Rabu, 22 Februari 2023

CATUR MARGA

Pengertian Catur Marga 

Catur Marga berasal dari dua kata yaitu Catur dan Marga. Catur berarti empat dan Marga berarti jalan/cara ataupun usaha. Jadi Catur Marga adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Catur Marga juga sering disebut dengan Catur Yoga Marga. Catur Marga atau Catur Yoga disebutkan adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa

Sumber ajaran Catur Marga diajarkan dalam pustaka suci Bhagavad Gita, terutama pada trayodhyaya tentang karma yoga/marga yakni sebagai satu sistem yang berisi ajaran yang membedakan antara ajaran subha karma (perbuatan baik) dengan ajaran asubha karma (perbuatan yang tidak baik) yang dibedakan menjadi perbuatan tidak berbuat (akarma) dan wikarma (perbuatan yang keliru). 

 

Dalam ajaran Agama Hindu terdapat empat jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup lahir dan batin (Jagadhita dan Moksa ) yang disebut Catur Marga.

Catur Marga terdiri dari dua kata yanitu “Catur” artinya empat, “Marga” artinya jalan atau caraa artinya. Jadi Catur Marga artinya empat jalan atau cara untuk menghubungkan diri dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi) untuk mencapai kesempurnaan


Bagian – Bagian Catur Marga

1 . Bhakti Marga 

Bhakti Marga jalan untuk menuju Tuhan dengan cara bhakti dengan berlandaskan atas dasar cinta kasih yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi dan segala ciptaan-Nya. Ajaran Bhakti Marga adalah berupa penyerahan diri  secara bulat kepada Tuhan( Sang Hyang Widhi). Penyerahan ini benar-benar diwujudkan oleh adanya perasaan cinta kasih (bhakti) yang mendalam dan terus menerus kehadapan Tuhan (Sang Hyang Widhi) seperti yang disebutkan Dalam kitab suci Bhagawadgita.

Sivananda (1997:129-130) menyatakan bahwa bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan jalan kepatuhan atau bhakti. Bhakti yoga disenangi oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan merupakan pengejawantahan dari kasih sayang, dan dapat diwujudkan melalui cinta kasih seperti cinta suami kepada istrinya yang menggelora.Cinta kepada Tuhan harus selalu. Mereka yang mencintai Tuhan diutamakan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan. Ia tak pernah membenci makhluk hidup atau benda apa pun, dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi.Ia merangkul semuanya dalam dekapan tingkat kasih sayangnya. Kama (keinginan duniawi) dan trisna (kerinduan) merupakan musuh dari rasa bhakti. Selama ada jejak-jejak keinginan dalam pikiran terhadap objek-objek duniawi, seseorang tidak dapat memiliki kerinduan yang dalam terhadap Tuhan. Atma-Nivedana merupakan penyerahan diri secara total setulus hati kepada Tuhan, yang merupakan anak tangga tertinggi dari Navavidha Bhakti, atau sembilan cara bhakti.Atma-Nivedana adalah Prapatti atau Saranagati.Penyembah menjadi satudengan Tuhan melalui Prapatti dan memperoleh karunia Tuhan yang disebut Prasada.Bhakti merupakan suatu ilmu spiritual terpenting, karena mereka yang memiliki rasa cinta kepada Tuhan, sesungguhnya kaya.Tak ada kesedihan selain tidak memiliki rasa bhakti kepada Tuhan.Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu Para Bhakti dan Apara Bhakti. Para artinya utama; jadi para bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara bhakti artinya tidak utama; jadi apara bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja.Para bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi. Ciri-ciri bhakti yang melaksanakan apara bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa). Sedangkan ciri-ciri bhakti yang melaksanakan para bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari tattwa Agama dan kuat/berdisiplin dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama sehingga dapat mewujudkan Tri kaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan  Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakti yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri)

2. Jnana Marga

Jnana Marga adalah jalan menuju Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa melalui pengetahuan atau belajar sepanjang hayat.Di dalam hidup ini kita harus selalu mengisi diri dengan belajar untuk menimba ilmu setinggi mungkin sehingga kelak akan menjadi orang yang bijaksana serta selalu mengayomi yang lemah, hanya pengetahuanlah yang dapat menerangi jiwa seseorang dari kegelapan hidupnya.

