Pengertian Catur Marga
Catur Marga berasal dari dua kata yaitu Catur dan Marga. Catur berarti empat dan Marga berarti jalan/cara ataupun usaha. Jadi Catur Marga adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Catur Marga juga sering disebut dengan Catur Yoga Marga. Catur Marga atau Catur Yoga disebutkan adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sumber ajaran Catur Marga diajarkan dalam pustaka suci Bhagavad Gita, terutama pada trayodhyaya tentang karma yoga/marga yakni sebagai satu sistem yang berisi ajaran yang membedakan antara ajaran subha karma (perbuatan baik) dengan ajaran asubha karma (perbuatan yang tidak baik) yang dibedakan menjadi perbuatan tidak berbuat (akarma) dan wikarma (perbuatan yang keliru).
Dalam ajaran Agama
Hindu terdapat empat jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup lahir dan batin (Jagadhita
dan Moksa ) yang disebut Catur Marga.
Catur Marga terdiri dari dua kata yanitu “Catur” artinya empat, “Marga” artinya jalan atau caraa artinya. Jadi Catur Marga artinya empat jalan atau cara untuk menghubungkan diri dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi) untuk mencapai kesempurnaan
Bagian – Bagian Catur Marga
1 . Bhakti Marga
Bhakti Marga jalan untuk
menuju Tuhan dengan cara bhakti dengan berlandaskan
atas dasar cinta kasih yang mendalam kepada Ida
Sang Hyang Widhi dan segala ciptaan-Nya. Ajaran Bhakti Marga adalah berupa penyerahan diri secara bulat kepada Tuhan( Sang Hyang Widhi). Penyerahan ini
benar-benar diwujudkan oleh adanya perasaan cinta kasih (bhakti) yang mendalam
dan terus menerus kehadapan Tuhan (Sang
Hyang Widhi) seperti yang disebutkan Dalam kitab suci Bhagawadgita.
Sivananda (1997:129-130) menyatakan bahwa bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan jalan kepatuhan atau bhakti. Bhakti yoga disenangi oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan merupakan pengejawantahan dari kasih sayang, dan dapat diwujudkan melalui cinta kasih seperti cinta suami kepada istrinya yang menggelora.Cinta kepada Tuhan harus selalu. Mereka yang mencintai Tuhan diutamakan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan. Ia tak pernah membenci makhluk hidup atau benda apa pun, dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi.Ia merangkul semuanya dalam dekapan tingkat kasih sayangnya. Kama (keinginan duniawi) dan trisna (kerinduan) merupakan musuh dari rasa bhakti. Selama ada jejak-jejak keinginan dalam pikiran terhadap objek-objek duniawi, seseorang tidak dapat memiliki kerinduan yang dalam terhadap Tuhan. Atma-Nivedana merupakan penyerahan diri secara total setulus hati kepada Tuhan, yang merupakan anak tangga tertinggi dari Navavidha Bhakti, atau sembilan cara bhakti.Atma-Nivedana adalah Prapatti atau Saranagati.Penyembah menjadi satudengan Tuhan melalui Prapatti dan memperoleh karunia Tuhan yang disebut Prasada.Bhakti merupakan suatu ilmu spiritual terpenting, karena mereka yang memiliki rasa cinta kepada Tuhan, sesungguhnya kaya.Tak ada kesedihan selain tidak memiliki rasa bhakti kepada Tuhan.Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu Para Bhakti dan Apara Bhakti. Para artinya utama; jadi para bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara bhakti artinya tidak utama; jadi apara bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja.Para bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi. Ciri-ciri bhakti yang melaksanakan apara bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa). Sedangkan ciri-ciri bhakti yang melaksanakan para bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari tattwa Agama dan kuat/berdisiplin dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama sehingga dapat mewujudkan Tri kaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakti yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri)
2. Jnana Marga
Jnana Marga adalah jalan
menuju Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan
Yang Maha Esa melalui pengetahuan atau belajar sepanjang hayat.Di dalam hidup
ini kita harus selalu mengisi diri dengan belajar untuk menimba ilmu setinggi
mungkin sehingga kelak akan menjadi orang yang bijaksana serta selalu mengayomi
yang lemah, hanya pengetahuanlah yang dapat menerangi jiwa seseorang dari
kegelapan hidupnya.
