Selasa, 14 Desember 2021

HARI RAYA SUCI NYEPI

MAKNA HARI RAYA SUCI NYEPI 

Filsa              Filsafat  Dharma

Eksistensi manusia sesuai ajaran samkhya dan yoga darsana manusia diciptakan oleh Tuhan melalui perpaduan dua elemen yakni elemen kejiwaan yang disebut “purusa” dan elemen kebendaan disebut “predana”.Dari kedua elemen inilah melahirkan dua kecendrungan manusia di dalam Bhagawadgita Bab XVI,sloka 2,3 dan 4 disebutkan Dewi Sampad dan Asuri Sampad. Dewi Sampad adalah sifat-sifat yang mendorong manusia cendrung berbuat mulia,sedangkan asuri sampad manusia cendrung berbuat  jahat bahkan kerap menjauhi Tuhan.Untuk jelasnya dibawah ini kutipan Bhagawadgita tsb

              Sloka 2 :

                        Ahimsa satyam akrodhas

                        Tyagah santir apisunam

                        Daya bhutesu aloluptvam

                        Mardavam hrir acapalam.

Artinya :

(tidak menyakiti,benar,bebas dari nafsu amarah,Tanpa keterikatan,tenang,tidak memfitnah,kasih sayang kepada sesama makhluk,tidak dibingungkan oleh keinginan,lemah lembut,sopan dan berketetapan hati).

              Sloka 3 :

                        Tejah ksama dhrtih saucam

                        Adroho na timanita

                        Bhavanti sampadam daivim

                        Abhijatasya bharata.

Artinya :

(Cekatan,suka memaafkan,teguh iman,budi luhur,tidak iri hati,tanpa keangkuhan,semua ini adalah harta dari dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat dewata).

              Sloka 4 :

                        Dambho darpo bhimanas ca

                        Krodhah parusyam eva ca

                        Ajnanam cabhijatasya

                        Partha sampadam asurim.

Artinya  :

(berpura-pura,angkuh,membanggakan diri,marah,kasar,bodoh,semuanya ini adalah keadaan mereka yang dilahirkan dengan sifat-sifat raksasa,).

Di dalam konteks samkhya yoga dijelaskan bahwa timbulnya kecendrungan itu akibat pertemuan purusa dan predana.Purusa membawa alam pikiran yang terang disebut “citta” memotivisir kecendrungan kedewaan.Sedangkan predana membawa klesa yang melahirkan kecendrungan keraksasan. Citta terdiri dari dharma,jnyana,wairagia,dan aiswarya.Dharma motivator  kebaikan, jnyana mengantar manusia ke jalan ilmu pengetahuan, wairagia dorongan keikhlasan berkorban demi kebenaran, dan aiswarya kontinyuitas manusia untuk meningkatkan kualitas kesucian. Tentu sifat –sifat ini sangat bertentangan dengan sifat-sifat prdoduk predana yang disebut klesa. Jika klesa ini dominan mengekploitir (menguasai )manusia,maka pintu “papa”akan selalu terbuka bagi manusia. Secara ekspresif (menggagu) klesa itu ada lima, yakni awidya (kebodohan,rendahnya jynana),asmita (kesombongan), Raga(mengumbar hawa nafsu), dwesa (pemarah,benci dan dendam), abhiniwesa( hidup selalu ketakutan terutama takut sakit dan mati).

Oleh karena itu  guna memenangkan citta sekaligus menguasai sifat-sifat klesa ajaran agama kita memberi petunjuk/berbagai cara yang bernuansa tattwa,susila dan upacara. Abstrasksinya perayaan Nyepi dan peringatan tahun saka dilakukan merupakan koridor kebangkitan kesadaran untuk memenangkan citta atas klesa sehingga terhindar dari kehidupan yang “papa”.

1.2       Taur Kesanga.

Taur kesangan ini tergolong bhuta yadnya,atau disebut  juga “mecaru”. Caru artinya harmonis atau cantik.Jadi tujuan upacara bhuta yadnya adalah untuk mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam lingkungan. Secara harfiah bhuta yadnya dalam lontar “agastia parwa” disebutkan : “bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh”,(bhuta yadnya adalah mengembalikan dan melestarikan tumbuh-tumbuhan).

