hulun.

( Drs. I. B. Putu Sudarsana, MBA.MM, 2001 )

 

2.   Pengastawa Tiga Guru, mantra :

O Dewa dewī tri Dewana

Tri mūrti tri ligana

Tri purua śuddha nitya

sarwa jagat jiwa ātmana

O guru dewa guru rūpa

Guru madhya guru pūrwa

Guru pantara dewa

Guru dewa śuddha nitya

O brahmā wiṣṇu īswara dewa

Jiwa ātmana tri lokana

sarwa jagat pratiṣṭhāna

kleśa śuddha  wināsana

O Guru dīpata ya nama swāhā

(Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda,2003).

 

3.   Ngastawa sang Hyang Ibu Prthiwi, mantra :

Ong Ang pthīwi sarīra Dewi

catur Dewi mahā Dewi

catur Āśrama bhaāri

śiwa Bhumi mahā śiddhya

Ong śri Bhasundari jiwa Amta ya nama swāhā   

 

Saa:

Nastuti pukulun paduka Bhaāri Ibu pthīwi, saksinan  Pangubhaktian  manusan nira angaturaken tadah saji pawitra, ipun angidep amelaku yadnya pemlaspas ring wewangunan ulun,…. Asung kertha anugraha

Bhaāra manugraha kemertaan ring Bhuana Agung miwah Bhuana Alit,   manadi ngemangguhin kedirghayusan ring kauripan.

    (Drs.I.B.Putu .Sudarsana, MBA.MM,2005).

 

 

 

 

4.   Ngaturan pasegehan iringan Bhatara ,mantra:

Ong sang Bhūta bhucari Sang Kāla bhucari

Sang Durgā bhucari manusannira aweh saji ring ira, iki tadah sajinira segehan maiwak bawang jahe, pada suka ta kita amangan anginum Asing kirang asing luput, den Agung sinampura sang adruwe karya.

 

 Raris metabuh arak berem dan toya ,mantra :

Ong Kāla bhokta ya nama

Bhūta bhokta ya nama

Durgā bhokta ya nama

Piśaca bhokta ya nama

Ong Ang kang khaol kaya swasti – swasti sarwa Bhūta kāla bhokta ya nama.

 

 

5.   Ngaturang tegteg Tehenan,mantra :

Ong pakulun paduka Bhaāra Jagat Nātha, puniki manusa nira angaturaken  sarwa bhuta bhuti tegteg / tehenan maka miwah tapakan,  mabras akulak,lawe atukel, majinah satak salawe,magalihan maktihan,  samangkana aturan manusan nira, manawi wenten kirang wenten luput   manusan nira aneda, Agung sinampura

Ong śri ya we namu nama swāhā.

 

6.   Piuning Seha  ,mantra :

 O pukulun paduka Bhaāra .... Hulun handa sih waranugraha ring pukulun paduka bhaāra, pinakeng hulun angidep anguntap anuhur paduka Bhaāra, mangda ledang paduka Bhaāra temedun malingga malinggih ring aworing kukus arum,kairing antuk asanak widyadara widyadari anglurah agung alit mwng kala sedahan makabehan,manusanira angaturaken tadah saji  pelmaspasan,manusanira amlaspas aken wewangunan…(sanggah / bangunan lainnya), asung kerta anugraha paduka Bhaāra pada amukti sari, anodya hanyaksinin, hamutaken saturan manusanira, akedik kangsun hangaturaken gung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan ledang paduka Bhaāra wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa denira hyang sinuhun

O śiddhir astu tathā astu ya nama swāhā

 

7.   Pengastawa ngingkupan Bhatara ring banten Peneyeneng, mantra :

O  nama Dewa adiṣṭhanaya

sarwa wyapi  wai siwaya

Padma asana eka prahista ya

Ardhanareśwari ya nama swāhā

Ang Ah ardhanareśwari ya nama swāhā 

 

Dilanjutkan Puja penyeneng mantra :

Ong pangadeganing sang janur kuning siwa rining giting Guru tinutus dening prewateking Dewata kabeh kajenenganing prewatek Dewata, Sang,bang,Tang, Ang, Ing, nang, mang,Sing,Wang,yang, Ang,Ung,Mang, Ong.

(srana sekar genahang ring penyeneng).

 

8.   Caru wewangunan,mantra :

Di awali dengan ngundang Bhuta seperti eedan caru biasanya. Setelah itu dilanjutkan dengan mantra :

Pakulun manusanira angaturaken  tadah sajinira sang Kala

kabeh,   sampun tan kataman lara rogha sang adruwe caru

O śiddhir astu ya nama swāhā

 

O ayu wddhi yasa wddhi

wddhi prajñan sukha śriya

Dharma Santana wddhi śca

Santute sapta wddhaya

 

Yasa wddhi tuso dewa

Yawat gaga mahi tale

Candrarkau gagana tawa

Sapta twi jayeng bhawet

 

O dirgha astu tathā astu

O awighna astu tathā astu

O subha astu tathā astu

O śriya bhawantu

O sukha bhawantu

O pūra bhawant

Sapta wddhi astrā ya nama swāhā

 

9.   Pengastawa Bhagawan Wiswakarma ( Dewanin g undagi),mantra :

Ong pakulun angadeg sira bhagawan Wiswakarma, mangkin manusanta angaturaken sarining pengurip,sarining pengulap, sarining pemlaspas, mangkin Sanghyang parwa Guna ayuwa angrubeda manusanta,apan ayu paripolahta, urip manusanta malar samangkana ayu kapangguh

O śiddhi mandi panugrahan Bhagawan Wiswakarma

O Brahmā Wiṣṇu Īśwara Siwa satya

O Ang mang Hyang Paramawiesa mūrti satyam,angurip sarwa tumuwuh,angurip Bhuana kabeh,urip ring wetan,urip ring genean,urip ring dakina,urip ring neritya, urip ring kulon, urip ring waya bya,urip ring lor, urip ring madhya, urip ring sor,urip ring luhur, pada urip denira Sanghyang Parama Wiesa mūrti satyam, mapupul dadi sawiji matemahan Sanghyang Ayu Wati Asri, ana rawating śrya pasang muruking Bhuana urip , amanhyang amta kenawa urip jeng

O śri bagia ya nama .