Pelepasan dicapai melalui realisasi identitas dari roh
pribadi dengan roh tertinggi atau Brahman.Penyebab ikatan dan penderitaan adalah
avidya atau ketidaktahuan.Jiwa kecil,
karena ketidaktahuan secara bodoh menggambarkan dirinya terpisah dari Brahman.Avidya bertindak sebagai tirai atau
layer dan menyelubungi jiwa dari kebenaran yang sesungguhnya, yaitu bersifat
Tuhan.Pengetahuan tentang Brahman
atau Brahma jñana membuka selubung
ini dan membuat jiwa bersandar pada Sat-Cit-Ananda
Svarupa (sifat utamanya sebagai keberadaan kesadaran kebahagian mutlak)
dirinya.Jnana bukan hanya pengetahuan
kecerdasan, mendengarkan atau membenarkan.Ia bukan hanya persetujuan
kecerdasan, tetapi realisasi langsung dari kesatuan atau penyatuan dengan yang
tertinggi yang merupakan paravidya.
Keyakinan intelekual saja tak akan membawa seseorang kepada Brahma Jnana (pengetahuan dari yang mutlak). Pelajar Jñana Yoga pertama-tama melengkapi
dirinya dengan tiga cara yaitu (1) pembedaan (viveka), (2) ketidakterikatan (vairagya),
(3) kebajikan, ada enam macam (sat-sampat),
yaitu: (a) ketenangan (sama), (b)
pengekangan (dama), (c)penolakan (uparati), ketabahan (titiksa), (d) keyakinan (sraddha), (e) konsentrasi (samadhana), dan (f) kerinduan yang
sangat akan pembebasan (mumuksutva).
Selanjutnya ia mendengarkan kitab suci dengan duduk khusuk didepan tempat duduk
(kaki padma) seorang guru yang tidak saja menguasai kitab suci Veda (Srotriya), tetapi juga bagus dalam Brahman (Brahmanistha). Selanjutnya para siswa melaksanakan perenungan,
untuk mengusir segala keragu-raguan.Kemudian melaksanakan meditasi yang
mendalam kepada Brahman dan mencapai Brahma-Satsakara.Ia seorang Jivanmukta (mencapai moksa, bersatu
dengan-Nya dalam kehidupan ini). Ada tujuh tahapan dari Jñana atau pengetahuan, yaitu (1) aspirasi pada kebenaran (subhecha), (2) pencarian filosofis (vicarana), (3) penghalusan pikiran (tanumanasi), (4) pencapaian sinar (sattwatti), (5) pemisahan batin (asamsakti), (6) penglihatan spiritual (padarthabhawana), dan (7) kebebasan
tertinggi (turiya).
3. Karma Marga
Karma Marga adalah jalan pelayanan tanpa
pamrih. Yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja. Kerja yang dimaksud
adalah kerja yang ikhlas seperti menolong teman saat terkena musibah, ikut
membersihkan lingkungan sekolah, membantu menyeberangkan orang dijalan.
Karma yoga adalah jalan pelayanan tanpa pamrih,
yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih.Yoga ini
merupakan penolakan terhadap buah perbuatan.Karma
Yoga mengajarkan bagaimana bekerja demi untuk kerja itu, yaitu tiadanya
keterikatan.Demikian juga bagaimana menggunakan tenaga untuk keuntungan yang
terbaik.Bagi seorang Karmayogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap
pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang
Karmayogin tidak terikat oleh karma (hukum sebab akibat), karena ia
mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan yang Maha Esa. Penjelasan
tentang setiap pekerjaan dilaksanakan sebagai wujud bhakti kepada Tuhan yang
Maha Esa dijelaskan dalamBhagavad
Gita IX.27-28
sebagai berikut.
“Wahai Arjuna, apapun yang engkau kerjakan, apa pun yang engkau makan, apa pun yang engkau persembahkan, dan engkau amalkan, juga disiplin diri apa pun yang engkau laksanakan. Lakukanlah semuanya itu hanya sebagai bentuk bhakti kepada Aku. Dengan demikian engkau akan terbebas dari ikatan kerja atau perbuatan yang menghasilkan pahala baik atau buruk. Dengan pikiran terkendali, engkau akan terbebas dan mencapai Aku”
4. Raja Marga
Raja Marga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui
pengekangan diri dan pengendalian diri dan pengendalian pikiran. Raja Marga mengajarakan bagaimana
mengendalikan diri seperti tidak boleh marah, tidak boleh memukul teman. Raja Marga dapat dilakukan dengan
meditasi atau beryoga semadhi atau melakukan gerakan yoga.
Raja Yoga adalah jalan yang membawa penyatuan
dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui pengekangan diri dan pengendalian diri dan
pengendalian pikiran.Raja yoga
mengajarkan bagaimana mengendalikan indra-indra dan vritti mental atau gejolak pikiran yang muncul dari pikiran melalui
tapa, brata, yoga dan samadhi.Dalam Hatha
Yoga terdapat disiplin fisik, sedangkan dalam Raja Yoga terdapat disiplin pikiran. Melakukan Raja Marga Yoga hendaknya dilakukan secara bertahap melalui Astāngga yoga yaitu delapan tahapan
yoga, yang meliputi yama, niyama, asana,
pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi.Seseorang yang
melaksanakan ajaran Raja Marga Yoga
disebut dengan sebutan yogi. Yogi berkonsentrasi pada cakra-cakra, pikiran,
matahari, bintang, unsur-unsur alam semesta dan sebagainya dan mencapai
pengetahuan supra manusia dan memperoleh penguasaan atas unsur-unsur tersebut.
Daya konsentrasi hanya kunci untuk membuka rumah tempat penyimpanan kekayaan
pengetahuan. Konsentrasi tak dapat muncul dalam waktu seminggu atau sebulan,
karena ia memerlukan waktu. Pengaturan dalam melaksanakan konsentrasi merupakan
kepentingan yang utama. Brahmacarya,
tempat yang dingin dan sesuai, pergaulan dengan orang-orang suci (satsanga) dan sattvika merupakan alat
bantu dalam konsentrasi.Konsentrasi dan meditasi menuntun menuju samadhi atau
pengalaman suprasadar, yang memiliki beberapa tingkatan pendakian, disertai
atau tidak disertaidengan pertimbangan (vitarka),
analisa (vicara), kebahagiaan (ananda), dan kesadaran diri
(asmita).Demikian, kailvaya atau
kemerdekaan tertinggi dicapai.Dari keempat jalan tersebut semuanya adalah sama,
tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah, semuanya baik dan utama
tergantung pada kepribadian,watak dan kesanggupan manusia untuk
melaksanakannya.
Ajaran Catur Marga selain dipelajari secara teori (ilmu pengetahuan)
perlu juga diterapkan daalam kehidupan kita sehari-hari.Bhakti Marga dapat di lakukan dalam keluarga dengan jalan yang utama untuk memupuk perasaan
bhakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas dengan
melaksanakan Tri Sandhya yaitu sembahyang tiga kali dalam sehari, pagi, siang,
dan sore hari serta melaksanakanyajña sesa/ngejot setelah selesai memasak.
Dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya dalam mewujudkan rasa bhakti
sekaligus mendekatkan diri ke hadapan-Nya hendaknya melaksanakan puja Tri Sandya tersebut dengan tulus dan
ikhlas.Implementasi Bhakti Marga/yoga juga dapat dilihat pada hari-hari
keagaman Hindu, seperti hari Saraswati,
Tumpek Wariga dan Tumpek Uye.Hari Saraswati adalah hari turunnya ilmu pengetahuan dengan memuja dewi
yang dilambangkan sebagai ilmu pengetahuan yaitu Dewi Saraswati.Hari Saraswati
ini jatuh pada hari Saniscara Umanis
Watugunung dan diperingati setiap 210 hari.Pada hari ini semua pustaka
terutama Veda dan sastra-sastra Agama
dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati untuk diberikan suatu upacara.Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan dewi Saraswati
harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari.Dari pagi sampai tengah
hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Veda dan sastranya. Bagi yang
melaksanakan Brata Saraswati dengan
penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan
bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan
menulis.Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang
samadhi.Adapun simbol-simbol dewi Saraswati
sebagai dewi ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut ini.
1. Wanita
cantik : sifat ilmu pengetahuan itu sangat mulia, lemah lembut dan menarik
hati.
2. Genitri:
ilmu pengetahuan itu tidak akan ada akhirnya dan selamahidup ini tidak akan
habis untuk dipelajari.
3. Keropak:
melambangkan sumber ilmu pengetahuan.
4. Wina
: melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat sangathalus.
5. Teratai
: melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat sangat suci.
6. Burung
merak : melambangkan ilmu pengetahuan itu sangat berwibawa.
7. Burung
angsa : melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat sangat bijaksana,
dapat membedakan antara yang baik dengan yang tidak baik.