Pada momentum ini dituntut  keseimbangan jiwa manusia antara mengambil dan mengembalikan. Kita tahu setiap hari manusia mengambil berbagai sumber-sumber alam seperti air,tanah,api,udara yang sehat. Setelah mengambil tentu tidak lupa mengembalikan demi kelestariannya untuk kemudian pada saatnya kita ambil kembali.Bukankah alam semesta ini sesungguhnya badan jasmani Hyang Widhi sebagaimana disebutkan di dalam kitab suci yajur weda XXXX.I dan ditegaskan lagi di dalam Isopanisad I.I. isinya bahwa dengan bhuta yadnya merupakan yadnya untuk merawat badan jasmani Tuhan yang berbentuk alam semesta ini. Oleh karena itu,maka tujuan hidup mencapai dharma,artha,kama, dan moksha baru bisa dilaksanakan jika alam ini lestari atau “bhuta hita”. Hal senada juga ditegaskan di dalam Sarasamuscaya,sloka 135:“dharmarthakamamoksanam pranah samsthitihetavah tan nighnata kin na hatam raksa bhutahitartha ca”.

Oleh karena itulah upacara bhuta yadnya sebagai manifestasi taur kesanga diselenggarakan setiap tilem kesanga dari tingkat rumah tangga,lingkungan banjar,desa ,kecamatan,kabupaten sampai tingkat propinsi. Pada taur ini sepatutnya memuja tiga orang pandita yaitu pandita Siwa,pandita Budha dan Pandita Bujangga.

Di dalam lontar “eka pratama” tiga pandita ini disebutkan “sang katrini katon”. Pandita Siwa tugasnya “amrestita akasa”,pandita Budha bertugas “amrestita pawana” dan pandita Bujangga bertugas “amrestita sarwaprani”. Amrestita artinya menyucikan dalam arti sekala niskala.

Sehari setelah taur kesanga yaitu tanggal apisan sasih kedasa dimulailah “nyepi”,maksudnya sesungguhnya adalah menyepikan indria,dijaga jangan sampai bergolak untuk dipuaskan, karena nafsu indria yang mampu terjaga dengan baik dapat meningkatkan kesehatan jasmanidan rokhani. Maka saat tanggal pisan sassih kedasa inilah diingatkan untuk menyepikan gejolak indria agar ia brgerak secara wajar dan sehat. Indria yang wajar dan benar itu adalah indria yang patuh pada kendali pikiran.pikiran berada di bawah kendali budhi.

Lontar Sunarigama menyuratkan,bahwa pelaksanaan brata penyepian sbb :…enjangnia nyepi amati geni, tan wenang sajatma anyambut karya sakalwirnya, agni-agni saparanya tan wenang, kalinggania wenang sang wruh ring tattwa jnyana glearakena semadi,tapa,yoga ametitis kasuniatan.(besoknya nyepi tidak boleh menyalakan api,semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan,berapi-api dan sejenisnya tidak boleh. Karenanya orang yang paham akan hakekat tattwa agama agar melakukan semadi,tapa dan yoga mencapai alam sunia (alam rohkani).

Dari teks bunyi lontar Sunarigama ini lah kemudian direkonstruksi oleh PHDI Pusat menjadi Catur Brata Penyepian :amati gni,amati karya,amati lelungan,amati lelanguan. Dalam berbagai kegiatan keagamaan lainnya dalam lingkar panca yadnya dan hari raya prosesi nyepi juga dilaksanakan meski tidak menyebut dengan nyepi.Misalnya hari raya galungan ada disebut “embang sugian” (sehari setelah sugian jawa yakni saniscara umanis wuku sungsang.saat ini tidak melakukan kegiatan apapun(nyepi) namun yang dianjurkan “anyekung jnyana nirmalakena”.(menyatukan jnyana untuk mencapai kesucian atau nirmala).

Dalam konteks Brata penyepian ini mari kita renungkan slokaBhagawadgita Bab IV.sloka 39,sbb:

                   “sraddhawami labhate jnyanan

                   Tat-parah samyatendriyah

                   Jnyanam labdhva param santim

                   Acirenadhigacchati”

Artinya :

(Ia yang memiliki kepercayaan,pengabdi dan menguasai panca indranya,memperoleh ilmu pengetahuan,dengan memiliki ilmu pengetahuan ia menemui kedamaian abadi).

Mungkin ada relevansinya untuk sama-sama kita pahami bahwa tujuan hidup adalah mewujudkan jagadhita dan moksha. Oleh karena itulah realisasinya kita harus mampu mewujudkan 4 tujuan hidup :catur purusa  artha atau catur warga yaitu dharma,artha,kama dan moksha.Empat tujuan hidup ini dijelaskan di dalam Brahma sutra,228,45 dan Sarasamuscara sloka 135 (lihat di depan).