Pelepasan dicapai melalui realisasi identitas dari roh pribadi dengan roh tertinggi atau Brahman.Penyebab ikatan dan penderitaan adalah avidya atau ketidaktahuan.Jiwa kecil, karena ketidaktahuan secara bodoh menggambarkan dirinya terpisah dari Brahman.Avidya bertindak sebagai tirai atau layer dan menyelubungi jiwa dari kebenaran yang sesungguhnya, yaitu bersifat Tuhan.Pengetahuan tentang Brahman atau Brahma jñana membuka selubung ini dan membuat jiwa bersandar pada Sat-Cit-Ananda Svarupa (sifat utamanya sebagai keberadaan kesadaran kebahagian mutlak) dirinya.Jnana bukan hanya pengetahuan kecerdasan, mendengarkan atau membenarkan.Ia bukan hanya persetujuan kecerdasan, tetapi realisasi langsung dari kesatuan atau penyatuan dengan yang tertinggi yang merupakan paravidya. Keyakinan intelekual saja tak akan membawa seseorang kepada Brahma Jnana (pengetahuan dari yang mutlak). Pelajar Jñana Yoga pertama-tama melengkapi dirinya dengan tiga cara yaitu (1) pembedaan (viveka), (2) ketidakterikatan (vairagya), (3) kebajikan, ada enam macam (sat-sampat), yaitu: (a) ketenangan (sama), (b) pengekangan (dama), (c)penolakan (uparati), ketabahan (titiksa), (d) keyakinan (sraddha), (e) konsentrasi (samadhana), dan (f) kerinduan yang sangat akan pembebasan (mumuksutva). Selanjutnya ia mendengarkan kitab suci dengan duduk khusuk didepan tempat duduk (kaki padma) seorang guru yang tidak saja menguasai kitab suci Veda (Srotriya), tetapi juga bagus dalam Brahman (Brahmanistha). Selanjutnya para siswa melaksanakan perenungan, untuk mengusir segala keragu-raguan.Kemudian melaksanakan meditasi yang mendalam kepada Brahman dan mencapai Brahma-Satsakara.Ia seorang Jivanmukta (mencapai moksa, bersatu dengan-Nya dalam kehidupan ini). Ada tujuh tahapan dari Jñana atau pengetahuan, yaitu (1) aspirasi pada kebenaran (subhecha), (2) pencarian filosofis (vicarana), (3) penghalusan pikiran (tanumanasi), (4) pencapaian sinar (sattwatti), (5) pemisahan batin (asamsakti), (6) penglihatan spiritual (padarthabhawana), dan (7) kebebasan tertinggi (turiya).

 Jnana Marga sesungguhnya dapat dilakukan dengan menuntut Ilmu pengetahu setinggi mukin, dan mengamalkan pengetahuan itu sebagai bagian dari jalan hidup ini, di sekolah Jnana Marga dapat dilakukan dengan rajin belajar dan tidak pernah nakal dikelas saat guru menerangkan materi pembelajara

3. Karma Marga

Karma Marga  adalah jalan pelayanan tanpa pamrih. Yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja. Kerja yang dimaksud adalah kerja yang ikhlas seperti menolong teman saat terkena musibah, ikut membersihkan lingkungan sekolah, membantu menyeberangkan orang dijalan.

Karma yoga adalah jalan pelayanan tanpa pamrih, yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih.Yoga ini merupakan penolakan terhadap buah perbuatan.Karma Yoga mengajarkan bagaimana bekerja demi untuk kerja itu, yaitu tiadanya keterikatan.Demikian juga bagaimana menggunakan tenaga untuk keuntungan yang terbaik.Bagi seorang Karmayogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang Karmayogin tidak terikat oleh karma (hukum sebab akibat), karena ia mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan yang Maha Esa. Penjelasan tentang setiap pekerjaan dilaksanakan sebagai wujud bhakti kepada Tuhan yang Maha Esa dijelaskan dalamBhagavad Gita IX.27-28 sebagai berikut.

“Wahai Arjuna, apapun yang engkau kerjakan, apa pun yang engkau makan, apa pun yang engkau persembahkan, dan engkau amalkan, juga disiplin diri apa pun yang engkau laksanakan. Lakukanlah semuanya itu hanya sebagai bentuk bhakti kepada Aku. Dengan demikian engkau akan terbebas dari ikatan kerja atau perbuatan yang menghasilkan pahala baik atau buruk. Dengan pikiran terkendali, engkau akan terbebas dan mencapai Aku”

4. Raja Marga

Raja Marga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui pengekangan diri dan pengendalian diri dan pengendalian pikiran. Raja Marga mengajarakan bagaimana mengendalikan diri seperti tidak boleh marah, tidak boleh memukul teman. Raja Marga dapat dilakukan dengan meditasi atau beryoga semadhi atau melakukan gerakan yoga.

