Selasa, 21 Februari 2023

PANCA YAMA BRATA

 Pengertian Panca Yama Brata

Panca Yama Brata berati lima macam pengedalian keinginan dari godaan-godaan nafsu jahat untuk memcapai kesempurnaan jasmani dan rohani, Yama berati pengedalian dan berasal dari kata wri artinya kemauaan atau keinginan. Adapun 

Bagian-bagian dari Panca Yama Brata Adalah :

1. Ahimsa

2. Brahmacari 

3. Satya

4. Awyawahara

5. Asteya

A. Ahimsa Artinya Ahimsa terdiri dari dua kata yaitu "a" berati tidak dan Himsa berati membunuh atau menyakiti, melukai atau menyikasa, Jadi ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti atau tidak melukai atau menyiksa mahkluk lain, Agama Hindu melarang kita melakukan perbuatan membunuh atau menyakiti makhluk lain, lebih-lebih, manusia tanpa ada alasan, tertentu, Sebab perbuatan membunuh  adalah amat besar dosanya, Tuhan menciptakan alam dan makhluk hidup di dunia ini dengan maksud agar kita saling kasih mengasihi, saling meminta dan memberi dengan sesama makhluk. Semua yang ada ini berasal dari Tuhan maka seharusnya kita bersaudara dengan sesama makhluk. Orang yang tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain di dunia, selalu penuh kasih sayang serta berusaha selalu menyenangkan makhluk laian orang ini akan mencapai cita-citanya tanpa ada rintangan.

Cerita tentang Prilaku Ahimsa 

Tersebutlah seorang Brahmana bernama Sang Dwijaiswara. Sangat cinta kasih kepada semua makhluk.  Beliau melakukan tita yatra di gunung Himawan. didapatkan seekor ketam Si Asada namanya yang sedang kesakitan di puncak gunung, Disambutnyalah oleh Sang Brahmana dan di pangku dalam kainya. Si Asada hampir habis nafasnya.

Kata Sang Brahmana " biarlah kubawa engkau ke sungai. Mudah-mudahan engkau tetap bisa hidup. Lalu berjalanlah beliau menuju sungai. Ketam itu dilepas oleh Sang Brahmana. Suka citalah Si Asada dia merasa badanya lebih segar. 

Setelah melespaskan SI Asada, Sang Brahmana beristirahat sejenak di bawah pohon di tepi sungai, disana ternyata ada seekor olah bersahabat dengan seekor gagak yang membahayakan keselamatan Sang Brahmana, Kedua sahab ini sedang mempercakapkan mangsanya, "Matanya menjadi makananyamu" kata ular itu, kepada sang gagak. Si Asada mendengar rencana jahat kedua sahabat tadi. Teringatlah ia akan besar utang budinya kepada Sang Brahmana. Ia bermaksud mebalas utang budinya. Kemudia di dekatinya kedua sahabat itu, dan berkata: " hai sahabatku kamu berdua sang ular dan sang gagak, biar kupanjangkan lehermu berdua supaya dengan mudah nanti kamu membagi-bagi Sang Brahmana.

Gagak dan ular mengikuti nasihat ketam itu sambil menyerahkan leher mereka. Lalu disepitlah oleh SI Asada dengan kedua sepitnya, maka putuslah kedua leher bitatang itu dan matilah sang gagak dan ular itu, Sang Brahmana selamat dari acaman pembunuhan oleh ular dan gagak berkat pertolongan SI Asada.

perbuatan Sang Brahmana menolong ketam dan perbuatan ketam menolong Sang Brahmana adalah perbuatan " Agawe sukaning len" Jadi baik perbuatan kita baik pula balasanya.

Lain halnya bila membunuh untuk kepentingan yadnya dan untuk dimakan, Agama Hindu membenarkan pembunuhan untuk kepentingan semua itu,. Sebab menyemblih binatang untuk yadnya berati kita dapat meningkatkan jiwanya. Sebelum menyembelih bitatang itu terlebih dahulu diberikan mantra yang bunyinya sebagi berikut :" OM papasayah wimaha ceras chadayat dimahi tano jiwah pracodayat."

Dalam kitab Silakrama di sebut empat macam pembunuhan yang dibebarkan oleh Agama Hindu sebagi berikut :

1. Dewa Puja adalah persembahan kepada Dewa ( Dewa Yadnya).

2. Pitra Puja adalah persembahan kepada roh leluhur (Pitra Yadnya)

3. Athiti Puja adalah untuk persembahan atau disuguhkan kepada tamu.

4. Dharma Wighata ialah kewajiban bagi semua orang membunuh mkhluk yang mengganggu atau yang memberi penderitaan terhadap tubuh manusia. Misalnya : Nyamuk, kutu, pijat-pijat dan lain sebaginya.

Demikianlah ajaran Ahimsa yang merupakan dasar dari kesusilaan yang tinggi yang harus dilakukan oleh semua orang.

B. Brahmacari bagian yang kedua dari Panca yama Brata adalah Brahmacari yang berati masa menuntut ilmu pengetahuan. Brahmacari berasal dari kata Brahma yang artinya Ilmu pengetahuan, sedangkat  Cari ( carya)  artinya berasal dari bahasa sansekerta "car" yang berarti bergerak. Jadi Brahmacari berati bergerak di dalam ilmu pengetahuan Suci Weda atau bagimana tingkah laku manusia dalam menuntut ilmu pengetahuan. Seseorang yang telah menginjak alam pendidikan harus mempunyi pikiran yang bersih yang hanya memikirkan pelajaran atau ilmu pengetahuan saja. Supaya perasaan dan pikiran kita terpusat kiranya seorang Brahmana dilarang untuk menikah atau kawin, berdagang, berpolitik dan lain-laian selama dalam Brahmacari Asrama, Tetapi setelah berakhir masa ini seorang siswa diharapkan memasuki tahap berikutnya yaitu Grehasta yakni masa hidup berumah tangga.

Dalam slokantara  disebutkan tentang aturan -aturan perkawinan sebagi berikut:

1. Sukla Brahmacari adalah orang yang tidak kawin seumur hidup. Tokoh pewayangan yang melaksanakan berata Sukla Brahmacari ini adalah Sang Bhisma dalam Mahabrata dan Sang Laksamana dalam Ramayana.

2. Sawala Bramacari adalah orang yang kawin hanya sekali walupun istrinya meninggal, dia tidak akan kawin lagi sampai ajalnya tiba. Tokohn pewayangan yang melakukan brata ini adalah Sang Rama Dewa  dari ceritra Ramayana.

3. Kresna Bramacari adalah orang yang kawin lebih dari satu kali sampai empat kali batasnya.

Selain tiga macam Bramacari di atas juga disebutkan bahawa ada tiga jenis perkawinan yang tidak boleh dilakukan yakni:

1. Gamyagamna adalah beristri dengan orang yang tidak boleh istri misalnya : kawin dengan ibu , anak, cucu, saudara dan lain-lainya.

2. Gurwangganamana adalah kawin dengan istri guru, bekas istri guru, anak dan cucu guru.

3. Paradara adalah melakukan perkawinan dengan istri orang lain.

C. SATYA Bagian ketiga dari Panca Yama Brata adalah Satya  yang berati sikap menjungjung tinggi kebenaran, kesetiaan, dan kejujuran. Satya memegang peranan penting di dalam usaha kita untuk mencapai kesempuraan lahir bathin di duni dan akhirat. dalam sastra-satra sering disebutkan dengan semboyan "Satyam Ewa Jayate Na Nretam" yang artinya hanya kesetianlah yang menang bukan kejahatan.

Kesetiaan dan kejujuran hendaknya dipakai pedoman dalam segala perbuatan kita sehari-hari. Dalam hal ini ada lima kesetyaan yang disebut Panca Satya yaitu:

1. Satya Wecana artinya setia jujur dalam berkata-kata dan tidak berbohong. 

2. Satya Hredaya artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh.

3. Satya Laksana artinya setia atau jujur mengakui dan bertanggungjawab terhadap apa yang pernah dilakukannya.

4. Satya Mitra artinya setia kepada teman

5. Satya semaya artinya setia kepada janji.

D. AWYAWAHARA  artinya berasal dari kata Wyawahara atau Wyawaharika berarti ikatan terhadap hidup keduniawian dan juga berati peraturan hidup atau undang-undang. Sedangkan A berati tidak, jadi Awyawahara atau Awyawaharika berati tidak terikat pada ketentuan atau ikatan-ikatan hidup keduniawian. Awyawaharika yang juga dapat doartikan melakukan usaha dengan tulus ikhlas guna menciptakan ketentraman bathin.

E. ASTEYA ATAU ASTENYA artinya berasal dari kata Steya yang berarti mencuri atau memperkosa milik orang lain. A artinya tidak. Jadi Asteya artinya tidak mencuri atau tidak memperkosa milik orang lain.


Demikian tentang PANCA YAMA BRATA sebagai tambahan Ilmu pengetahuan semoga bermanfaat. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TATA CARA NGATURAN PENYINEBAN

                                                                           PENYINEBAN A.       P engastawa Lan Eedan Upacara Penyineban ...