Secara agamis tujuan hidup itu dapat diwujudkan berdasarkan “yadnya”,Tuhan(prajapati),manusia(praja) dan alam (kamadhuk).Tuhan,manusia dan kamadhuk selalu berkaitan  berdasarkan atas yadnya. Tersirat hal ini di dalam Bhagawadgita Bab III.sloka 10 : 

                   “saha yajnyah prajah  srstwa

                   Purowaca prajapatih

                   Anena prasavisyadhvam

                   Esa vo stv ista kama dhuk”.

          Artinya :(sesungguhnya sejak dulu dikatakan,Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yadnya,berkata: dengan(cara) ini engkau akan berkembang,sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).

Dengan demikian manusia harus beryadnya kepada Tuhan,kepada alam lingkungan, dan beryadnya kepada sesama.Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang Hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara bhuta yadnya,tujuannya adalah untuk mewujudkan kesejahteraan alam lingkungan.Oleh karena itu sebelum mewujudkan catur purusa artha secara seksama lakukanlah langkah-langkah nyata untuk membangun kesejahteraan alam,tentu langkah ini menjamin terwujudnya catur purusa artha.

Sarasamuscaya 135 : “Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan masih ring sarwaprani”.“apan ikangprana ngaranya,ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga,muang dharma,artha,kama moksha”(karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma,artha,kama,moksha).

Demikian juga di dalam Agastya Parwa dijelaskan tujuan bhuta yadnya,adalah : Bhuta yadnya namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan.Lanjut di dalam Bhagawadgita III.14 disebutkan

                   “amad bhavanti bhutani

                   Parjanyad anna-sambhavah

                   Yajnyad bhavati parjanyo

                   Yajnyah karma-samudbhavah”

Artinya :

(karena makanan makhluk hidup menjelma,karena hujan tumbuhlah makanan,karena persembahan(yadnya) turunlah hujan,dan yadnya lahir karena kerja).

Di dalam lontar “eka pratama” dan “usana Bali” disebutkan bahwa Brahma berputra tiga orang yaitu Sang Siwa,Sang Budha,dan Sang Bujangga.Ketiga putra ini diberi tugas amrestita akasa,pawana dan sarwa prani .Oleh karena itulah pada saat upacara Tawur Kesanga upacara semestinya dipimpin oleh tiga pandita ini yang disebut Tri Sadaka. Beliaulah menyucikan ketiga alam ini “bhur loka,bhwah loka,dan swah loka”.

 

 

 

1.3       Pelaksanaan Upacara.

 

4 atau 5 hari sebelum nyepi dilaksanakan melasti.Menurut lontar Sundarigama :”….manusa kabeh angaturaken prakerti ring prewatek dewata”.Upacara melasti ini sama dengan  upacara “nagasankirtan” di India ( umat hindu berkeliling desa melantunkan kidung-kidung kebesaran Tuhan (namasmaranam) untuk menyucikan wilayah desa yang dilalui.

          Untuk di Bali sebagaimana biasa pelaksanaannya berdasarkan wilayah yakni : Di ibukota Propinsi dilakukan upacara tawur. Di Tingkat Kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud, di tingkat Kecamatan dilakukan upacara Panca sanak, Dasar Caru Panca Sato ditambah  Asu Bang Bungkem tempatnya Klod Kauh, Penyerang Bebek Bulu Sikep di Klod Kangin atau tenggara/ genya, di tingkat desa Panca sato,ditingkat banjar upacara ekasato.( Lontar Dadang Bang Bunggalan).

Sedangkan di masing-masing rumah tangga upacara dilakukan di natar mrajan.Aturannya segehan panca warna 9 tanding, segehan nasi cacah 108 tanding.Sedangkan dipintu masuk?lebuh dipancangkan sanggah cucuk dengan banten daksina,ajuman,peras,dandanan,tumpeng kelan, sesayut,penyeneng,jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (6 buah),sujang berisi arak tuak.Di bawah sanggah cucuk segehan agung asoroh,segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam brumbun dan tetabuhan arak,berem tuak dan air tawar.( Lontar Bama Kertih)Usai menghaturkan pecaruan semua anggota keluarga kecuali yang belum ketus melakukan upacara beyakala prayascita dan natab sesayut pemyakala lara malara di natar paumahan.



SEKILAS TENTANG TAHUN SAKADAN

 MAKNA HISTORISNYA.

   KITAB SUCI WEDA SEBAGAI WAHYU TUHAN

Kitab suci Catur Weda terdiri dari 20.389 mantra dan dibangun oleh 6 unsur yang disebut  Sad Angga Weda, yaitu Siksa, Kalpa. Wyakarana, Nirukta, Chanda dan Jyothesa.Mantra weda ini merupakan sabda Brahman sebagaimana disebutkan di dalam Manawa Dharmasastra 1.23 dan BHagawadgita Sloka XV.15,sbb:

                   “sarvasya caham hrdi sannivisto

                   Mattah smrtir jnanam apohanam ca

                   Vedais ca sarvair aham eva vedyo

                   Vedanta-krd veda vid eva ceham”

Artinya :

(Aku berdiam dalam hati semua,ingatan dan ilmu pengetahuan,hilangnya ingatan datangnya dari aku,sesungguhnya akulah yang harus diketahui oleh semua kitab veda,Akulah pencipta Vedanta dan Aku pula yang mengetahui veda).

Menyimak sloka ini sesungguhnya mantra veda adalah benar-benar “divine origin (benar-benar sabda Tuhan) dan bukan “human origin”(bukan buatan manusia). Itulah sebabnya mantra veda disebut “Veda Sruti”,mantra sabda Tuhan yang langsung didengar oleh para Maha Rsi.Guna memahaminya maka dibuatlah tafsir antara lain kitab Sad Angga Veda,yakni Siksa tentang Phonetika (ilmu bunyi), Kalpa (tentang upacara dan upakara agama), Wyakarana( tata bahasa Veda), Chanda (aturan-aturan tentang tata cara melagukan mantra veda),Nirukta (asal usul kata atau etimologi).

1.2    Sejarah tahun Saka Dari India sampai Di Bali

 

Ekisistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak historis menutup permusuhan antar suku bangsa di India.Seribu tahun sebelum lahirnya tahun saka negeri India dilanda permusuhan antar suku.Adapun suku-suku bangsa yang tiada hari tanpa bentrok adalah Pahlawa, Yuehchi,Malawa, Yuwana,dan Saka.Pertikaian selalu terjadi siapa kuat dia yang memimpin dan mengekplitir yang kalah.Lambat laun tirai kebosanan terutama di suku saka berhembus sekaligus berpaling haluan dari pertikaian politik dan militir menjadi focus meningkatkan kesejahteraan warganya dengan menguasai astronomi pertanian,peternakan dan perdagangan. Disini diperlukan pengetahuan tentang musim atau hari baik yang bersumber pada astronomi.Akhirnya usaha suku saka ini menemu hasil gemilang. Betapapun pada tahun 125 Masehi yang berkuasa di India adalah dinasti “Kushana” dari suku bangsa Yuehchi terketuk dengan  perubahan haluan suku saka tersebut. Dengan kekuasaan yang dimiliki dipergunakan merangkul semua suku bangsa dengan langkah-langkah mengambil puncak-puncak kebudayaan suku-suku bangsa itu menjadi kebudayaan kerajaan.

Pada tanggal 21 Maret tahun 78 Masehi Raja Kaniska I dari dinasti Kushana mengangkat sistim penanggalan saka menjadi penanggalan kerajaan.Karena terbukti sistim ini menuntun rakyat bercocok tanam,beternak dan berdagang dengan menggunakan sistim penanggalan saka. Sejak itulah bangkit kesadaran suku-suku bangsa India untuk hidup penuh toleransi membangun kesejahteraan bersama( Dharma Siddhiyartha). Dampak toleransi ini maka sistim kalender saka ini semakin berkembang.

Pada abad ke 4 Masehi di Indonesia sudah juga berkembang agama Hindu.Sistim penanggalan saka pun ikut berkembang.Pada tahun 456 Masehi mendaratlah Pandita Saka yang popular disebut Aji Saka di Kabupaten Rembang (Jawa Tengah).Saat inilah mulanya sistim penanggalan saka dikenal di Indonesia.

Pada jaman Majapahit di Indonesia sistim penanggalan saka benar-benar telah berkembang dan eksistensinya sangat diakui di kerajaan Manajapahit.Maka setiap bulan cetra (Maret) tahun saka diperingati dengan upacara keagamaan dari tanggal 1 s/d 3 cetra setiap tahun di alun-alun Majapahit.Uraian lengkap perayaan tahun saka dapat dibaca di dalam Kitab Negara Kertha Gama oleh rakawi Prapanca pada pupuh VIII,XII dan juga pupuh LXXXV, LXXXVI-XCII.

Setelah agama Hindu berkembang di Bali barulah dirayakan Tahun Baru Saka melalui Tawur Kesanga dengan Nyepi sebagai puncaknya.

Menyatukan matahari dan bulan.

Menurut pandangan Hindu alam semesta sangat berpengaruh pada kehidupan manusia di dunia ini.Peredaran planet-planet di ruang angkasa menimbulkan iklim yang sangat berpengaruh pada kehidupan makhluk ciptaan Tuhan/Hyang Widhi. Planet-planet itu disebut “Brahmanda”(dalam Kitab Brahmanda Purana) Kata Brahmanda etimologinya berasal dari kata “Brahman” artinya Tuhan dan “Anda” artinya telor. Dalam bahasa sastra veda planet-planet yang memenuhi ruang angkasa adalah “telornya  Hyang Widhi”,harfiahnya semua planet-planet itu adalah ciptaan Hyang Widhi Wasa. Planet yang paling berpengaruh adalah matahari,bulan dan bumi.Filosofis timur menegaskan bahwa kita manusia ini tidak hidup berhadapan dengan alam tetapi hidup bersama-sama alam. Bahkan menurut pandangan Hindu manusia itu disebut “bhuwana alit” sedangkan alam semesta disebut “bhuwana agung”.Oleh karena itu kita sebagai manusia hendaknya  dapat adaptif dengan alam bukan menaklukannya. Bumi bergerak mengelilingi matahari, bulan mengelilingi bumi. Bumi ketika mengelilingi matahari selama 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik pertahun. Sedangkan bulan mengelilingi bumi setiap bulan selama 29 16/31 hari atau selama 354 atau 355 hari pertahun.Jika kita bandingkan dengan peredaran bumi mengelilingi matahari,maka bulan selalu lebih cepat sepuluh hari setiap tahunnya. Umat Hindu di Indonesia dalam menjalankan ajaran agamanya menganut tiga sistim kalender yaitu “kalender berdasarkan perhitungan peredaran  bulan mengelilingi bumi. Perhitungan  ini disebut “candra Premana” atau “Lunar Sistim”.Yang kedua  menghitung peredaran bumi mengelilingi matahari disebut “Surya Premana” atau “Solar Sistim”. Yang ketiga adalah “Sistim Wuku”.

Selain itu umat Hindu di Bali dan Di Jawa mengenal pula sistim penanggalan “Prenata Masa”.Sistim ini sesungguhnya berdasarkan Surya Premana yang khusus diterapkan dalam rangka memahami musim untuk kepentingan kehidupan budaya agraris.

 Bertemunya tahun surya dengan tahun candra.

Sebagaimana diketahui bahwa Tahun Saka berakhir tiap tanggal 21 maret untuk tahun biasa,sedangkan untuk tahun kabisat tanggal 20 Maret.Jadi tahun baru saka kalau tahun biasa adalah tanggal 22 Maret dan kalau tahun kabisat tanggal 21 Maret.Tahun biasa bulan Pebruarinya berumur 28 hari,sedangkan tahun kabisat 29 hari.Dengan demikian Tahun Baru Saka jika tahun biasa setiap tanggal 22 Maret saat matahari berada pada garis khatulistiwa.Sedangkan perayaan hari Nyepi dari upacara melasti,nyejer,taur kesanga sampai nyepi menggunakan sistim candra. Agar perhitungan tahun saka yang menggunakan sistim surya selalu dapat bertemu dengan perayaan nyepi yang menggunakan sistim candra maka setiap tahun diadakan “penampih sasih”.Setiap  satu tahun sistim candra lebih cepat 10 hari dari perhitungan surya. Sistim candra setahun 355 hari sedangkan sistim surya setahun selama 365 hari.Manakala sudah tiga tahun berarti sistim candra sudah maju sebulan.

Agar perhitungan surya ketemu dengan perhitungan candra maka sistim candra meiliki bulan ketiga belas.Dengan adanya bulan ketiga belas ini maka bulan kesanga sistim candra akan selalu ketemu dengan bulan Cetra sistim surya. Dengan dianutnya sistim penampih sasih,maka umat Hindu di Indonesia menganut sistim terpadu antara sistim Lunar (Candra Premana) dengan sistim Solar (Surya Premana).Perpaduan ini disebut sistim “Luni Solar” yaitu perhitungan candra mengikuti perhitungan surya.Pertemuan disini artinya “mendekatu”. Oleh karena itu Tilem Kesanga dalam sistim Luni Solar akan bergerak antara tanggal 15 Maret sampai 14 April. Hal ini terjadi setelah sistim penampih sasih itu dirubah dari sistim “berkesinambungan” kini diganti dengan sistim “berkeseimbangan”.

Sistim penampih sasih berkesinambungan,bulan ketiga belas itu selalu pada sasih jesta atau Sada saja.Sasih Jesta atau Sada yang menjadi bulan ketiga belas sering disebut “Mala Masa”.Setiap tiga tahun ada sasih Jesta atau sasih Sada dua kali.Dengan demikian sasih menurut perhitungan Candra setiap tiga tahun umurnya tiga belas sasih atau bulan.

Ada satu hal yang patut direnungkan bahwa menurut Lontar Wariga milik Ida Pedanda Putra Telaga di Griya Banjar  Angkan Klungkung nampih sasihnya tidak hanya pada sasih Jesta dan Sada saja. Yang diberlakukan sekarang adalah kembali pada sistim nampih sasih berdasarkan lontar Purwaning Wariga,dimana penampih sasih tidak hanya jatuh pada sasih Jesta atau Sada saja,bisa pada sasih yang lainnya.Hal ini belum diagendakan oleh PHDI  baik Daerah maupun Pusat.

Demikian sekapur sirih pemaknaan Nyepi,Tahun Saka dan tattwa historisnya semoga dapat memperkaya khasanah pengetahuan pembaca.

 

3.1       SIMPULAN

 

1.   Lontar Sang Hyang Aji Swamandala menyuratkan :Muah yan tawur kunang haywa angelaning pamargi ring tilem sasih Chaitra” ( Bilamelaksanakan tawur hendaknya janganlah mencari  hari lain,selain tilem bulan Chaitra”. Demikian juga tahun baru Icaka dirayakan pada tanggal 1 Waisakha saat mana matahari menuju garis lintang utara yang disebut “Uttarayana/Dewayana” merupakan saat yang sangat baik untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi.

2.   Pelaksanaan pergantian tahun baru Icaka dilaksanakan pada bulan mati.Mengapa?Mengutip Lontar Swamandala disuratkan,bahwa penentuan itu sudah merupakan ketentuan “sastra dresta” yang secara filosofis bulan mati(tilem) itu merupakan nyasa kegelapan alam yang diyakini akan memberi pengaruh negative pada kehidupan manusia. Ingat juga “Siwaratri” pada tilem kepitu dengan implementasi brata upawasa,monabrata dan pejagran.Untuk itulah wajib hukumnya saat Nyepi umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian yang hakekatnya “pengendalian diri”.Mempertegas kembali uraian sebelumnya bahwa pergantian tahun baru Icaka terjadi pada tilem kesanga. Raja Kaniskha I naik takhta pada tanggal 1 bulan 1 tahun 1 caka (78 masehi). Dari segi etimologi jatuhnya tahun baru Icaka sebenarnya merupakan bulan kesatu meski pada saat itu bulan Maret/April. Jika diurut mulai bulan September maka akan menjadi September (septum/sapta),= bulan ke 7,Oktober(octo/asta)=bulan ke 8, November(novum/nava)=bulan ke 9, December (decum/dasa) = bulan ke 10,januari = bulan ke 11, dan Pebruari = bulan ke 12. Dengan demikian maka Maret saat pergantian tahun baru Icaka merupakan bulan baru atau bulan pertama tahun baru Icaka,meski berdasarkan perhitungan penampih sasih bisa bergeser ke bulan April. Dari sudut mistik tilem kesanga merupakan angka satuan tertinggi,berapa saja dikalikan 9 lalau dijumlahkan hasilnya tetap 9.

3.   Hari raya Nyepi adalah hari penyucian untuk mencapai keseimbangan bhuwana agung dengan bhuwana alit sekaligus menyambut datangnya tahun baru Icaka.Penyucian bhuwana agung itulah implementasinya upacara melasti dan tawur kesanga,sedangkan penyucian bhuwana alit umat menjalankan catur brata penyepian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TATA CARA NGATURAN PENYINEBAN

                                                                           PENYINEBAN A.       P engastawa Lan Eedan Upacara Penyineban ...