Raja Yoga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui pengekangan diri dan pengendalian diri dan pengendalian pikiran.Raja yoga mengajarkan bagaimana mengendalikan indra-indra dan vritti mental atau gejolak pikiran yang muncul dari pikiran melalui tapa, brata, yoga dan samadhi.Dalam Hatha Yoga terdapat disiplin fisik, sedangkan dalam Raja Yoga terdapat disiplin pikiran. Melakukan Raja Marga Yoga hendaknya dilakukan secara bertahap melalui Astāngga yoga yaitu delapan tahapan yoga, yang meliputi yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi.Seseorang yang melaksanakan ajaran Raja Marga Yoga disebut dengan sebutan yogi. Yogi berkonsentrasi pada cakra-cakra, pikiran, matahari, bintang, unsur-unsur alam semesta dan sebagainya dan mencapai pengetahuan supra manusia dan memperoleh penguasaan atas unsur-unsur tersebut. Daya konsentrasi hanya kunci untuk membuka rumah tempat penyimpanan kekayaan pengetahuan. Konsentrasi tak dapat muncul dalam waktu seminggu atau sebulan, karena ia memerlukan waktu. Pengaturan dalam melaksanakan konsentrasi merupakan kepentingan yang utama. Brahmacarya, tempat yang dingin dan sesuai, pergaulan dengan orang-orang suci (satsanga) dan sattvika merupakan alat bantu dalam konsentrasi.Konsentrasi dan meditasi menuntun menuju samadhi atau pengalaman suprasadar, yang memiliki beberapa tingkatan pendakian, disertai atau tidak disertaidengan pertimbangan (vitarka), analisa (vicara), kebahagiaan (ananda), dan kesadaran diri (asmita).Demikian, kailvaya atau kemerdekaan tertinggi dicapai.Dari keempat jalan tersebut semuanya adalah sama, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah, semuanya baik dan utama tergantung pada kepribadian,watak dan kesanggupan manusia untuk melaksanakannya.


 Contoh Penerapan Catur Marga dalam Keluarga

Ajaran Catur Marga selain dipelajari secara teori (ilmu pengetahuan) perlu juga diterapkan daalam kehidupan kita sehari-hari.Bhakti Marga dapat di lakukan dalam keluarga  dengan jalan yang utama untuk memupuk perasaan bhakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas dengan melaksanakan Tri Sandhya yaitu sembahyang tiga kali dalam sehari, pagi, siang, dan sore hari serta melaksanakanyajña sesa/ngejot setelah selesai memasak. Dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya dalam mewujudkan rasa bhakti sekaligus mendekatkan diri ke hadapan-Nya hendaknya melaksanakan puja Tri Sandya tersebut dengan tulus dan ikhlas.Implementasi Bhakti Marga/yoga juga dapat dilihat pada hari-hari keagaman Hindu, seperti hari Saraswati, Tumpek Wariga dan Tumpek Uye.Hari Saraswati adalah hari turunnya ilmu pengetahuan dengan memuja dewi yang dilambangkan sebagai ilmu pengetahuan yaitu Dewi Saraswati.Hari Saraswati ini jatuh pada hari Saniscara Umanis Watugunung dan diperingati setiap 210 hari.Pada hari ini semua pustaka terutama Veda dan sastra-sastra Agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati untuk diberikan suatu upacara.Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari.Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Veda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis.Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.Adapun simbol-simbol dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut ini.

1. Wanita cantik : sifat ilmu pengetahuan itu sangat mulia, lemah lembut dan menarik hati.

2. Genitri: ilmu pengetahuan itu tidak akan ada akhirnya dan selamahidup ini tidak akan habis untuk dipelajari.

3. Keropak: melambangkan sumber ilmu pengetahuan.

4. Wina : melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat sangathalus.

5. Teratai : melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat sangat suci.

6. Burung merak : melambangkan ilmu pengetahuan itu sangat berwibawa.

7.  Burung angsa : melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat sangat bijaksana, dapat membedakan antara yang baik dengan yang tidak baik.

 

Sedangkan Tumpek Wariga merupakan upacara untuk menghormati keberadaan tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk hidup di dunia atau dikenal dengan istilah “ngotonin sarwa entik-entikan”. Sementara Tumpek Uye atau Tumpek Kandang upacara dalam menghormati keberadaan hewan atau binatang yang hidup di dunia yang sering dikenal dengan istilah “ngotonin sarwa ubuhan”.Keduanya jatuh tepat setiap 210 hari dalam perhitungan Hindu.Dalam konsep Tri Hita Karana penghormatan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas pengadaan hewan dan tumbuhan ini dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Dengan kata lain melaksanakan upacara Tumpek ini adalah realisasi dari konsep Tri Hita Karana alam kehidupan. Jika semua itu sudah kita lakukan dengan rasa tulus dan ikhlas berarti kita telah melaksanakan ajaran Bhakti Marga Yoga.

Penerapan Janana Marga dlam Keluarga  dapat dilakukan dalam dengan jalan  Brahmacari adalah mengenai masa menuntut ilmu dengan tulus ikhlas. Tugas pokok kita pada sebagian masa ini adalah belajar.Belajar dalam arti luas, yakni dalam pengertian bukan hanya membaca buku.Tetapi lebih mengacu pada ketulusikhlasan dalam segala hal.Contohnya rela dan ikhlas jika dimarahi guru atau orangtua. Guru dan orangtua, jika memarahi pasti demi kebaikan anak. Maha Rsi Wararuci dalam Kitab Sarassamuccaya, sloka 27 mengajari kita memanfaatkan masa muda ini dengan sebaik-baiknya, yang beliau contohkan seperti rumputilalang yang masih muda. Ketika masih muda pikiran kita masih sangat tajam, jadi hendaknya digunakan untuk menuntut dharma, dan ilmu pengetahuan.Dengan tajamnya pikiran seorang anak juga dapat meyajñakan tenaga dan pikirannya itu.Ajaran Aguron-guron Merupakan suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan murid. Namun istilah dan proses ini telah lama dilupakan karena sangat susah mendapatkanguru yang mempunyai kualifikasi tertentu dan juga sangat sedikit orang menaruh perhatian dan minat terhadap hal ini. Maka untuk memenuhi kualifikasi tertentu, hendaknya seorang guru mencari sekolah yang mempunyai kurikulum yang membawa kesadaran kita melambung tinggi melampaui batas-batas senang dan sedih, bahagia dan derita, lahir dan mati. Guru seperti itu pasti akandating kepada kita. Menuntun kita, menentukan arah tujuan kita, menunjukkan cara dan metodenya, menghibur dan menyemangatinya. Jangan ragu, pasti akan ada guru yang datang kepada kita.

 

Ajaran Catur Guru

Berhasilnya seseorang menempuh jenjang pendidikan tertentu ( pendidikan tinggi yang berkualitas) tidak akan mungkin bila kita tidak memiliki rasa bhaktikepada Catur Guru. Mereka yang melaksanakan ajaran Guru Bhakti sejak dini (anak-anak), pada umumnya memiliki disiplin dan percaya diri yang mantap pula. Dengan disiplin dan percaya diri yang mantap, tidak saja akan sukses dalambidang akademik, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Di sinilah kita melihat ajaran Catur Guru Bhakti senantiasa relevan sepanjang masa, sesuai dengan sifat agama Hindu yang Sanatana Dharma. Aktualisasi ajaran Guru Bhakti atau rasa bhakti kepada Catur Guru dapat dikembangkan dalam situasi apa pun, sebab hakikat dari ajaran ini adalah untuk pendidikan diri, utamanya pendidikan disiplin, patuh dan taat kepada sang Catur Guru dalam arti yang seluas-luasnya.

 

Penrapan Karma Marga dalam Keluarga dapat dilakukan dengan jalan Berbuat ikhlas dan membantu dalam bahasa Bali Ngayah dan Matatulung: merupakan suatu istilah yang ada di Bali dan identik dengan gotong royong. Ngayah ini dapat dilakukan di pura-pura dalam hal upacara keagamaan, seperti odalan-odalan/karya.Sedangkan matatulungan ini bisa dilakukan antar manuasia yang mengadakan upacara keagamaan pula, seperti upacara pawiwahan, mecaru dan lains ebagainya. Sesuai denganajaran karma yoga, hendaknya ngayah atau matatulungan ini dilakukan secara ikhlas tanpa ada ikatan apa pun. Dengan demikian, apa yang kitalakukan dapat memberikan suatu manfaat.

Berkarma yang Baik

Berbuat baik atau mekarma sane melah hendaknya selalu kita lakukan.Dalam agama Hindu ada slogan mengatakan “Rame ing gawe sepi ing pamrih” Slogan itu begitu melekat pada diri kita sebagai orang Hindu.Banyaklah berbuat baik tanpa pernah berpikir dan berharap suatu balasan. Dengan begitu niscaya kita akan selalu mendapat karunia-Nya tanpa pernah terpikirkan dan kita sadari. Untuk melaksanakan slogan itu dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah untuk memulainya.Sebagai makhluk ciptaan Brahman, sepantasnya kita menyadari bahwa sebagian dari hidup kita adalah untuk melayani.Ber-karma baik itu adalah suatu pelayanan. Kita akan ikut berbahagia bila bisa menyenangkan orang lain.Hal ini tentu dibatasi oleh perbuatan Dharma. Slogan “Tat Twam Asi” adalah salahsatu dasar untuk ber-Karma Baik. Engkau adalah Aku, Itu adalah Kamu juga.Suatu slogan yang sangat sederhana untuk diucapkan, tapi memiliki arti yangsangat mendalam, baik dalam arti pada kehidupan sosial umat dan juga sebagaidiri sendiri/individu yang memiliki pertanggungjawaban karma langsung kepadaBrahman.


Ajaran Karmaphala

Karmaphala merupakan hasil dari suatu perbuatan yang dilakukan.Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik danperbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapaicita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk. Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk surga atau masuk neraka.Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah surga, sebaliknya bila hidupnya itu selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang diterimanya.Dalam pustaka- pustaka dan ceritera- ceritera keagamaan dijelaskan bahwa surga artinya alam atas, alam suksma, alam kebahagiaan, alamyang serba indah dan serba mengenakkan.Neraka adalah alam hukuman, tempatroh atau atma mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk selama masa hidupnya. Selesai menikmati surga atau neraka, roh atau atma akan mendapatkan kesempatan mengalami penjelmaan kembali sebagai karya penebusan dalam usaha menuju moksa.

 

Penerapan Raja Marga dalam keluarga dapat dilakukan dengan  Penerapan Raja Marga Yoga ini antara lain terdapat pada ajaran Astānggayoga, yaitu catur brata penyepian.

Astāngga yoga merupakan delapan anggota dari raja yoga yang terdiri dariyama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan Samadhiadalah delapan anggota (anga) dari Raja Yoga yama membentuk disiplin etikayang memurnikan hati. Yama terdiri atas ahimsa (tanpa kekerasan), satya (kejujuran), brahmacarya (selibat), asteya (tidak mencuri), dan aparigraha (tidak menerima pemberian kemewahan).Semua kebajikan berakar pada ahimsa. Niyama adalah kepatuhan, dan tersusun atas sauca (permurnian dalam dan luar),santosa (kepuasan jiwa), tapas (kesederhanaan/pengendalian diri), svadhyaya(belajar kitab suci dan pengucaran mantra) dan isvarapranidhana (berserah diripada Tuhan Yang Maha Esa). Mereka yang bagus dalam yama dan niyama akan cepat maju dalam melaksanakan yoga pada umumnya. Dengan yama dan niyama seseorang dapat mewujudkan cittasuddhi atau atmasuddhi (kesucian hati).Asana, pranayama dan pratyahara merupakan perlengkapan pendahuluan dariyoga.Asana adalah sikap badan yang benar. Pranayama adalah pengaturan napas,yang menghasilkan ketenangan indra dan kemantapan pikiran serta kesehatan yang baik. Pratyahara adalah penarikan indra-indra dari objek-objeknya.Seseorang harus melakukan pratyahara untuk dapat melihat di dalam batin dan memiliki pemusatan pikiran.Dharana adalah konsentrasi pikiran pada suatu objek atau cakra dalam istadevata.Lalu menyusul dhyana, atau meditasi pengaliran yang tak henti-hentinya daripemikiran satu objek, yang nantinya membawa kepada keadaan samadhi.Saat seperti itu yang bermeditasi dan yang dimeditasikan menjadi satu.Semua vritti yakni gejolak pikiran mengendap.Pikiran kehilangan fung-sinya.Segala samskara, kesan-kesandan vasana (kecen-derungan danpikiran halus) terbakar sepenuhnya dan yogi (pelaksana yoga) terbebas dari kelahiran dan kematian.Ia mencapai kaivalya atau pembebasan akhir (kemerdekaan mutlak) Pelaksanaan Hari Raya Nyepi, pada hakikatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan).

 

Contoh Penerapan Catur Marga di Sekolah.


Melakukan persembahyang dipagi hari sebelum belajar merupakan salah satu kegiatan Catur Marga disekolah. Sembahyang merupakan hal yang wajib yang harus dilakukan oleh semua Peserta didik sebelum pembelajaran dimulai, hal ini dilakukan dengan tujuan selalu mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, disampi itu sembahyang juga dapat memberikan pengaruh fositif terhadap perkembangan jiwa dan mental peserta didik tersebut sehingga memeliki prilaku yang sesuai dengan yang diajurkan oleh ajaran agama.

Berbakti kepada guru merupakan salah kegiatan catur Marga disekolah. Seorarang Peserta didik diwajibkan untuk selalu berbhakti kepada Guru ini sesuai dengan salah satu ajaran agama Hindu yaitu Catur Guru yang mengajarkan Peserta didik untuk selalu berbakti kepada Guru ini dilakukan karane Guru telah berjasa dalam mendidik mereka menjadai orang yang baik sesui dengan kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku.

Menyiram bunga memelihara tataman dilingkungan sekolah merupakan kegiatan catur marga di sekolah. Memelihara lingkungan sekolah adalah tanggung jawab bersama dan ini juga merupakan tanggung jawab Peserta didik sebagai waujud rasa memiliki atas lingkungan yang meraka gunakan untuk tempat belajar.

Brahmacari adalah mengenai masa menuntut ilmu dengan tulus ikhlas.Tugas pokok kita pada sebagian masa ini adalah belajar.Belajar dalam arti luas, yakni dalam pengertian bukan hanya membaca buku.Tetapi lebih mengacu pada ketulusikhlasan dalam segala hal.Contohnya rela dan ikhlas jika dimarahi guru atau orangtua. Guru dan orangtua, jika memarahi pasti demi kebaikan anak. Maha Rsi Wararuci dalam Kitab Sarassamuccaya, sloka 27 mengajari kita memanfaatkan masa muda ini dengan sebaik-baiknya, yang beliau contohkan seperti rumputilalang yang masih muda. Ketika masih muda pikiran kita masih sangat tajam, jadi hendaknya digunakan untuk menuntut dharma, dan ilmu pengetahuan.Dengan tajamnya pikiran seorang anak juga dapat meyajñakan tenaga dan pikirannya itu.Ajaran Aguron-guron Merupakan suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan murid.


Contoh Penerapan Catur Marga di Masyarakat

Melakukan gotong royong bersama memberishkan selokan

membantu warga yang sedang kena musibah dan ikut menjaga kebersihan lingkungan Desa sebagai serta kemanan dan ketertiban Desa sebagai salah satu cotoh prilaku Catur Marga di Masyarakat. menjaga keharmonisan didesa dengan melaksanakan persembahyang bersama di Pura Desa seperti Pura Bale Agung, Pura Puseh dan Pura dalem merupakan waujud penerapam Bhakti Marga di masyarakat. Penerapan Janana Marga dimasyarakat dapat dilakukan dengan jalan ikut memberikan arahan dan bimbingan kepada waraga atau anak-anak agar tidak nakal, atau agar menjaga kebersihan linguannya dengan menjelaskan manfaat menjaga lingkungan di Desa.bisa juga dengan jalan membangun pasraman bagi anak-anak di desa. Peneraman Karma Marga di Masyarakat dapat dilakukan dengan jalan ikut membersihkan selokan, ikut membatu warga yang kena musibah, bila kita mampu makan kita ikut membatu warga yang kurang mampu dalam hidupnya.

  Demikian ulasan singkat tentang Catur Marga semoga bermanaat.

========================================================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TATA CARA NGATURAN PENYINEBAN

                                                                           PENYINEBAN A.       P engastawa Lan Eedan Upacara Penyineban ...