Sedangkan Tumpek Wariga merupakan upacara untuk
menghormati keberadaan tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk hidup di dunia atau
dikenal dengan istilah “ngotonin sarwa
entik-entikan”. Sementara Tumpek Uye
atau Tumpek Kandang upacara dalam
menghormati keberadaan hewan atau binatang yang hidup di dunia yang sering
dikenal dengan istilah “ngotonin sarwa
ubuhan”.Keduanya jatuh tepat setiap 210 hari dalam perhitungan Hindu.Dalam
konsep Tri Hita Karana penghormatan
ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
atas pengadaan hewan dan tumbuhan ini dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Dengan
kata lain melaksanakan upacara Tumpek
ini adalah realisasi dari konsep Tri Hita
Karana alam kehidupan. Jika semua itu sudah kita lakukan dengan rasa tulus
dan ikhlas berarti kita telah melaksanakan ajaran Bhakti Marga Yoga.
Penerapan Janana Marga dlam Keluarga dapat dilakukan dalam dengan jalan Brahmacari adalah mengenai masa menuntut ilmu
dengan tulus ikhlas. Tugas pokok kita pada sebagian masa ini adalah
belajar.Belajar dalam arti luas, yakni dalam pengertian bukan hanya membaca
buku.Tetapi lebih mengacu pada ketulusikhlasan dalam segala hal.Contohnya rela
dan ikhlas jika dimarahi guru atau orangtua. Guru dan orangtua, jika memarahi
pasti demi kebaikan anak. Maha Rsi Wararuci dalam Kitab Sarassamuccaya, sloka 27 mengajari kita memanfaatkan
masa muda ini dengan sebaik-baiknya, yang beliau contohkan seperti
rumputilalang yang masih muda. Ketika masih muda pikiran kita masih sangat
tajam, jadi hendaknya digunakan untuk menuntut dharma, dan ilmu
pengetahuan.Dengan tajamnya pikiran seorang anak juga dapat meyajñakan tenaga
dan pikirannya itu.Ajaran Aguron-guron Merupakan suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan
murid. Namun istilah dan proses ini telah lama dilupakan karena sangat susah
mendapatkanguru yang mempunyai kualifikasi tertentu dan juga sangat sedikit
orang menaruh perhatian dan minat terhadap hal ini. Maka untuk memenuhi kualifikasi
tertentu, hendaknya seorang guru mencari sekolah yang mempunyai kurikulum yang
membawa kesadaran kita melambung tinggi melampaui batas-batas senang dan sedih,
bahagia dan derita, lahir dan mati. Guru seperti itu pasti akandating kepada
kita. Menuntun kita, menentukan arah tujuan kita, menunjukkan cara dan
metodenya, menghibur dan menyemangatinya. Jangan ragu, pasti akan ada guru yang
datang kepada kita.
Ajaran Catur Guru
Berhasilnya
seseorang menempuh jenjang pendidikan tertentu ( pendidikan tinggi yang
berkualitas) tidak akan mungkin bila kita tidak memiliki rasa bhaktikepada
Catur Guru. Mereka yang melaksanakan ajaran Guru Bhakti sejak dini (anak-anak),
pada umumnya memiliki disiplin dan percaya diri yang mantap pula. Dengan
disiplin dan percaya diri yang mantap, tidak saja akan sukses dalambidang
akademik, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Di sinilah kita
melihat ajaran Catur Guru Bhakti senantiasa relevan sepanjang masa, sesuai
dengan sifat agama Hindu yang Sanatana Dharma. Aktualisasi ajaran Guru Bhakti
atau rasa bhakti kepada Catur Guru dapat dikembangkan dalam situasi apa pun,
sebab hakikat dari ajaran ini adalah untuk pendidikan diri, utamanya pendidikan
disiplin, patuh dan taat kepada sang Catur Guru dalam arti yang seluas-luasnya.
Penrapan
Karma Marga dalam Keluarga dapat dilakukan dengan jalan Berbuat ikhlas dan
membantu dalam bahasa Bali Ngayah dan Matatulung: merupakan suatu istilah yang
ada di Bali dan identik dengan gotong royong. Ngayah ini dapat dilakukan di
pura-pura dalam hal upacara keagamaan, seperti odalan-odalan/karya.Sedangkan
matatulungan ini bisa dilakukan antar manuasia yang mengadakan upacara
keagamaan pula, seperti upacara pawiwahan, mecaru dan lains ebagainya. Sesuai
denganajaran karma yoga, hendaknya ngayah atau matatulungan ini dilakukan
secara ikhlas tanpa ada ikatan apa pun. Dengan demikian, apa yang kitalakukan
dapat memberikan suatu manfaat.
Berkarma yang Baik
Berbuat baik atau mekarma sane melah hendaknya selalu kita lakukan.Dalam agama Hindu ada slogan mengatakan “Rame ing gawe sepi ing pamrih” Slogan itu begitu melekat pada diri kita sebagai orang Hindu.Banyaklah berbuat baik tanpa pernah berpikir dan berharap suatu balasan. Dengan begitu niscaya kita akan selalu mendapat karunia-Nya tanpa pernah terpikirkan dan kita sadari. Untuk melaksanakan slogan itu dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah untuk memulainya.Sebagai makhluk ciptaan Brahman, sepantasnya kita menyadari bahwa sebagian dari hidup kita adalah untuk melayani.Ber-karma baik itu adalah suatu pelayanan. Kita akan ikut berbahagia bila bisa menyenangkan orang lain.Hal ini tentu dibatasi oleh perbuatan Dharma. Slogan “Tat Twam Asi” adalah salahsatu dasar untuk ber-Karma Baik. Engkau adalah Aku, Itu adalah Kamu juga.Suatu slogan yang sangat sederhana untuk diucapkan, tapi memiliki arti yangsangat mendalam, baik dalam arti pada kehidupan sosial umat dan juga sebagaidiri sendiri/individu yang memiliki pertanggungjawaban karma langsung kepadaBrahman.
Ajaran Karmaphala
Karmaphala
merupakan hasil dari suatu perbuatan yang dilakukan.Kita percaya bahwa
perbuatan yang baik (subha karma)
membawa hasil yang baik danperbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat
baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang
berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan
kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan
etika dan cara yang baik guna mencapaicita- cita yang luhur dan selalu menghindari
jalan dan tujuan yang buruk. Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk surga
atau masuk neraka.Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang
didapat adalah surga, sebaliknya bila hidupnya itu selalu berkarma buruk maka
hukuman nerakalah yang diterimanya.Dalam pustaka- pustaka dan ceritera-
ceritera keagamaan dijelaskan bahwa surga artinya alam atas, alam suksma, alam
kebahagiaan, alamyang serba indah dan serba mengenakkan.Neraka adalah alam
hukuman, tempatroh atau atma mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk
selama masa hidupnya. Selesai menikmati surga atau neraka, roh atau atma akan
mendapatkan kesempatan mengalami penjelmaan kembali sebagai karya penebusan
dalam usaha menuju moksa.
Penerapan
Raja Marga dalam keluarga dapat dilakukan dengan Penerapan Raja Marga Yoga ini antara lain
terdapat pada ajaran Astānggayoga, yaitu catur brata penyepian.
Astāngga
yoga merupakan delapan anggota dari raja yoga yang terdiri dariyama, niyama,
asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan Samadhiadalah delapan
anggota (anga) dari Raja Yoga yama membentuk disiplin etikayang memurnikan
hati. Yama terdiri atas ahimsa (tanpa kekerasan), satya (kejujuran),
brahmacarya (selibat), asteya (tidak mencuri), dan aparigraha (tidak menerima
pemberian kemewahan).Semua kebajikan berakar pada ahimsa. Niyama adalah
kepatuhan, dan tersusun atas sauca (permurnian dalam dan luar),santosa
(kepuasan jiwa), tapas (kesederhanaan/pengendalian diri), svadhyaya(belajar
kitab suci dan pengucaran mantra) dan isvarapranidhana (berserah diripada Tuhan
Yang Maha Esa). Mereka yang bagus dalam yama dan niyama akan cepat maju dalam
melaksanakan yoga pada umumnya. Dengan yama dan niyama seseorang dapat
mewujudkan cittasuddhi atau atmasuddhi (kesucian hati).Asana, pranayama dan
pratyahara merupakan perlengkapan pendahuluan dariyoga.Asana adalah sikap badan
yang benar. Pranayama adalah pengaturan napas,yang menghasilkan ketenangan
indra dan kemantapan pikiran serta kesehatan yang baik. Pratyahara adalah
penarikan indra-indra dari objek-objeknya.Seseorang harus melakukan pratyahara
untuk dapat melihat di dalam batin dan memiliki pemusatan pikiran.Dharana
adalah konsentrasi pikiran pada suatu objek atau cakra dalam istadevata.Lalu
menyusul dhyana, atau meditasi pengaliran yang tak henti-hentinya daripemikiran
satu objek, yang nantinya membawa kepada keadaan samadhi.Saat seperti itu yang
bermeditasi dan yang dimeditasikan menjadi satu.Semua vritti yakni gejolak
pikiran mengendap.Pikiran kehilangan fung-sinya.Segala samskara, kesan-kesandan
vasana (kecen-derungan danpikiran halus) terbakar sepenuhnya dan yogi
(pelaksana yoga) terbebas dari kelahiran dan kematian.Ia mencapai kaivalya atau
pembebasan akhir (kemerdekaan mutlak) Pelaksanaan Hari Raya Nyepi, pada
hakikatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan
mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin
(jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam
(kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan).
Contoh Penerapan Catur Marga di
Sekolah.
Melakukan persembahyang dipagi hari sebelum belajar merupakan salah satu
kegiatan Catur Marga disekolah.
Sembahyang merupakan hal yang wajib yang harus dilakukan oleh semua Peserta
didik sebelum pembelajaran dimulai, hal ini dilakukan dengan tujuan selalu
mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, disampi itu sembahyang juga dapat
memberikan pengaruh fositif terhadap perkembangan jiwa dan mental peserta didik
tersebut sehingga memeliki prilaku yang sesuai dengan yang diajurkan oleh
ajaran agama.
Berbakti kepada guru merupakan salah kegiatan catur Marga disekolah. Seorarang Peserta didik diwajibkan untuk
selalu berbhakti kepada Guru ini sesuai dengan salah satu ajaran agama Hindu yaitu
Catur Guru yang mengajarkan Peserta didik untuk selalu berbakti kepada Guru ini
dilakukan karane Guru telah berjasa dalam mendidik mereka menjadai orang yang
baik sesui dengan kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku.
Menyiram bunga memelihara tataman dilingkungan sekolah merupakan kegiatan
catur marga di sekolah. Memelihara lingkungan sekolah adalah tanggung jawab
bersama dan ini juga merupakan tanggung jawab Peserta didik sebagai waujud rasa
memiliki atas lingkungan yang meraka gunakan untuk tempat belajar.
Brahmacari adalah mengenai masa menuntut ilmu dengan tulus
ikhlas.Tugas pokok kita pada sebagian masa ini adalah belajar.Belajar dalam
arti luas, yakni dalam pengertian bukan hanya membaca buku.Tetapi lebih mengacu
pada ketulusikhlasan dalam segala hal.Contohnya rela dan ikhlas jika dimarahi
guru atau orangtua. Guru dan orangtua, jika memarahi pasti demi kebaikan anak.
Maha Rsi Wararuci dalam Kitab Sarassamuccaya, sloka 27 mengajari kita memanfaatkan masa muda ini dengan
sebaik-baiknya, yang beliau contohkan seperti rumputilalang yang masih muda.
Ketika masih muda pikiran kita masih sangat tajam, jadi hendaknya digunakan
untuk menuntut dharma, dan ilmu pengetahuan.Dengan tajamnya pikiran seorang
anak juga dapat meyajñakan tenaga dan pikirannya itu.Ajaran
Aguron-guron Merupakan
suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan murid.
Contoh Penerapan Catur Marga di Masyarakat
Melakukan gotong
royong bersama memberishkan selokan
membantu warga yang sedang kena musibah dan ikut menjaga
kebersihan lingkungan Desa sebagai serta kemanan dan ketertiban Desa sebagai salah
satu cotoh prilaku Catur Marga di
Masyarakat. menjaga keharmonisan didesa dengan melaksanakan persembahyang
bersama di Pura Desa seperti Pura Bale
Agung, Pura Puseh dan Pura dalem merupakan waujud penerapam Bhakti Marga di masyarakat. Penerapan
Janana Marga dimasyarakat dapat dilakukan dengan jalan ikut memberikan arahan
dan bimbingan kepada waraga atau anak-anak agar tidak nakal, atau agar menjaga
kebersihan linguannya dengan menjelaskan manfaat menjaga lingkungan di
Desa.bisa juga dengan jalan membangun pasraman bagi anak-anak di desa. Peneraman
Karma Marga di Masyarakat dapat dilakukan dengan jalan ikut membersihkan
selokan, ikut membatu warga yang kena musibah, bila kita mampu makan kita ikut
membatu warga yang kurang mampu dalam hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar