DUDONAN
PIODALAN
A. CARA MERANGKAI BANTEN CARU
Merangkai
banten caru ini dengan contoh “caru ayam brumbun”,karena caru ayam brumbun ini
merupakan inti dari banten caru dan dari caru ayam brumbun ini berkembang
menjadi caru-caru yang lainnya seperti caru Panca Sato, Panca Musika,Panca
Sanak,Panca Sanak Madurga,dllnya..
Tetadingannya
adalah sebagai berikut :
1. Pertama
kali ambil sebuah nyiru(ngiu),didalam ngiu itu diisi 5 buah taledan dengan
posisi tempatnya : dibagian tmur satu,selatan satu,barat satu ,utara satu
danditengah-tengah satu.Pada masing-masing taledan tsb diisi
raka-raka(pisang,tebu,jajan ,porosan silih asih)diletakkan dibagian hulunya
(pada ujung taledan yang mengahadap keluar) serta diisi rerasmen dengan
tempatanya kojong rangkat yang letak rerasmennya sbb:
v sambal dan garam diletakkan pada
kojong kanan
v ikan-ikan/Gerang,telur diletakkan
pada kojong tengah
v saur,kacang,mentimun,dan terung
diletakkan pada kojong kiri.
Setelah semua berisi
rerasmen barulah mulai mengatur untuk mengisi “untek” (tumpeng kecil) dengan
aturan sbb:
v Pada taledan dibagian timur diisi
nasi untek berwarna putih sebanyak 5 bh untek,dan memakai satu sampian pusung.
v Pada taledan diselatan,diisi
untek berwarna merah sebanyak 9 bh,memakisatu sampian pusung.
v Pada taledan di barat diisi untek
berwarna kuning 7 bh memakai satu sampian pusung
v Pada taledan di utara diisi nasi
untek berwarna hitam 4 bh memakai sampian pusung juga.
v Pada taledan ditengah diisi untek
berwarna brumbun sebanyak 8 bh berisi sampian pusung.
v Kemudian membuat nasi pengrekan
berwarna brumbun berbentuk/menyerupai wujud ayam,dialas dengan daun telujungan
pisang udang saba dan diatas nasi pengrekan itu disusunkan 8 bh
kwangen,kemudian nasi pengrekan tsb ditumpukkan pada taledan yang berisi untek
brumbun yang letaknya di tengah.
v Selanjutna diatas nasi pengrekan
itu disusunkan olah-olahan ayam brumbun yang sudah lengkap dengan blulangannya.
v Kemudian diatas olahan itu
ditumpuk dengan segehan sasah brumbun,kacang saur,sebanyak 9 celemik dialas
sebuah taledan.
v Di atas segehannya ditumpuk
sebuah taledan lagi sebagai tempat keben-kebenan diisi nasi brumbun,kacang
saur,serta diatas keben-kebenannya ditumpukkan cawu berisi nasi berumbun kacang
saur berjumlah 8 buah.
v Selanjutna paling atas ditumpukkan dengan banten gelar sanga dengan tetandingannya sbb:
· Dialas
dengan sebuah taledan,serta pada hulu taledannya diisi
raka-raka,porosan,sampian plaus
· Pada
tengah-tengah taledannya diisi sarana (eteh-eteh daksina),kecuali telur dan
kelapa (beras,porosan,wang kepeng 1,tingkih,pangi,pesel-peselan dan
gegantusan),
· Di
luar eteh-eteh ini diletakkan celemik sebanyak 9 bh dengan posisi tempatnya
melingkar (sesuai dengan pengideran) dengan setiap celemik berisi nasi
brumbun,kacang saur, dan sate gelar sanga(lebeng asibak) dengan posisi letaknya
tangkainya ke tengah,lalu diatasnya disusunkan canang sari. Posisi letak
satenya juga mengarah kesegala penjuru sesuai pengideran,dan tangkai satenya
menghadap kedalam. Selanjutnya paling atas diisi canang sari,dan gelarsanga itu
ditaruh pada susunan caru paling atas. Dengan demikian selesailah sudah
merangkai banten caru ayam brumbun. (Lontar Aji Somya Mandhala).
B. PENATAAN
BANTEN AYABAN CARUNYA.
1. Menata
banten ayaban caru letaknya usahakan lebih tinggi dari penataan carunya.
2.
Kemudian
penataannya sbb:
v Pertama-tama menancapkan sanggah cucuk terlebih dahulu karena sanggahnya menjadi pedoman hulu. Pada sanggah itu digantungkan lamak,sampian,dan sepasang sujang berisi arak dan berem
v Banten sanggahnya adalah banten
soda.
v Di bawahnya( ditanah) letakkan
seperangkat banten pejati,banten suci alit asoroh,sebagai hulu banten caru
tersebut.
v Selanjutnya pada samping kanan dari caru diletakkan seperangkat banten pengulapan,beserta alat bunyui-bunyian (prakpak,sampat,tulud,kulkul).
C. P E T U N J U K :
1.
Manakala hendak merangkai upakara caru
panca sato lihatlah banten caru ayam brumbun, diambil taledannya yang berisi
untek warna putih dikeluarkan dari ngiu,kemudian diletakkan di bagian timur,selanjutnya
buatkan nasi pengrekan putih berbentuk ayam dan diatas pengrekan itu diisi
kwangen 5 bh dan nasi pengrekan itu ditumpukkan diatas nasi unteknya. Diatasnya
disusunkan olah-olahan ayam putih tulus, dan diatas olahan itu ditumpukkan
sebuah taledan lagi beerisi segehan sasah putih sebanyak 5 bh,diatas segehan itu
ditumpukkan lagi keben-kebenan berisi nasi putih,kacang saur sebanyak 5 bh, dan
diatas keben-kebenan itu disusunkan cawu yang berisi nasi putih,kacang saur
sebanyak 5 bh, dan paling atas disusunkan gelar sanga yang warna nasinya juga
putih lengkap dengan sate (manut urip yaitu 5 bh sate). Demikian juga untuk
yang lainnya caranya sama ( Untuk ayam biying,kuning/putih siungan,hita ).
2.
Penggunaan sengkuwinya.Alas dari
olahan caru menggunqkqn sengkuwi denganulatan
9 helai sebagai simbul bhuta matra,letaknya
tersusun dari bawah setelah pengrekan nasinya,dengan sebutan dalam
tandingannya disebut “PAJEGAN”. Berisi tandingan lawarnya sbb:
v Lawar merah letakkan pada
bagian kanan dari yang metanding. Ini simbul kekuatan “kala”.
v Lawar hijau letakkan pada
bagian kirinya adalah simbul kekuatan “Bhuta”.
v Lawar berwarna putih letakkan
diantara lawar merah dan hijau,sebagai simnul kekuatan “Durga”.Tetandingan ini
disebut “TRI KONA”.
Perhitungan sate “pajegannya”
memakai 3 jenis sate yaitu :sate lembat, simbul kala, sate calon simbul Bhuta,
dan sate serapah simbul Durga dengan perhitungan :tiga jenis sate tsb diikat
dijadikan satu(menjadi satu pesel) dan banyak peselnya tergantung dari
uripnya,misalnya “brumbun” ya 8 pesel (SATE PAJEGAN).
Tandingan yang kedua berada di atas
tetandingan pajegan disebut tetandingan “BAYUHAN” dengan tandingan dialasi
sebuah sengkuwi dengan ulatan 7 helai sebagai simbul “prana matra”(keharmonisan
alam “embang” atau “prana”. Tetandingan lawarnya sama dengan di atas,dan
satenya hanya satu jenis (manut urip,misalnya tengah/brumbun ya 8 katih).
Selanjutnya di atas tetandingan
Bayuhan dibuat tetandingan lagi yang disebut tetandingan “KETENGAN”, Alasnya
juga sengkuwi ulatan 5 helai sebagai simbul ‘PRADNYA MATRA” (keharmonisan luar
angkasa (langit).Tetandingan lawarnya dan posisinya sama dengan di atas, hanya
satenya satu jenis hanya satu katih.
D. P I N A K A PAKELING :.
Manakala Ngemargiang Piodalan
Kecawisan Antuk Banten Ayaban Kirang Saking Tumpeng 11 Neneten Perlu Ngadegang
Sanggah/Sanggar Surya,Riantuk Daksina
Pinaka Huluning Banten Sampun Kangkat Pinaka Upasaksi Yadnya Piodalan Sane
Kemargiang.
ETIKA MENATA BANTEN PEMEREMAN DI PIYASAN.
A. Banten
tergolong madya.
1.
Banten Asoroh Matumpeng 17 Yang
Disebut Apemereman Terdiri Dari :
v Banten
asoroh tumpeng 11 ditambah pengempu,kurenan,jerimpen 2,tegen-tegenan 1,
Suci,selean masing-masing 1 soroh,sesayut sidapurna, sesayut siwa
sampurna,tebasan pemiak kala,sesayut bayu rauh dan gering melaradan.
2.
Satu unit pebersihan dan labaan bhuta
kala terdiri dari :
v Prayascita
sebuah,Tebasan durnenggala,,segehan cacahan dan tetabuhan tuak arak.,kala hyang
dan segeh agung.
3.
Satu unit pesucian dengan runtutan :
v Tapakan
pelinggih
v Pesucian
satu unit dengan perlengkapan :sesarik,susur,kuramas,wewangian,toya
pawitra,toya wangsuh pada.,tigasan(wastra) putih kuning, saji putih kuning
ulamitik atau telor itik.
4. Masing-Masing Pelinggih:
v Di
sanggar surya suci 1, saji1, rayunan putih kuning ulam itik atau telot itik.
v Di
Dasar/Sapta Petala banten asoroh tumpeng 7,pras,penyeneng,canangsari,
v Di
Lebuh sorohan tumpeng 7
v Di
Ratu Ngrurah : sorohanntumpeng 5,ketipat kelanan,ulam itik/teluritik, ajuman.
Di bawah segehan manca warna dan kepel 2 sliwah (putih/selem).
v Jika
ada gedong Singasari : Rayunan putih kuning,sekar sarwa merik,lenga wangi burat
wangi,rantasan putih kuning,
v Pada pelinggih-pelinggih lain :
Penyeneng,ajuman dan canang sari.
5. Pepranian, Jejauman, Yaitu Unit Banten Yang Terdiri Dari Ketipat Bantal,Dan Jaja Lebeng Andus Dan Lain-Lain. Dengan banten ayaban tumpeng 7 sebagai banten nganyarin/penyineban.
6.
Menata banten ayaban di piyasan.
v Sebuah
banten pejati diletakkan paling hulu sebagai simbul kepala
v Sebuah
banten gebogan diletakkan sejajar dengan pejati sebagai simbul leher
v Banten
jerimpen dan pengambean,diletakkan di bawah/sor banten pejati pada bagian kiri
orang yang menata dengan posisi berjejer dari kiri ke kanan sesuai dengan
urutan bayu kiri (dada kiri).
v Di
bagian kanannya diletakkan banten berjejer dari kiri kekanan jenis banten
soda,,peras, dan sebuah jerimpen (sebagai simbul bayu kanan (dada kanan)
v Padas or banten tadi diletakkan banten dapetan
merupakan simbul ulu hati/hredaya menjadi sumber kehidupan bhuwana agung dan
bhuwana alit.
v Banten
Jerimpen sesungguhnya merupakan simbul kedua tangan,oleh karena itu tidak boleh
membuat satu jerimpen,karena maknanya sebagai kekuatan “Surya Murti´dan “Candra
Murti” (Kekuatan akasa dan pertiwi).
v Kemudian banten sesayut dan tebasan letaknya
di sor banten dapetan merupakan simbul perut,memiliki maka sebagai kekuatan
isin jagat.
v Lalu banten Pengulapan,Prayascita dan Beyakaon
disebelah kanan dari sang pemuput/penganteb.
v Banten
Taksu sang pemuput letakkan disebelah kiri sang muput.
v Banten
Caru letaknya di bawah pada halaman mrajan
di depan pelinggih pokok,merupakan simbul kaki memiliki makna sebagai
kekuatan sapta petala.
v Meletakkan
penimpug kea rah selatan dari orang yang menyulutnya menghadap ke selatann sebagai simbul kea rah
Brahma Loka dengan dewa penimpugnya “dewa Utasana” memiliki makna untuk memohon
pengesengan dengan kekuatan Brahmanya.
Demikian
Semoga Dapat Dipedomani Dan Dimanfatkan Dengan Sebaik-Baiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar