MAKNA HARI RAYA SUCI NYEPI
Filsa Filsafat Dharma
Eksistensi manusia
sesuai ajaran samkhya dan yoga darsana manusia diciptakan oleh Tuhan melalui
perpaduan dua elemen yakni elemen kejiwaan yang disebut “purusa” dan elemen
kebendaan disebut “predana”.Dari kedua elemen inilah melahirkan dua
kecendrungan manusia di dalam Bhagawadgita Bab XVI,sloka 2,3 dan 4 disebutkan
Dewi Sampad dan Asuri Sampad. Dewi Sampad adalah sifat-sifat yang mendorong
manusia cendrung berbuat mulia,sedangkan asuri sampad manusia cendrung
berbuat jahat bahkan kerap menjauhi
Tuhan.Untuk jelasnya dibawah ini kutipan Bhagawadgita tsb
Sloka 2 :
Ahimsa
satyam akrodhas
Tyagah santir apisunam
Daya
bhutesu aloluptvam
Mardavam
hrir acapalam.
Artinya :
(tidak
menyakiti,benar,bebas dari nafsu amarah,Tanpa keterikatan,tenang,tidak
memfitnah,kasih sayang kepada sesama makhluk,tidak dibingungkan oleh
keinginan,lemah lembut,sopan dan berketetapan hati).
Sloka 3 :
Tejah
ksama dhrtih saucam
Adroho
na timanita
Bhavanti
sampadam daivim
Abhijatasya
bharata.
Artinya :
(Cekatan,suka
memaafkan,teguh iman,budi luhur,tidak iri hati,tanpa keangkuhan,semua ini
adalah harta dari dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat dewata).
Sloka 4 :
Dambho
darpo bhimanas ca
Krodhah
parusyam eva ca
Ajnanam
cabhijatasya
Partha
sampadam asurim.
Artinya :
(berpura-pura,angkuh,membanggakan
diri,marah,kasar,bodoh,semuanya ini adalah keadaan mereka yang dilahirkan
dengan sifat-sifat raksasa,).
Di
dalam konteks samkhya yoga dijelaskan bahwa timbulnya kecendrungan itu akibat
pertemuan purusa dan predana.Purusa membawa alam pikiran yang terang disebut
“citta” memotivisir kecendrungan kedewaan.Sedangkan predana membawa klesa yang
melahirkan kecendrungan keraksasan. Citta terdiri dari
dharma,jnyana,wairagia,dan aiswarya.Dharma motivator kebaikan, jnyana mengantar manusia ke jalan
ilmu pengetahuan, wairagia dorongan keikhlasan berkorban demi kebenaran, dan
aiswarya kontinyuitas manusia untuk meningkatkan kualitas kesucian. Tentu sifat
–sifat ini sangat bertentangan dengan sifat-sifat prdoduk predana yang disebut
klesa. Jika klesa ini dominan mengekploitir (menguasai )manusia,maka pintu
“papa”akan selalu terbuka bagi manusia. Secara ekspresif (menggagu) klesa itu
ada lima, yakni awidya (kebodohan,rendahnya jynana),asmita (kesombongan),
Raga(mengumbar hawa nafsu), dwesa (pemarah,benci dan dendam), abhiniwesa( hidup
selalu ketakutan terutama takut sakit dan mati).
Oleh
karena itu guna memenangkan citta
sekaligus menguasai sifat-sifat klesa ajaran agama kita memberi
petunjuk/berbagai cara yang bernuansa tattwa,susila dan upacara. Abstrasksinya
perayaan Nyepi dan peringatan tahun saka dilakukan merupakan koridor kebangkitan kesadaran untuk memenangkan citta atas klesa
sehingga terhindar dari kehidupan yang “papa”.
1.2
Taur
Kesanga.