 

10.        Pengastawa Bhagawan Byasa( Dewaning pemlaspas),mantra :

O Na,Ma,Si,Wa,Ya

Pukulun paguka Bhagawan byasa maka dewaning pemlaspas tumurun saking swarga angadeg ring maghyaning Bhumi, saksinin manusanira angaturaken tadah saji pemlaspas, manusanira angidep,amlaspas aken wewangunan…(  nama wewangunan yang diplaspas),asung kreta anugraha sira amelaspas aken wewangunan ipun mangda tan keneng cakra bawa tulah pamidi de Bhagawan Wyasa mwah ri prewateking Dewata kabeh, Sang,Bang,Tang ang ,Ing, nang, mang,Sing, Wang, Yang, Ang ,Ung, Mang,

Ong ya nama swāhā

 

11.        Nyiratang toya pemlaspas,mantra :

Ong umar maya gumurub mijil agni medal saking Wiesa idepku traju manic hening,hening,hening,

Ong Bhumi tinawe, bhumi śuddha, śuddha ayu, śuddha nirmala, Dewa metu ila cobemer, śuddha mala neher sarira tuwuh ,

O Siwa karya praśiddha ya nama .

 

12.        Plaspas mantra :

Pakulun ingsun angulikaken kayu ginawe umah, bale, meru, sanggar,kahyangan, yan tan karebonan kadening manusanira paduka bhatara kajenengang dening Pañca Rsi, Sang Korsika, sang garga, sang metri, sang Prtanjala, sang kurśya, , maka ngini kajenengangde bhagawan Pañca wara : Umanis, pahing ,Pon,Wage, kliwon. Kajenengang de bhagawan Sad wara :Tungleh Aryang, urukung, Paniron Was, Maulu.Kajenengang Bhagawan asta Wara : Sri,Indra,guru, Yama Ludra, Kala, Uma, saka sanga  dening Pthiwi , saka salundening  Wulan, Lintang trenggana mwah Raditya, saka titisan sakuwubaning apah, tejo, bayu, ākāsa,saha denira Bayu Sabda Idep.Pakulun Bhagawaaan sapta wara: Redite pinaka semita, Soma pinaka kulita, Anggara pinaka daunta, Buda pinaka kembangta, Whaspati pinaka galihta, Sukra pinaka buahta, Saniscara pinaka batunta Tapuk pinaka punda.

O śuddha mari śuddha

Mlaspas saluwiring kayu ( segala macam kayu ) maksudnya :” ka “artinya pohon , “Yu “artinya budhi. Jadi maksudnya adalah budhi mulah yang unggul.

 

13.        Pras penyenng, mantra :

O Pañca wara bhawet brahmā

Wiṣṇu sapta wara wañca

Sad wara Īśwara Dewaśca

Astawara śiwa jñeya

Ongkara musyate sarwa pras praśiddhanta

 

Dilanjutkan dengan mantra :

Ong kaki penyeneng nini penyeneng kajenengan denira Bhaāra Wiṣṇu, Īśwara, Sūrya candra lintang tranggana

O Śri we namo nama swāhā

 ( Dr . Sudirman. S.Sos. MM )

 

14.        Pengambean,mantra :

Ong pukulun sanghyang sapta patala, Sanghyang sapta Dewata, sanghyang Weśrawarna Sanghyang Tri Nadi-pañcakorsika, Sanghyang Premana makadi sanghyang Urip, sira amagehaken ri ṣṭhahanan nira sowang-sowang  ri sang inambean wewangunan…( nama wewangunan).

O śiddhir astu ya nama swāhā

 

15.        Katipat Lepas ,mantra :

Pakulun manusanira  angadakaken katipat lepas, lepas aken ri geteng wewangunaning hulun

O śiddhir astu ya nama swāhā

Ong Ang lepasing saluwiring  kayu mala rebah,teka muksahalang malania

O Sa, Ba,Ta,A,I nama swāhā

 

16.        Nganteb banten antuk Tri Bhuana ,mantra :

O parama Siwa twa guhya

Siwa Tatwa pariyana

Siwa sya pranata nitya

Candi sca ya namo stute

O nirwidhya Brahmā Wiṣṇu śca

Bhoktra Dewa Maherśwaram

sarwa wyadi nala bhakti

sarwa karya praśiddhantam

O jayarti jaya mapnuyap

Yasarti yasa awapnuti

śiddhi sakala mapanuyap

Parama siwa labhatya

 

17.        Ngayab banten pemlaspas, mantra :

    O Pañca ratie wiṣṇu kreṣṇa aneastu Maha Dewa, soma

    biski wanam tathā ,anggarastu punang sukra,Buda wiṣṇu

    tathā wañca, Brahmā whaspati ekawakca, Sukra barua

    ewakca, saniscara maya tathā.

 

18.        Astawa sedeng ring alas ,mantra  :

Ong sedeng Ira maring alas , teralata, inaranta, sinempal anempul sangkata genaina rata, prapta maring omah, angadeg aken  wewangunan umah, kori ,jineng, sanggar parhyangan, maniron kasunen Sanghyang ayu saluwiring  wewangunan

Sang ayu Waranta, Bhūta Bhanaspati Raja pemuliha maring wana,

Sang Bhūta Titi Jati perlina limaksah, teka lepas,teka lepas,teka lepas

O O sarwa karya praśiddhanta

 

19.   Mendem Pedagingan, mantra :

Ong pakulun paduka Bhaāra Ibu pthīwi ,asun g akna paduka Bhaāra, kayomanan manusa paduka Bhaāra amendem pedagingan moga riwastu śiddha gawe anemu rahayu

O Sa,Ba,Ta, A,I,Na,Ma,Si,Wa,Ya

O ayu wddhi yasa wddhi wddhi prajñān sukha śriya Dharma Santana w wddhiśca santute sapta wddhaya  O śiddhir astu  tathā astu ya nama swāhā

 

Pakeling :

1.   Mlaspas Bale, Sanggah , mantra :

Ih Bhaāra saking Majapahit, Bhaāra saking Gunung Agung, Bhaāra saking Dalem mwah Bhaāra saking Puseh, Bhaāra saking Gunung Lebah, Sedahanuwwe papayonan Penyarikan tureksa jejeneng manusanira nunas toya pamlaspas apan sampun migranin ring sang adruwe papayonan

Ong angadeg sakeng pūrwa  Bhaāra Īswara dewataya angadeg sira ring Genian Bhaāra Maheśwara dewataya angadeg sira ring daksina Bhaāra Brahmā dewataya angadeg sira ring Neriti Bhaāra Rudra dewataya

angadeg sira ring Paścima Bhaāra Maha Dewa dewataya

angadeg sira ring Waya bya Bhaāra Sangkara dewataya

angadeg sira ring Uttara Bhaāra Wiṣṇu dewataya

angadeg sira ring Ersaya Bhaāra Sambhu dewataya

angadeg sira ring Madhya Bhaāra Siwa dewataya

Ong suku pinaka pancer da

sunduk pinaka akah da

adegan pinaka punyan da

raab pinaka daun da

iga-iga pinaka katik don da

tugeh pinaka muncuk da

dedeleg pinaka sarin da

Ika uriping taru… 3X

Tri tri ong syama kaleka lekana ong

Ong Dewa ring Suya

Ong manusa ring Suya

Ong tuju teluh maring Suya 

Ong Ya, A, Ya,I

Ong Toya

 

2.   Memakuh lan Mlaspas wadah mantra :

Memakuh wadah, mantra :

Pakulun mangeka mangupakang,  mangasukang  lawutang  katuktuk magawe pahubanda, daganda, pinaka godong da, buah da. Bungan da pinaka isin da

O Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa,Ya

Ang Ah  3x

 

Daksinanya lengkap, uangnya 1725 kepeng. Daksina, mantra :

Ih Sang Prabhu, ingsun angwehin si rahayu,  maka  daksinanya,  nuh

( nyuh) pinaka ulu, taluh pinaka terong, ketan injin pinaka Bayu, Sabda,Idep pinaka caling, srembeng pinaka kulit,saput pinaka lamba, biu pinaka angga,benang pinaka uwat, gula pinaka ati,beras pinaka galih, jinah pinaka raga ,sampun sira mapraragan ,mulih sira ring Ibu pthīwi,, aja lali, poma …3x.

O Ang Ung Mang Ah Ang Ah  3x.

 

Dilanjutkan mlaspas ( menyucikan wadah) pada upacara pengabenan, mantra :

Ong Pring putih, pring abang,pring kuning, pring ireng,ireng pengadege sanghyang Wiṣṇu, wara putih pangadege sanghyang Iswara, wara Abang pangadege sanghyang brahmā, wara kuning pangadege sanghyang Mahadewa, wara Ireng pangadege sanghyang Wiṣṇu wara amañca wara pangadege sanghyang Siwa, pepek tadah wahaya,rubuh kita mangetan,bhujangga pañca prajurit, pañca mayanta, Bhaāra Brahmā sabdanta, rubuh kita mangulon , banwaji kabeh kabuyutan, pañca mayanta Bhaāra Siwa sabdanta, wastu śiddhi sabdanta,yan śuddha malanta, samonong denta, seger tumitis,yen ingsun dereng tumitis, yening wwang tumitis, manawi kita tumitis,sedeng kita rumaja putra,rumaja putri, mamara kita mamari ring ingsun, magawe  yanniya lakar santun, pinaka paga warna roji, angundur aken satru musuhku,samya śuddha malanta, padha tan pamirudha ring awak sariran ingulun

O ya de namo nama swāhā 3 x

O śiddhir astu  tathā astu ya nama swāhā

 

3.   Mlaspas Bukur,mantra :

Ong jur bhuana bhumi, likat malan ingulun, suddha lukat  ingulun, hana rare cili, angadeg  tengahing bangawan mantra andadi taman, lebur kataman ,mantra andadi kadaton, mantra andadi karang swargan,dadi prawatek kabeh, ngadeg sanghyang banawa,murucut 3X

Hana meru mas masasaka winten,angadeg duwuring duwur, hana meru mas tumpang sanga, ika genahing alungguh,kalawan pangeran

Om ya namah swaha

Ang Ung mang Ah

Ang Ah 3X

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MEMENDAK.
Memendak  artinya  mohon  kehadiran .  Yang  dimaksud  dalam  uraian  ini adalah memendak Ida  Bethara  ( Ista  Dewata )  yang  akan  distanakan  di bangunan - bangunan  pelinggih .  Upacara   memendak   dapat   dilakukan setempat  ( di  area  Pura / Sanggah  Pamerajan )  atau  di  " Catus   Patha" (perempatan Desa). Prosedur memendak adalah dengan sarana (upakara) berupa : 1) Pelinggihan Ida Bethara (symbol) berupa "pretima"(patung) atau   "daksina lingga" (sejenis banten daksina). 2) Banten secukupnya antara lain : pengulapan/ pengambean, pejati, segehan  agung. Cara  memendak adalah dengan menghadap ke  Timur,  Selatan,  Barat,  dan  Utara,  dengan  tujuan memohon penugrahan Dewa Iswara, Brahma, Mahadewa dan Wisnu  untuk mengijinkan kita menstanakan Ida Bethara didalam  symbol  niyasa  berupa patung atau daksina lingga itu.

 

Mendem Bagia palakerti.
Bagia artinya bahagia,palakeri artinya hasil dari karma (perbuatan). Isi Bagia palakerti  adalah berbagai hasil bhumi :buah-buahan dan umbi-umbian(pala gantung dan pala bungkah). Bagia palakerti ditanam ditanah belakang padmasana bertujuan untuk memohon pahala yang baik kepada Sanghyang Widhi,karena sang maduwe karya telah melaksanakan upacara ngenteg linggih.


MESUCIAN.
Mesucian artinya menjauhkan  roh - roh  yang  tidak  diinginkan ,  agar  tidak mengganggu kesucian  niyasa  Pelinggihan  Ida  Bethara .  Mesucian  dapat dilakukan setempat (di area Pura/Sanggah pamerajan) atau di sumber mata air.NGELINGGIHANG. Upacara ngelinggihang didahului dengan  menanam "Pangenteg  Gumi"  yaitu  sebuah  gentong  tanah  yang  didalamnya  berisi banten : suci, panca datu, pala gantung (buah-buahan), pala bungkah (umbi-umbian), orti pala kerti, dan uang logam sebanyak 700  keping .  Pangenteg gumi  itu  ditanam  dibelakang   bangunan   Padmasana .   Setelah   selesai memendak, mesucian dan  menanam  pangenteg  gumi ,  maka  niyasa  itu distanakan di pelinggih yang sudah  disediakan.  Seterusnya  dihaturkanlah persembahan atau  upakara  untuk  keperluan  Ngenteg  Linggih  dan  juga aturan/bhakti dari para pemdek (para bhakta yang hadir pada upacara itu).


PEMUSPAAN.
Persembahyangan bersama dilanjutkan dengan nunas  tirta  wangsuh  pada, bija, dll.


PENYINEBAN.
Ida Bethara yang distanakan dapat  " nyejer "  artinya  terus  menerus  dipuja selama 3, 7, 11, 42 hari, tergantung keinginan dan kemampuan para  bhakta. Jika tidak ada  keperluan  lain ,  maka  penyineban  dapat  dilakukan  segera setelah  upacara  persembahyangan   selesai  ,   atau   sore   harinya ,   atau keesokan harinya. Tata cara "nyineb" dimulai dengan  menghaturkan  banten "sidakarya ",  kemudian  persembahyangan  ,  dan   seterusnya   niyasa   Ida Bethara disimpan ditempat yang aman.  Jika  menggunakan  daksina  lingga, tetap  dibiarkan  di  pelinggih.  Setelah  itu  hiasan - hiasan  Pura  /  Sanggah pamerajan dibuka dan kotoran-kotoran berupa sisa-sisa banten dibersihkan.

 

 

                                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                    MlASPAS

Banten mlaspas :

-          Suci asoroh ,prascita luwih, sesayut pengambean , pengulapan dengan uang kepeng 22,sesantun dengan uang genep,pengelukatan ,kukusan baru  semuanya harum,rantasan ,pesucian dengan pras lis,tepung tawar, isuh-isuh,buhu-buhu, rerakih ,ayam putih kuning jantan dan betina, dipanggang untuk persembahan  bhanaspati raja .

-          Banten plaspas :

a.    Nasi kandik dagingnya ancruk

b.   Nasi timpas / blakas dagingnya belalang

c.    Nasi pahet dagingnya sabatah

d.   Nasi pengotok  dagingnya papaya

e.    Nasi siku-siku dagingnya klentang kelor

f.sNasi sepat dagingnya pelas

g.    Nasi penyerutan dagingnya pakis

h.   Nasi pengutik dagingnya kecai

i.    Nasi undagi sebanyak lima(5) dengan lawar kawisan dengan tetabuhan tuak arak berem.

Eedan Pemlaspas:

j.Pengastawa Surya,

\  Ngastawa Surya, mantra

O Āditya śya paramjyotir,

Raka teja namo’śtute

Sweta pangkaja madhyaste

Bhāskāra ya namo nama

 

O O shi sūrya saha śresu

Tejo raso jagat pate,

Anukha paya bhaktya

Ghya mana Dewa kara ya namo’śtute

O hrāng hring paramaśiwa Raditya ya nama

O Hrāng Hring sa sūrya ya nama

O Hrāng Hring Śiwa sūrya para tejo

Śiwa rūpa ya namo nama swāhā

O Hrāng Hring sa parama Śiwa āditya

Ya nama swāhā

 

O prenamya bhāskāra Dewa

Sarwa kleśa wināsana

Prenamya Āditya śiwa tha

Bhūkti mukti wara prada

\  Saa :

Nastuti pukulun paduka Bhatāra Sūrya candra lintang tranggana, makadi Sanghyang Trayo daa saksi, saksinin aturan pinakenghulun, angaturaken saprekaraning piodalan lan pecaruan, akedik aturan pinakenghulun Agung pinakeng hulun amelaku, mangda tan keneng cakra bhawa tulah pamidi

O Śiddhir astu pujaning hulun.

( Drs. I. B. Putu Sudarsana, MBA.MM , 2001 )

         Pengastawa tiga guru stawa, mantra:

O Dewa dewī tri Dewana

Tri mūrti tri linggana

Tri purua śuddha nitya

Sarwa jagat jiwa ātmana

 

O guru dewa guru rūpa

Guru madhya guru pūrwa

Guru pantara dewa

Guru dewa śuddha nitya

 

O brahmā wiṣṇnu īswara dewa

Jiwa ātmana tri lokana

Sarwa jagat pratiṣṭhāna

Kleśa Śuddha wināsana

 

O Guru dīpata ya nama swāhā

(Ida Pandita Mpu Jaya Wijaya Nanda , 2003 ).

 

 

       Ngastawa Sang Hyang Ibu Prthiwi.

       Puja pengastawa kehadapan  Sang Hyang Ibu Pthīwi ,Karena beliau  juga sebagai pesaksi dalam pelaksanaan upacara pemakuhan / pemelaspas.Hal ini dapat dilihat dari bahan banten tersebut adalah atas kerta anugrahanya  sehingga umat dapat membuat banten,  mantra :

      Ong Ang pthīwi sarīra Dewi

Catur Dewi mahā Dewi

Catur Āśrama bhatari

śiwa Bhumi mahā śiddhya

Ong śri Bhasundari jiwa Amta ya nama swāhā.

Saa :

Nastuti pukulun paduka bhetari Ibu pthīwi, saksinan  Pangubhaktian  manusan nira angaturaken tadah saji pawitra, ipun angidep amelaku yadnya piodalan ring parhyangan Agung,…. Asung kertha anugraha  bhetari manugraha kemertaan ring Bhuana Agung miwah Bhuana Alit,   manadi ngemangguhin kedirghayusan ring kauripan.  ( Drs. I.B.Putu Sudarsana. MBA.MM, 2005 ).

Pakeling :

        Indik pemargin pecaruan boleh dilaksanakan setelah menghaturkan pedatengan atau setelah ngaturang ayaban

           Mensthanakan  Bhatara Ring banten penyeneng.

         Puja ngingkupang Bhetara dan mensthanakannya pada banten penyeneng, maksudnya mensthanakan Bhetara  yang dipuja pada banten penyeneng ,karena beliau belum melinggih pada bangunan suci (beliau masih meraga Widhi Widhana )( Dewa Tatwa ) dengan puja :

      O nama Dewa adiṣṭhana ya

Sarwa wyapi wai śiwa ya

Padma asana Eka Pratiṣṭha ya

Ardhanareśwari ya nama swāhā

Ang Ah Ardhanareśwari ya nama swāhā

             Dilanjutkan puja penyeneng, mantra :

Ong pengadeganing sanghyang Janur kuning,śiwa rining giting Guru, Tinutus dening prawateking Dewata kabeh, kajenenganing perwatek Dewata, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang ,Mang, Sing , wang ,Yang, Ang ,Ung, Mang, Ong.

(Masrana sekar genahang ring penyeneng )

                            ( Drs.I.B.Putu Sudarsana, MBA.MM , 2005 )

              Ngaturang pesegehan ring iringan Ida Bhatara, mantra :

      Ong sang Bhūta bhucari

Sang Kāla bhucari

Sang Durgā bhucari

Manusannira aweh saji ring ira, iki tadah sajinira segehan maiwak bawang jahe, pada suka ta kita amangan anginum ,

Asing kirang asing luput, den Agung sinampura sang adruwe karya.

 

Raris metabuh arak berem dan toya, mantra :

      Ong Kāla bhokta ya nama

Bhūta bhokta ya nama

Durgā bhokta ya nama

Piśaca bhokta ya nama

Ong Ang kang khaol kaya swasti – swasti sarwa bhūta kāla bhokta ya nama.

Menghaturkan tegtegan / tehenan, mantra :

 Ong pakulun paduka bhatara Jagat Nātha, puniki manusa nira  angaturaken  sarwa bhuta bhuti tegteg / tehenan maka miwah tapakan,  mabras akulak,lawe atukel, majinah satak salawe, magalihan maktihan,  samangkana aturan manusan nira, manawi wenten kirang wenten luput   manusan nira aneda, Agung sinampur

Ong śri ya we namu nama swāhā.

 

1)     Atur piuning saa,

O pukulun paduka bhaāra .... Hulun handa sih waranugraha ring pukulun paduka bhaāra, pinakeng hulun angidep anguntap anuhur paduka Bhaāra, mangda ledang paduka Bhaara temedun malingga malinggih ring aworing kukus arum,kairing antuk asanak widyadara widyadari anglurah agung alit mwng kala sedahan makabehan,manusanira angaturaken tadah saji  pelmaspasan,manusanira amlaspas aken wewangunan…(sanggah / bangunan lainnya), asung kerta anugraha paduka Bhaāra pada amukti sari, anodya hanyaksinin, hamutaken saturan manusanira, akedik kangsun hangaturaken gung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan ledang paduka Bhaāra wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa denira hyang sinuhun

Ośiddhir astu tad astu ya nama swāhā

 

Matabuh,mantra :

Ong Ang kang khaol kaya swasti –swasti sarwa Dewa śukha predhana  ya nama swāha

 

k.   Puja Pengastawa ngingkupang Bhatara ring bnaten Penyeneng,mantra :

Ong nama Dewa adisthanaya

sarwa wyapi nama siwaya

padma asana eka prathista ya

Ang Ah ardhanareswari ya namah swaha

 

Dilanjutkan puja penyeneng,mantra :

Ong pengadeg sang janur kuninputih siwa rining giting guru tinutus dening prewateking dewata kabeh , kajenenganing  prewatek dewata,Sang,Bang,Tang ,Ang, Iang ,Nang, Mang,Sing Wang,Yang, Ang Ung Mang Ong.

(srana sekar genahang ring penyeneng).

 

l.Ngemargiang pecaruan

Caru wewangunan,mantra :

Diawali dengan pengundang bhuta seperti eedan caru biasanya.

Setelah itu dilanjutkan dengan mantra :

Pakulun manusanira angaturaken tadah sajinira sang kala kabeh,manusanira angaturaken ,sampun tan kataman lara rogha sang adruwe caru

Om siddhir astu ya namah swaha

 

Om ayu wrddhi yasa wrddhi

Wreddhi pradnyan sukham sriyam

Darma Santana wreddhisce

Santute sapta wreddhayam

 

Yasa wreddhi tusto dewa

Yawat gangga maha tale

Candrarkau gagana yawat

Sapta twi jayeng bhawet.

 

Om dirgha astu tatha astu

Om awighnam astu tatha astu

Om subham astu tatha astu

Om sryam bhawantu

Om sukham bhawantu

Om purnam bhawantu

Sapta wreddhi astray a namah swaha.

 

m.  Pengastawa Bhagawan Wiswakarma(dewaning Undagi) ,mantra :

Ong pakulun  angadeg sira Bhagawan Wiswakarma,mangkin manusanta  angaturaken sarining pengurip, sarining pengulap, sarining pemlaspas, mangkin sanghyang parwa guna ayuwa angrubeda manusanta, apan ayu paripolahta, urip manusanta malar samangkana ayu kapangguh.

Om siddhi mandi panugrahan Bhagawan Wiswakarma

Om Brahma wisnu Iswara Siwa satyam,

Om Ang Mang Hyang Paramawisesa murti satyam, angurip sarwa tuuwuh, angurip bhuana kabeh, urip ring wetan, urip ring genean, urip ring daksina, urip ring neritya, urip ring kulon,  urip ring waya bya, urip ring lor,  urip ring Madhya, urip ring sor, urip ring luhur, pada urip denira Sanghyang parama wisesa murti satyam,mapupul dadi sawiji matemahan sanhyang ayu wati asri, ana rawating sriya pasang muruking bhuana urip, amanhyang amretha kenawa urip jeng.

Om sri bagia ya namah

Ang Ah.

 

n.   Pengastawa Bhagawan Byasa (dewaning pemelaspas) , mantra:

Om Na, ma, Si,Wa ,Ya,

Pukulun  paduka Bhagawan Byasa maka dewaning pemlaspas tumurun saking swarga angadeg ring madhyaning bhumi, saksinin manusanira  angaturaken  tadah saji pemlaspas, manusanira angidep,amelaspas aken  wewangunan….( nama wewangunan  yang diplaspas),asung kretha anugraha sira amelaspas aken  wewangunan ipun  mangda tan keneng  cakra bhawa tulah pamidi de Bhagawan  wyasa mwah ri prewateking dewata kabeh , sang ,Bang,Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing,Wang Yang, Ang, Ung, Mang,ong ya namah swaha.

( kemudian percikan tirtha pemelaspas)

 

 

o.    Nyiratang  toya pemelaspas ,mantra :

Ong umar maya gumurub mijil agni, medal saking wisesa idepku, traju manik hening hening, hening,

Om bhumi tinawe ,bhumi suddha, sudha ayu, suddha nirmala, dewa metu ila cobemer, suddha mala neher sarira tuwuh

Om siwa karya prasiddha ya namah.

 

p.   Plaspas,mantra :

Pakulun ingsun angulikaken kayu ginawe umah bale,meru,sanggar ,kahyangan , yan tan karebonan kadening manusanira paduka bhatara kajenengang dening panca rsi ,sang korsika, sang garga, sang metri,sang pretanjala,sang kursya,maka nguni kajenengang de bhagawan panca wara,umanis, paing ,pon ,wage  kliwon.Kajenengang  de bhagawan sad wara ,tungleh, aryang ,wurukung,paniron ,was, maulu. Kajenengang bhagawan asta wara,sri ,indra ,guru, yama ,ludra ,brahma ,kala, uma, saka sanga dening prethiwi,saka salundening wulan , lintang trenggana,mwah raditya, saka titisan sakuwubaning apah,teja, bayu, akasa,saha denira bayu sabda idep.

Pakulun bhagawan sapta wara,redite  pinaka semita, soma pinaka kulita, anggara pinaka daunta, buda pinaka  kembangta, wrhaspati pinaka galihta,   sukra pinaka buahta,  saniscara pinaka batunta, tapuk pinaka punda.

Ong suddha mari suddha mala

 

Mlaspas saluwiring kayu(segala macam kayu) maksudnya:  ka artinya pohon yu artinya  budi.maksudnya budimulah yang unggul.

 

q.    Ngaturang banten pemlaspasan :

               Banten suci/ sorohan,

Suci,mantra:

  O pawitra pawitahe

Sarwa gato pīwat

Jambetri pudarīkāka

Sarwa ya bhyantara suci

Ong namaste Dewa cate

Prasadā wada myake

Waki netriti kewa

Mang yama turettama

 

Aśucir sarwa Īsānā

Aśucir sarwa pawitrani

Aśucir sarwa puja nitya

Sarwa kāma suci

Ong sucir rūpa sarwa bhokta karotiwa

Ādityam Dewa misrana

Ong tri sukma dadi suci, śuddha ātmake śukla hening śiwaya namo nama

Ong suci sane, suci dewa ya nama swāhā

Ang Ung Mang.

(Ida Pedanda Gde Raka Klaci , 1997/1998 )

 

Raris ayabang, mantra :

O Dewa bhūkta mahā śukha

Bhojana parama amta

Dewa bhakya mahaˉtuṣṭhe

Lakaa karaa ya nama swāhā

         Dilanjutkan dengan matabuh (berem, arak, air), mantra :

 Pukulun ngadeg sedahan hyang pthiwī Hulun angaturaken banyu amta ya nama swāh

 ( David .J. Stuart – pox , 2010 ).

      Sorohan,mantra :

  O Namaste bhagawan agni,

  Namaste bhagawan hare

  Namaste bhagawan Isa

  Sarwa bhaka uhasana

 

 Tri warna bhagawan agni

 Brahmā wiṣṇu maheśwara

 Sande kiken sorohan bararukam

 Suci mukti syarupa sinayanam

    Mahā ātmakem aneki pragayam

    O kara bhagāwan wiṣṇu,sarwa karya haturanem

O kara dewanca sarwa

             Dilanjutkan , mantra :

Ong pakulun sanghyang śiwa pi catur mukha Dewa bhyuh sira ta bhagawan ratangkup, sira ta pakulun angeseng lara   rogha makadi ipen ala, sat sapata gempung mukah ilang tanpa sesa denira sanghyang śiwa pi catur mukha dewa bhyuh

Ong Śiddhir astu ya nama swāhā.

            Dilanjutkan dengan matabuh (berem, arak, air), mantra :

 Pukulun ngadeg Bhagawan sakti hyang ibu pthiwi Hulun angaturaken banyu mahā amta ya nama swāhā

( David .J. Stuart –pox , 2010 )

     Pras Penyeneng,mantra :

Ong Pañca wara bhawet brahma

Wiṣṇu sapta wara wañca

Sad wara īśwara Dewaśca

Astawara śiwa jñeya

Ongkara musyate sarwa pras praśiddhanta

 

              Dilanjutkan dengan mantra :

Ong kaki penyeneng nini penyeneng kajenengan denira Bhaāra Wiṣṇu, Īśwara, Sūrya candra lintang tranggana

Ong Śri we namo nama swāhā

( Dr . Sudirman. S.Sos. MM )

 Sesayut, mantra :

       Ong ana wiṣṇu rinte jñeya

Raso brahmā prekīrthitā

Bhoktayet bhagāwan rudra

Trettyantu sadā śiwa ya

Ong Ong sarīra pari trepta ta1.

Ong Ong Atma tatwa pari trepta ta

Ong Ong jiwita pari trepta ta

Ong Ong sarwa śukha pari pūrnap ta

Ong Ong sobagia pari pūrnapta

Ong Ong Amrta sanjiwani ya nama

          Dilanjutkan dengan penyaksian sesayut, mantra :

Ong pakulun sanghyang pramesti guru, Sanghyang parama wisesa, śri bhagawan citra gotra, sira sang sedahan penyarikan, makadi sira bhagawan wrhaspati, sira Sanghyang kumayoni rahina kelawan wengi pukulun, manusaira angaturaken saluwiring sesayut maka ṣṭhiti yadnya katur ring ajeng paduka Bhaāra-Bhaāri

O śuddha, śuddha ya nama swāhā

O Ang Ah Amta sañjiwani ya nama swāhā.

    Penganbean,mantra :

  Ong pukulun sanghyang sapta patala,

Sanghyang sapta dewata, sanghyang weśrawarna

Sanghyang tri nadi-pañcakorsika, sanghyang premana

Makadi sanghyang urip, sira amagehaken

ri ṣṭhahanan nira sowang-sowang  ri sang inambean wewangunan…( nama wewangunan).

O śiddhir astu ya nama swāhā

  Katipat lepas,mantra :

 Pakulun manusanira  angadakaken katipat lepas, lepas aken ri geteng wewangunaning hulun

Ong siddhir astu ya namah swaha

Ong Ang lepasing saluwiring  kayu mala rebah,teka muksahalang malania

Ong Sa ,Ba,Ta ,A,I namah swaha

 

r.    Nganteb banten antuk tri Bhuana,mantra:

Om parama siwa twam guhyam

Siwa tatwa pariyanam

Siwa sya pranata nityam

Candis ce ya namo stute

 

 

Om nirwidhyam Brahma Wisnus ce

Bhoktra Dewa maheswaram

Sarwa wyadi nala bhakti

Sarwa karya prasiddhantam

 

Om jayarti jaya mapnuyap

Yasarti yasa awapnuti

Siddhi sakala mapnuyap

Paramasiwa labatyam

 

s.    Ngayab banten pemlaspas, mantra :

Ong panca ratie wisnu kresna aneastu maha dewa, soma biski wanam tatha, anggarastu punang sukra

Bhuda wisnu tatha wance,Brahma wrhaspati ewakca, sukra baruna ewakca, saniscara maya tatha.

 

t.     Astawa sedeng ring alas, mantra :

Ong sedeng ira maring alas, teralata, inaranta, sinempal anempul sangkata genaina rata, prapta maring omah, angadeg aken wewangunan umah, kori ,jineng, sanggar pariangan , maniron kasunen sanghyang ayu saluwiring wewangunan, sang ayu waranta, bhuta bhanaspati raja pemuliha maring wana , sang bhuta tit jati prelim limaksah, teka lepas,teka lepas, teka lepas,

Ong ong sarwa karya  prasiddhantam.

Pakeling :                                                                                                 MENDEM DASAR, MANTRA :

ONG angawang angawang ulung-ulung kapwa kita anadi watu kuma yasa

Anadi pwa kita kabaturan …. (wewangunam), indrang kita dening walening pande wesi, kajenengan  de bhagawan penyarikan, snastwa pwa kita menadi babaturan, ing urip den nira sanghyang wisnu, inastren den nira sanghyang guru wisesa, lumakune luputa ring sarwa rogha sang angawe lawan sang ginawe

Ong ayu wrddhi, yasa wrddhi , wrddhi pradnya sukha sriyam…….

 

 

 

 

 

 

MENDEM PEDAGINGAN, MANTRA :

Ong pakulun paduka bhatara ibu prethiwi , asung akna manusan paduka bhatara , kayowanan manusa paduka bhatara amendem pedagingan moga riwastu siddha gawe anemu rahayu

Om sa,ba,ta,A,I,Na,Ma,Si,Wa Ya

Om ayu wreddhi……..

Om Siddhir astu tat astu ya namah swaha.

 

 

Pakeling :

Mlaspas Bale,sanggah,mantra :

Ih Bhatara saking Majapahit ,Bhatara saking gunung Agung, Bhatara saking dalrm mwah bhatara saking Puseh ,Bhatara saking gunung Lebah,sedahan penyarikan tureksa jejeneng manusanira nunas toya pamlaspas apan sampun migranin ring sang adruwe papayonan

 

Ong angadeg sakeng purwa

Bhatara Iswara dewataniya

Angadeg sira ring genian

Bhatara maheswara dewataniya

 

Angadeg sira ring daksina

Bhatara Brahma dewataniya

Angadeg sira ring neriti

Bhatara Rudra dewataniya

 

Angadeg sira ring pascima

Bhatara mahadewa dewataniya

Angadeg sira ring wayabya

Bhatara Sangkara dewataniya

 

Angadeg sira ring Uttara

Bhatara wisnu dewataniya

Angadeg sira ring ersaniya

Bhatara Sambhu dewataniya

 

Angadeg sira ring Madhya

Bhatara Siwa dewataniya

Ong suku pinaka pancer da

Sunduk pinaka akah da

Adegan pinaka punyan da

Rahab pinaka daun da

Iga-iga pinaka katik don da

Tugeh pinaka muncuk da

Dedeleg pinaka sarin da

Ika uriping taru 3X

 

 

Tri tri ong syama kaleka lekana ong

Ong dewa ring sunya

Ong manusa ring sunya

Ong tuju teluh maring sunya

Ong Ya-A- Ya-I

Ong Toya.

 

NB :

 MEMAKUH LAN MLASPAS WADAH.

 Memakuh wadah,mantra :

 Pukulun mangeka mangupakang,mangasukan lawutang    katuktuk, magawe pahubanda,daganda, pinaka godong  da,buawah da,bungan da pinaka isin da

Om Sa,Ba,Ta ,A, I, Na ,Ma, Si, Wa, Ya

Ang Ah 3X

 

Daksinanya lengkap ,uangnya 1725 kepeng.Daksina Mantra :

Ih Sang Prabhu, ingsun angwehin sira rahayu,maka daksinaniya, nuh(nyuh) pinaka ulu, taluh pinaka terong, ketan injin pnaka bayu,sabda,Idhep, pinaka caling, srembeng pinaka kulit, saput pinaka lamba, biu pinaka angga,benang pinaka uwat,gula piaka ati, beras pinaka galih, jinah pinaka raga, sampun sira mapraragan,mulih sira ring ibu prethiwi,aja lali,poma 3X

Om Ang Ung Mang Ah

Ang Ah 3X

Dilanjutkan Mlaspas ( menyucikan wadah) pada upacara pengabenan. Mantra :

Ong Pring putih, pring abang,pring kuning, pring ireng,ireng pengadege sanghyang Wisnu, warna putih pangadege sanghyang Iswara, warna Abang pangadege sanghyang brahma, warna kuning pangadege sanghyang Mahadewa, warana Ireng pangadege sanghyang Wisnu warna amanca warna pangadege sanghyang Siwa, pepek tadah wahaniya,rubuh kita mangetan,bhujangga panca prajurit, panca mayanta,Bhatara Brahma sabdanta, rubuh kita mangulon , banwajiii kabeh kabuyutan, panca mayanta Bhatara Siwa sabdanta, wastu siddhi sabdanta,yan suddha malanta, samonong denta, seger tumitis,yen ingsundereng tumitis, yrning wwang tumitis, manawi kita tumitis,sedeng kita rumaja putra,rumaja putri, mamara kita mamari ring ingsun, magawe  yanniya lakar santun, pinaka pagawarnna roji, angundur aken satru musuhku,samya suddha malanta, padha tan pamirudha ring awak sariran ingulun

Om ya de namo namah swaha 3X

 

Mlaspas Bukur,mantra :

Ong jur bhuana bhumi, likat malan ingulun, suddha lukat  ingulun, hana rare cili, angadeg  tengahing bangawan , mantra andadi taman, lebur kataman ,mantra andadi kadaton, mantra andadi karang swargan,dadi prawatek kabeh, ngadeg sanghyang banawa,murucut 3X

Hana meru mas masasaka winten,angadeg duwuring duwur, hana meru mas tumpang sanga, ika genahing alungguh,kalawan pangeran

Om ya namah swaha

Ang Ung mang Ah

Ang Ah 3X

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ngurip Wewangunan

Prosesnya sejak awal, ngruak karang alih fungsi dari karang tegal menjadi karang wawangunan atau mandala pura. Ukuran pekarangan dengan pengurip asta musti, ukuran halaman dengan pengurip tampak ngandang, ukurang bangunan dengan pengurip nyari, guli, guli madu, useran jari, dan bagian-bagian dari modul dimensi tiang. Tata letak dengan urip pengider, urip perwujudan, pengurip perwujudan, pengurip gegulak, urip dina wawaran dan urip pengurip-urip pemakuh. Makna pengurip wewangunan saat melaspas adalah menghidupkan dengan penjiwaan sebagai bangunan sesuai namanya.

Bahan-bahan bangunan telah dimatikan saat pengadaannya menjadi bahan bangunan. Saat upacara melaspas, jiwanya dikembalikan ke asalnya masing-masing. Dilakukan upacara peleburan dan dihidupkan (ngurip) dengan fungsi baru yang namanya bangunan. Bangunan inilah yang kemudian diproses penjiwaannya sebagai suatu kelahiran ke bumi dengan upakara sebagaimana layaknya suatu kelahiran dan kehidupan. Upacara ngulihin karang adalah suatu upakara semacam dikawinkan antara bangunan dengan pemilik-pemakainya.

Klasik, etnik dan unik memang, namun itulah pengurip penjiwaan sepanjang proses membangun. Bagi pandangan sekuler tentunya sebagai sesuatu yang berlebihan, mitos dan dogma yang dipandang sebagai pemborosan sia-sia.

Benarkah dengan diabaikannya ritus pengurip menyebabkan terjadinya pembangunan tanpa taksu yang semarak dalam fisik namun hampa dalam kejiwaannya? Bagaimana mungkin penjiwaan terjadi dalam pembangunan tanpa peran undagi, tanpa gegulak, yang dibangun dengan sistem tender.

Raibnya bukti pura, ditinggalkannya ayahan pratima dan menipisnya peranan krama, dapat memicu terjadinya kesadaran palsu membangun pura sistem proyek yang ditenderkan.

Sumber: Terimakasih kepada Bali Post

a.      Dewasa Ngeruwak :

Wewaran : Beteng, Soma, Buda, Wraspati, Sukra, Tulus, Dadi.
Sasih: Kasa, Ketiga, Kapat, Kedasa.

b.      Nasarin :

Wewaran: Beteng, soma, Budha, Wraspati, Sukra, was, tulus, dadi,
Sasih: Kasa, Katiga, Kapat, Kalima. Kanem.

c.       Nguwangun

Wewaran: Beteng, Soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.

d.      Mengatapi

Wewaran : Beteng, was, soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
Dewasa ala : geni Rawana, Lebur awu, geni murub, dan lain- lainnya.

e.       Memakuh/ Melaspas

Wewaran : Beteng, soma, Budha. Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
Sasih : Kasa, Katiga, Kapat, Kadasa.

 

2.3 Upacara sebelum membangun rumah

a)      Upacara Nyapuh sawah dan tegal.

Apabila ada tanah sawah atau tegal dipakai untuk tempat tinggal.
Jenis upakara : paling kecil adalah tipat dampulan, sanggah cucuk, daksina l, ketupat kelanan, nasi ireng, mabe bawang jae. Setelah “Angrubah sawah” dilaksanakan asakap- sakap dengan upakara Sanggar Tutuan, suci asoroh genep, guling itik, sesayut pengambeyan, pengulapan, peras panyeneng, sodan penebasan, gelar sanga sega agung l, taluh 3, kelapa 3, benang + pipis.

b)      Upacara pangruwak bhuwana dan nyukat karang, nanem dasar wewangunan.

Upakaranya ngeruwak bhuwana adalah sata/ ayam berumbun, penek sega manca warna.Upakara Nanem dasar: pabeakaonan, isuh- isuh, tepung tawar, lis, prayascita, tepung bang, tumpeng bang, tumpeng gede, ayam panggang tetebus, canang geti- geti.

c)      Upakara Pemelaspas.

Upakaranya : jerimpen l dulang, tumpeng putih kuning, ikan ayam putih siungan, ikan ayam putih tulus, pengambeyan l, sesayut, prayascita, sesayut durmengala, ikan ati, ikan bawang jae, sesayut Sidhakarya, telur itik, ayam sudhamala, peras lis, uang 225 kepeng, jerimpen, daksina l, ketupat l kelan, canang 2 tanding dengan uang II kepeng. Oleh karena situasi dan kondisi di suatu tempat berbeda, maka upacara

 

3.2 Saran

Saran yang dapat kami sampaikan yaitu kita hendaknya membangun rumah menurut Asta Kosala Kosali agar kita dapat Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi, Mendapat vibrasi kesucian, menguatkan Bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

http://www.google.co.id/#q=TATA+ATURAN+PEMBANGUNAN+RUMAH+TRADISIONAL+BALI&hl=id&prmd=imvns&ei=2YErT_GZOpGrrAefodHUDA&start=20&sa=N&bav=on

http://cvastro.com/arsitektur-bali-tata-ruang-masyarakat-bali.htm

http://www.griyawisata.com/nasional/bali-lombok-island/artikel/filosofi-rumah-adat-bali

http://www.google.co.id/fungsi-bangunan.htm

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TATA CARA NGATURAN PENYINEBAN

                                                                           PENYINEBAN A.       P engastawa Lan Eedan Upacara Penyineban ...