Taur
kesangan ini tergolong bhuta yadnya,atau disebut juga “mecaru”. Caru artinya harmonis atau
cantik.Jadi tujuan upacara bhuta yadnya adalah untuk mengharmoniskan hubungan
manusia dengan alam lingkungan. Secara harfiah bhuta yadnya dalam lontar
“agastia parwa” disebutkan : “bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ring
tuwuh”,(bhuta yadnya adalah mengembalikan dan melestarikan tumbuh-tumbuhan).
Pada
momentum ini dituntut keseimbangan jiwa
manusia antara mengambil dan mengembalikan. Kita tahu setiap hari manusia
mengambil berbagai sumber-sumber alam seperti air,tanah,api,udara yang sehat.
Setelah mengambil tentu tidak lupa mengembalikan demi kelestariannya untuk
kemudian pada saatnya kita ambil kembali.Bukankah alam semesta ini sesungguhnya
badan jasmani Hyang Widhi sebagaimana disebutkan di dalam kitab suci yajur weda
XXXX.I dan ditegaskan lagi di dalam Isopanisad I.I. isinya bahwa dengan bhuta
yadnya merupakan yadnya untuk merawat badan jasmani Tuhan yang berbentuk alam
semesta ini. Oleh karena itu,maka tujuan hidup mencapai dharma,artha,kama, dan moksha
baru bisa dilaksanakan jika alam ini lestari atau “bhuta hita”. Hal senada juga
ditegaskan di dalam Sarasamuscaya,sloka 135:“dharmarthakamamoksanam pranah
samsthitihetavah tan nighnata kin na hatam raksa bhutahitartha ca”.
Oleh
karena itulah upacara bhuta yadnya sebagai manifestasi taur kesanga
diselenggarakan setiap tilem kesanga dari tingkat rumah tangga,lingkungan
banjar,desa ,kecamatan,kabupaten sampai tingkat propinsi. Pada taur ini
sepatutnya memuja tiga orang pandita yaitu pandita Siwa,pandita Budha dan Pandita
Bujangga.
Di
dalam lontar “eka pratama” tiga pandita ini disebutkan “sang katrini katon”.
Pandita Siwa tugasnya “amrestita akasa”,pandita Budha bertugas “amrestita
pawana” dan pandita Bujangga bertugas “amrestita sarwaprani”. Amrestita artinya
menyucikan dalam arti sekala niskala.
Sehari
setelah taur kesanga yaitu tanggal apisan sasih kedasa dimulailah
“nyepi”,maksudnya sesungguhnya adalah menyepikan indria,dijaga jangan sampai
bergolak untuk dipuaskan, karena nafsu indria yang mampu terjaga dengan baik
dapat meningkatkan kesehatan jasmanidan rokhani. Maka saat tanggal pisan sassih
kedasa inilah diingatkan untuk menyepikan gejolak indria agar ia brgerak secara
wajar dan sehat. Indria yang wajar dan benar itu adalah indria yang patuh pada
kendali pikiran.pikiran berada di bawah kendali budhi.
Lontar
Sunarigama menyuratkan,bahwa pelaksanaan brata penyepian sbb :…enjangnia nyepi
amati geni, tan wenang sajatma anyambut karya sakalwirnya, agni-agni saparanya
tan wenang, kalinggania wenang sang wruh ring tattwa jnyana glearakena
semadi,tapa,yoga ametitis kasuniatan.(besoknya nyepi tidak boleh menyalakan
api,semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan,berapi-api dan sejenisnya tidak
boleh. Karenanya orang yang paham akan hakekat tattwa agama agar melakukan semadi,tapa
dan yoga mencapai alam sunia (alam rohkani).
Dari
teks bunyi lontar Sunarigama ini lah kemudian direkonstruksi oleh PHDI Pusat
menjadi Catur Brata Penyepian :amati gni,amati karya,amati lelungan,amati
lelanguan. Dalam berbagai kegiatan keagamaan lainnya dalam lingkar panca yadnya
dan hari raya prosesi nyepi juga dilaksanakan meski tidak menyebut dengan
nyepi.Misalnya hari raya galungan ada disebut “embang sugian” (sehari setelah
sugian jawa yakni saniscara umanis wuku sungsang.saat ini tidak melakukan
kegiatan apapun(nyepi) namun yang dianjurkan “anyekung jnyana
nirmalakena”.(menyatukan jnyana untuk mencapai kesucian atau nirmala).
Dalam
konteks Brata penyepian ini mari kita renungkan slokaBhagawadgita Bab IV.sloka
39,sbb:
“sraddhawami
labhate jnyanan
Tat-parah
samyatendriyah
Jnyanam
labdhva param santim
Acirenadhigacchati”
Artinya :
(Ia
yang memiliki kepercayaan,pengabdi dan menguasai panca indranya,memperoleh ilmu
pengetahuan,dengan memiliki ilmu pengetahuan ia menemui kedamaian abadi).
Mungkin
ada relevansinya untuk sama-sama kita pahami bahwa tujuan hidup adalah
mewujudkan jagadhita dan moksha. Oleh karena itulah realisasinya kita harus
mampu mewujudkan 4 tujuan hidup :catur purusa
artha atau catur warga yaitu dharma,artha,kama dan moksha.Empat tujuan
hidup ini dijelaskan di dalam Brahma sutra,228,45 dan Sarasamuscara sloka 135
(lihat di depan).
Secara
agamis tujuan hidup itu dapat diwujudkan berdasarkan
“yadnya”,Tuhan(prajapati),manusia(praja) dan alam (kamadhuk).Tuhan,manusia dan
kamadhuk selalu berkaitan berdasarkan
atas yadnya. Tersirat hal ini di dalam Bhagawadgita Bab III.sloka 10 :
“saha
yajnyah prajah srstwa
Purowaca
prajapatih
Anena
prasavisyadhvam
Esa
vo stv ista kama dhuk”.
Artinya :(sesungguhnya sejak dulu dikatakan,Tuhan
setelah menciptakan manusia melalui yadnya,berkata: dengan(cara) ini engkau
akan berkembang,sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).
Dengan
demikian manusia harus beryadnya kepada Tuhan,kepada alam lingkungan, dan
beryadnya kepada sesama.Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang Hyang Aji
Swamandala adalah termasuk upacara bhuta yadnya,tujuannya adalah untuk
mewujudkan kesejahteraan alam lingkungan.Oleh karena itu sebelum mewujudkan
catur purusa artha secara seksama lakukanlah langkah-langkah nyata untuk
membangun kesejahteraan alam,tentu langkah ini menjamin terwujudnya catur
purusa artha.
Sarasamuscaya
135 : “Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan masih ring
sarwaprani”.“apan ikangprana ngaranya,ya ika nimitang kapagehan ikang catur
warga,muang dharma,artha,kama moksha”(karena kehidupan mereka itu menyebabkan
tetap terjaminnya dharma,artha,kama,moksha).
Demikian
juga di dalam Agastya Parwa dijelaskan tujuan bhuta yadnya,adalah : Bhuta
yadnya namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan.Lanjut di dalam
Bhagawadgita III.14 disebutkan
“amad
bhavanti bhutani
Parjanyad
anna-sambhavah
Yajnyad
bhavati parjanyo
Yajnyah
karma-samudbhavah”
Artinya :
(karena
makanan makhluk hidup menjelma,karena hujan tumbuhlah makanan,karena
persembahan(yadnya) turunlah hujan,dan yadnya lahir karena kerja).
Di
dalam lontar “eka pratama” dan “usana Bali” disebutkan bahwa Brahma berputra
tiga orang yaitu Sang Siwa,Sang Budha,dan Sang Bujangga.Ketiga putra ini diberi
tugas amrestita akasa,pawana dan sarwa prani .Oleh karena itulah pada saat
upacara Tawur Kesanga upacara semestinya dipimpin oleh tiga pandita ini yang
disebut Tri Sadaka. Beliaulah menyucikan ketiga alam ini “bhur loka,bhwah
loka,dan swah loka”.
1.3
Pelaksanaan
Upacara.
4
atau 5 hari sebelum nyepi dilaksanakan melasti.Menurut lontar Sundarigama
:”….manusa kabeh angaturaken prakerti ring prewatek dewata”.Upacara melasti ini
sama dengan upacara “nagasankirtan” di
India ( umat hindu berkeliling desa melantunkan kidung-kidung kebesaran Tuhan
(namasmaranam) untuk menyucikan wilayah desa yang dilalui.
Untuk di Bali sebagaimana biasa
pelaksanaannya berdasarkan wilayah yakni : Di ibukota Propinsi dilakukan
upacara tawur. Di Tingkat Kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud, di tingkat
Kecamatan dilakukan upacara Panca sanak, Dasar Caru Panca Sato ditambah Asu Bang Bungkem tempatnya Klod Kauh, Penyerang
Bebek Bulu Sikep di Klod Kangin atau tenggara/ genya, di tingkat desa Panca
sato,ditingkat banjar upacara ekasato.( Lontar Dadang Bang Bunggalan).
Sedangkan
di masing-masing rumah tangga upacara dilakukan di natar mrajan.Aturannya
segehan panca warna 9 tanding, segehan nasi cacah 108 tanding.Sedangkan dipintu
masuk?lebuh dipancangkan sanggah cucuk dengan banten daksina,ajuman,peras,dandanan,tumpeng
kelan, sesayut,penyeneng,jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah
cucuk digantungkan ketipat kelan (6 buah),sujang berisi arak tuak.Di bawah
sanggah cucuk segehan agung asoroh,segehan manca warna 9 tanding dengan olahan
ayam brumbun dan tetabuhan arak,berem tuak dan air tawar.( Lontar Bama Kertih)Usai
menghaturkan pecaruan semua anggota keluarga kecuali yang belum ketus melakukan
upacara beyakala prayascita dan natab sesayut pemyakala lara malara di natar
paumahan.
SEKILAS
TENTANG TAHUN SAKADAN
MAKNA HISTORISNYA.
KITAB SUCI WEDA
SEBAGAI WAHYU TUHAN
Kitab
suci Catur Weda terdiri dari 20.389 mantra dan dibangun oleh 6 unsur yang
disebut Sad Angga Weda, yaitu Siksa,
Kalpa. Wyakarana, Nirukta, Chanda dan Jyothesa.Mantra weda ini merupakan sabda
Brahman sebagaimana disebutkan di dalam Manawa Dharmasastra 1.23 dan
BHagawadgita Sloka XV.15,sbb:
“sarvasya
caham hrdi sannivisto
Mattah
smrtir jnanam apohanam ca
Vedais
ca sarvair aham eva vedyo
Vedanta-krd
veda vid eva ceham”
Artinya :
(Aku
berdiam dalam hati semua,ingatan dan ilmu pengetahuan,hilangnya ingatan
datangnya dari aku,sesungguhnya akulah yang harus diketahui oleh semua kitab
veda,Akulah pencipta Vedanta dan Aku pula yang mengetahui veda).
Menyimak
sloka ini sesungguhnya mantra veda adalah benar-benar “divine origin
(benar-benar sabda Tuhan) dan bukan “human origin”(bukan buatan manusia).
Itulah sebabnya mantra veda disebut “Veda Sruti”,mantra sabda Tuhan yang
langsung didengar oleh para Maha Rsi.Guna memahaminya maka dibuatlah tafsir
antara lain kitab Sad Angga Veda,yakni Siksa tentang Phonetika (ilmu bunyi),
Kalpa (tentang upacara dan upakara agama), Wyakarana( tata bahasa Veda), Chanda
(aturan-aturan tentang tata cara melagukan mantra veda),Nirukta (asal usul kata
atau etimologi).
1.2
Sejarah tahun Saka Dari India sampai Di Bali
Ekisistensi
Tahun Saka di India merupakan tonggak historis menutup permusuhan antar suku
bangsa di India.Seribu tahun sebelum lahirnya tahun saka negeri India dilanda
permusuhan antar suku.Adapun suku-suku bangsa yang tiada hari tanpa bentrok
adalah Pahlawa, Yuehchi,Malawa, Yuwana,dan Saka.Pertikaian selalu terjadi siapa
kuat dia yang memimpin dan mengekplitir yang kalah.Lambat laun tirai kebosanan
terutama di suku saka berhembus sekaligus berpaling haluan dari pertikaian
politik dan militir menjadi focus meningkatkan kesejahteraan warganya dengan
menguasai astronomi pertanian,peternakan dan perdagangan. Disini diperlukan
pengetahuan tentang musim atau hari baik yang bersumber pada astronomi.Akhirnya
usaha suku saka ini menemu hasil gemilang. Betapapun pada tahun 125 Masehi yang
berkuasa di India adalah dinasti “Kushana” dari suku bangsa Yuehchi terketuk
dengan perubahan haluan suku saka
tersebut. Dengan kekuasaan yang dimiliki dipergunakan merangkul semua suku
bangsa dengan langkah-langkah mengambil puncak-puncak kebudayaan suku-suku
bangsa itu menjadi kebudayaan kerajaan.
Pada
tanggal 21 Maret tahun 78 Masehi Raja Kaniska I dari dinasti Kushana mengangkat
sistim penanggalan saka menjadi penanggalan kerajaan.Karena terbukti sistim ini
menuntun rakyat bercocok tanam,beternak dan berdagang dengan menggunakan sistim
penanggalan saka. Sejak itulah bangkit kesadaran suku-suku bangsa India untuk
hidup penuh toleransi membangun kesejahteraan bersama( Dharma Siddhiyartha).
Dampak toleransi ini maka sistim kalender saka ini semakin berkembang.
Pada
abad ke 4 Masehi di Indonesia sudah juga berkembang agama Hindu.Sistim
penanggalan saka pun ikut berkembang.Pada tahun 456 Masehi mendaratlah Pandita
Saka yang popular disebut Aji Saka di Kabupaten Rembang (Jawa Tengah).Saat
inilah mulanya sistim penanggalan saka dikenal di Indonesia.
Pada
jaman Majapahit di Indonesia sistim penanggalan saka benar-benar telah
berkembang dan eksistensinya sangat diakui di kerajaan Manajapahit.Maka setiap
bulan cetra (Maret) tahun saka diperingati dengan upacara keagamaan dari
tanggal 1 s/d 3 cetra setiap tahun di alun-alun Majapahit.Uraian lengkap
perayaan tahun saka dapat dibaca di dalam Kitab Negara Kertha Gama oleh rakawi
Prapanca pada pupuh VIII,XII dan juga pupuh LXXXV, LXXXVI-XCII.
Setelah
agama Hindu berkembang di Bali barulah dirayakan Tahun Baru Saka melalui Tawur
Kesanga dengan Nyepi sebagai puncaknya.
Menyatukan matahari
dan bulan.
Menurut
pandangan Hindu alam semesta sangat berpengaruh pada kehidupan manusia di dunia
ini.Peredaran planet-planet di ruang angkasa menimbulkan iklim yang sangat
berpengaruh pada kehidupan makhluk ciptaan Tuhan/Hyang Widhi. Planet-planet itu
disebut “Brahmanda”(dalam Kitab Brahmanda Purana) Kata Brahmanda etimologinya
berasal dari kata “Brahman” artinya Tuhan dan “Anda” artinya telor. Dalam
bahasa sastra veda planet-planet yang memenuhi ruang angkasa adalah
“telornya Hyang Widhi”,harfiahnya semua
planet-planet itu adalah ciptaan Hyang Widhi Wasa. Planet yang paling
berpengaruh adalah matahari,bulan dan bumi.Filosofis timur menegaskan bahwa
kita manusia ini tidak hidup berhadapan dengan alam tetapi hidup bersama-sama
alam. Bahkan menurut pandangan Hindu manusia itu disebut “bhuwana alit” sedangkan
alam semesta disebut “bhuwana agung”.Oleh karena itu kita sebagai manusia
hendaknya dapat adaptif dengan alam
bukan menaklukannya. Bumi bergerak mengelilingi matahari, bulan mengelilingi
bumi. Bumi ketika mengelilingi matahari selama 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik
pertahun. Sedangkan bulan mengelilingi bumi setiap bulan selama 29 16/31 hari
atau selama 354 atau 355 hari pertahun.Jika kita bandingkan dengan peredaran
bumi mengelilingi matahari,maka bulan selalu lebih cepat sepuluh hari setiap
tahunnya. Umat Hindu di Indonesia dalam menjalankan ajaran agamanya menganut
tiga sistim kalender yaitu “kalender berdasarkan perhitungan peredaran bulan mengelilingi bumi. Perhitungan ini disebut “candra Premana” atau “Lunar
Sistim”.Yang kedua menghitung peredaran
bumi mengelilingi matahari disebut “Surya Premana” atau “Solar Sistim”. Yang
ketiga adalah “Sistim Wuku”.
Selain
itu umat Hindu di Bali dan Di Jawa mengenal pula sistim penanggalan “Prenata
Masa”.Sistim ini sesungguhnya berdasarkan Surya Premana yang khusus diterapkan
dalam rangka memahami musim untuk kepentingan kehidupan budaya agraris.
Bertemunya tahun
surya dengan tahun candra.
Sebagaimana
diketahui bahwa Tahun Saka berakhir tiap tanggal 21 maret untuk tahun
biasa,sedangkan untuk tahun kabisat tanggal 20 Maret.Jadi tahun baru saka kalau
tahun biasa adalah tanggal 22 Maret dan kalau tahun kabisat tanggal 21
Maret.Tahun biasa bulan Pebruarinya berumur 28 hari,sedangkan tahun kabisat 29
hari.Dengan demikian Tahun Baru Saka jika tahun biasa setiap tanggal 22 Maret
saat matahari berada pada garis khatulistiwa.Sedangkan perayaan hari Nyepi dari
upacara melasti,nyejer,taur kesanga sampai nyepi menggunakan sistim candra.
Agar perhitungan tahun saka yang menggunakan sistim surya selalu dapat bertemu
dengan perayaan nyepi yang menggunakan sistim candra maka setiap tahun diadakan
“penampih sasih”.Setiap satu tahun
sistim candra lebih cepat 10 hari dari perhitungan surya. Sistim candra setahun
355 hari sedangkan sistim surya setahun selama 365 hari.Manakala sudah tiga
tahun berarti sistim candra sudah maju sebulan.
Agar
perhitungan surya ketemu dengan perhitungan candra maka sistim candra meiliki
bulan ketiga belas.Dengan adanya bulan ketiga belas ini maka bulan kesanga
sistim candra akan selalu ketemu dengan bulan Cetra sistim surya. Dengan
dianutnya sistim penampih sasih,maka umat Hindu di Indonesia menganut sistim
terpadu antara sistim Lunar (Candra Premana) dengan sistim Solar (Surya
Premana).Perpaduan ini disebut sistim “Luni Solar” yaitu perhitungan candra mengikuti
perhitungan surya.Pertemuan disini artinya “mendekatu”. Oleh karena itu Tilem
Kesanga dalam sistim Luni Solar akan bergerak antara tanggal 15 Maret sampai 14
April. Hal ini terjadi setelah sistim penampih sasih itu dirubah dari sistim
“berkesinambungan” kini diganti dengan sistim “berkeseimbangan”.
Sistim
penampih sasih berkesinambungan,bulan ketiga belas itu selalu pada sasih jesta
atau Sada saja.Sasih Jesta atau Sada yang menjadi bulan ketiga belas sering
disebut “Mala Masa”.Setiap tiga tahun ada sasih Jesta atau sasih Sada dua
kali.Dengan demikian sasih menurut perhitungan Candra setiap tiga tahun umurnya
tiga belas sasih atau bulan.
Ada
satu hal yang patut direnungkan bahwa menurut Lontar Wariga milik Ida Pedanda
Putra Telaga di Griya Banjar Angkan
Klungkung nampih sasihnya tidak hanya pada sasih Jesta dan Sada saja. Yang
diberlakukan sekarang adalah kembali pada sistim nampih sasih berdasarkan
lontar Purwaning Wariga,dimana penampih sasih tidak hanya jatuh pada sasih
Jesta atau Sada saja,bisa pada sasih yang lainnya.Hal ini belum diagendakan
oleh PHDI baik Daerah maupun Pusat.
Demikian
sekapur sirih pemaknaan Nyepi,Tahun Saka dan tattwa historisnya semoga dapat
memperkaya khasanah pengetahuan pembaca.
3.1 SIMPULAN
1.
Lontar Sang Hyang Aji Swamandala
menyuratkan :Muah yan tawur kunang haywa angelaning pamargi ring tilem sasih
Chaitra” ( Bilamelaksanakan tawur hendaknya janganlah mencari hari lain,selain tilem bulan Chaitra”. Demikian
juga tahun baru Icaka dirayakan pada tanggal 1 Waisakha saat mana matahari
menuju garis lintang utara yang disebut “Uttarayana/Dewayana” merupakan saat
yang sangat baik untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi.
2.
Pelaksanaan pergantian tahun baru
Icaka dilaksanakan pada bulan mati.Mengapa?Mengutip Lontar Swamandala
disuratkan,bahwa penentuan itu sudah merupakan ketentuan “sastra dresta” yang
secara filosofis bulan mati(tilem) itu merupakan nyasa kegelapan alam yang
diyakini akan memberi pengaruh negative pada kehidupan manusia. Ingat juga “Siwaratri”
pada tilem kepitu dengan implementasi brata upawasa,monabrata dan
pejagran.Untuk itulah wajib hukumnya saat Nyepi umat Hindu melaksanakan Catur
Brata Penyepian yang hakekatnya “pengendalian diri”.Mempertegas kembali uraian
sebelumnya bahwa pergantian tahun baru Icaka terjadi pada tilem kesanga. Raja
Kaniskha I naik takhta pada tanggal 1 bulan 1 tahun 1 caka (78 masehi). Dari
segi etimologi jatuhnya tahun baru Icaka sebenarnya merupakan bulan kesatu
meski pada saat itu bulan Maret/April. Jika diurut mulai bulan September maka
akan menjadi September (septum/sapta),= bulan ke 7,Oktober(octo/asta)=bulan ke
8, November(novum/nava)=bulan ke 9, December (decum/dasa) = bulan ke 10,januari
= bulan ke 11, dan Pebruari = bulan ke 12. Dengan demikian maka Maret saat
pergantian tahun baru Icaka merupakan bulan baru atau bulan pertama tahun baru
Icaka,meski berdasarkan perhitungan penampih sasih bisa bergeser ke bulan
April. Dari sudut mistik tilem kesanga merupakan angka satuan tertinggi,berapa
saja dikalikan 9 lalau dijumlahkan hasilnya tetap 9.
3. Hari raya Nyepi adalah hari penyucian untuk mencapai keseimbangan bhuwana agung dengan bhuwana alit sekaligus menyambut datangnya tahun baru Icaka.Penyucian bhuwana agung itulah implementasinya upacara melasti dan tawur kesanga,sedangkan penyucian bhuwana alit umat menjalankan catur brata penyepian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar