Yathemàm vàcaý kalyànim àvadàni janebhyaá,
brahma-ràjanyàbhyàý úùdràya càryàya ca, svàya càraóàya ca.
Terjemahan: ”Hendaknya engkau menyebarkan ajaran Weda yang suci ini kepada para brahmana, ksatriya, para vaisya, para sudra, orang-orang kami dan orang-orang asing dengan cara yang sama (Yajurveda, XXVI.2)
Peradaban Hindu dinyatakan berkembang dari daerah asalnya ‘Lembah Sindhu – India’ ke seluruh Dunia. Zaman pra-sejarah adalah zaman dimana belum dikenalnya tulisan. Zaman prasejarah berlangsung sejak adanya manusia, sekitar ± (dua) juta tahun yang lalu, hingga manusia mengenal tulisan. Untuk mengetahui kehidupan prasejarah, para ahli mempelajari fosil, tentang bagian tubuh binatang, tumbuhan, dan atau manusia yang membatu. Kondisi lingkungan alam pada zaman pra-sejarah sangatlah berbeda dengan lingkungan yang ada sekarang. Hal ini disebabkan karena ketika itu banyak terjadi peristiwa alam, seperti pengangkatan daratan, naik-turunya air laut, dan kegiatan gunung berapi. Binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berukuran besar sangat banyak ragamnya. Binatang dan tumbuhan itu kini sudah banyak yang punah.
Menurut pandangan Hindu, manu adalah manusia yang pertama diciptakan oleh Brahman /Ida Sang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa pada masa srsti atau penciptaan. Ciptaan Brahman setelah alam semesta adalah tumbuhtumbuhan, kemudian binatang, dan baru kemudian manusia. Manu yang disebut manusia adalah makhluk yang tersempurna dengan bayu, sabda, dan idep yang dimilikinya. Bayu adalah tenaga yang mengantarkan manusia memiliki kekuatan atau tenaga. Sabda adalah unsur suara yang menyebabkan manusia dapat berbicara atau bertutur kata yang baik dan sopan. Sedangkan idep adalah pikiran, hati, dan rasa yang menyebabkan manusia dapat berlogika. Ketiga unsur utama inilah yang menyebabkan manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk, benar dan salah, boleh dan tidak boleh. Kitab Bhagawadgita menyebutkan sebagai berikut; ”Prakrtim purusa chai ‘wa widdhy anadi ubhav api, vikarams cha gunams chai ‘wa, viddhi prakrti sambhavan ” (Bhagawan Gita, XIII.19). Terjemahannya: Ketahuilah bahwa Prakrti dan Purusa kedua-duanya adalah tanpa permulaan, dan ketahuilah juga bahwa segala bentuk dan ketiga guna lahir dari Prakrti. ”Tapo wācam ratim caiwa kāmam ca wiwerkatham dharman wyawecayat, srstim sasarja caiwemām srastumicchannimah prajāh (Menawa Dharmasastra I.25) Terjemahannya: Ketawaqalan, ucapan, kesenangan, nafsu dan kemarahan serta segala isi alam, Tuhan ciptakan karena Ia ingin menciptakan segala mahkluk ini. 50 Kelas XII SMA/SMK ”Mangkana pwa Bhatara Siwa, irikang tattwa kabeh, ri wekasan lina ring sira mwah, nihan drstopamanya kadyangganing wereh makweh mijilnya tunggal ya sakeng way” (Bhuwana Kosa. lp. 22b). Terjemahannya: Demikian halnya Bhatara Siwa (Tuhan), keberadaan-Nya pada segala makhluk, pada akhirnya akan kembali pula kepada-Nya, demikian umpamanya, bagaikan buih banyak timbulnya, tunggallah itu asalnya dari air. Berdasarkan uraian dan penjelasan pustaka suci tersebut di atas, sangat jelas menyatakan bahwa menurut pandangan Hindu, manusia diciptakan oleh Brahman/Sang Hyang Widhi wasa/Tuhan Yang Maha Esa pada masa srsti. Selanjutnya hidup dan berkembang sesuai dengan budaya dan lingkungan alam sekitarnya. Pada zaman migrasi disebutkan ada dua tingkatan masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana dan tingkat lanjut. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana sering disebut zaman Paleolitik. Masa ini berlangsung sejak (2 juta tahun yang lalu hingga 10.000 tahun sebelum Masehi), yaitu ketika manusia masih hidup berpindah-pindah (nomaden). Pada zaman ini alat yang digunakan adalah kapak batu dan alat serpih. Oleh manusia purba, masa migrasi dilanjutkan dengan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Zaman ini juga disebut sebagai zaman maesolitik yang berlangsung sejak (10.000–4000 tahun sebelum masehi). Di zaman maesolitik manusia sudah hidup di gua-gua atau di tepi pantai agak menetap. Pada zaman ini manusia purba sudah menggunakan peralatan kapak pendek, kapak Sumatralit, mata panah, dan alat-alat tulang. Setelah masa maesolitik kehidupan manusia purba menuju ke masa bercocok tanam. Zaman ini disebut juga zaman Neolitik dan berlangsung sejak (4000- 2000 tahun sebelum masehi). Di zaman Neolitik, manusia sudah dapat menanam berbagai jenis tumbuhan dan menernakkan hewan. Mereka sudah hidup menetap dan menggunakan alat-alat batu yang sudah diasah halus, seperti kapak persegi dan kapak lonjong. Pada masa inilah manusia tidak lagi menjadi pengumpul makanan (food-gatherer), tetapi juga penghasil makanan (food-producer). Perubahan ini disebut Revolusi neolitik. Mereka percaya pada roh nenek moyang dan mulai mendirikan bangunan megalitik. Di Indonesia, cara bercocok tanam di bawa oleh orang-orang Nusantara yang berbahasa Austronesia dari Taiwan dan Filipina Utara. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 51 Zaman Perundagian disebut juga zaman Logam Awal atau kehidupan masa perundagian yang berlangsung sejak (2000 tahun sebelum masehi sampai dengan abad IV masehi). Sejak zaman Logam Awal manusia mulai mengenal pembuatan alat-alat dari logam seperti nekara, kapak perunggu, bejana gepeng, dan perhiasan. Budaya ini disebut budaya Dongson. Mereka hidup di perkampungan tetap. Ada kelompok pengrajin benda tertentu dan perdagangan mulai maju. Di masa ini mulai terbentuk golongan masyarakat sebagai pemimpin, pendeta, orang awam, dan budak. Hasil kebudayaan yang ditemukan pada masa ini adalah; 1. Kapak Genggam: berfungsi untuk menggali umbi, memotong dan menguliti binatang. 2. Kapak Perimbas: berfungsi untuk merimbas kayu, memecahkan tulang, dan sebagai senjata yang banyak ditemukan di Pacitan. Maka Ralph Von Koeningswald menyebutkan kebudayaan Pacitan, dan pendukung kebudayaan Pacitan adalah jenis Phitecantropus. 3. Alat-alat dari tulang dan tanduk binatang: berfungsi sebagai alat penusuk, pengorek dan tombak. Benda-benda ini banyak ditemukan di ngandong, dan sebagai pendukung kebudayaan ini adalah Homo Wajakensis, dan Homo Soloensis. Alat-alat yang dimanfaatkan untuk hidup adalah;
a. Serpih (flakes) – terbuat dari batu bentuknya kecil, ada juga yang terbuat dari batu induk (kalsedon): berfungsi untuk mengiris daging atau memotong umbi-umbian dan buah-buahan. Pendukung kebudayaan ini adalah Homo soloensis dan Homo wajakensis.
b. Kapak Sumatra (Pebble): Sejenis kapak genggam yang sudah digosok, tetapi belum sampai halus. Terbuat dari batu kali yang dipecah atau dibelah.
c. Kjokenmoddinger: Dari bahasa denmark yang artinya sampah dapur.
d. Abris Sous Roche: Adalah tempat tinggal yang berwujud goa-goa dan ceruk-ceruk di dalam batu karang untuk berlindung.
e. Batu Pipisan: Terdiri dari batu penggiling dan landasannya. Berfungsi untuk menggiling makanan, menghaluskan bahan makanan.
f. Kapak Persegi: Adalah kapak yang penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atau trapesium. Ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Sebutan kapak persegi diberikan oleh Von Heine Geldern.
g. Kapak Lonjong: Adalah kapak yang penampangnya berbentuk lonjong memanjang. Ditemukan di Irian, seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa, dan Serawak.
h. Kapak Bahu: Adalah kapak persegi namun pada tangkai diberi leher sehingga menyerupai botol persegi. Kapak bahu hanya ditemukan di Minahasa, Sulawesi Utara.
i. Menhir: tugu batu yang didirikan sebagai pemujaan roh nenek moyang memperingati arwah nenek moyang dan lain-lain.
Pembagian zaman pada masa pra-sejarah diberi sebutan menurut benda-benda atau peralatan yang menjadi ciri utama dari masing-masing periode waktu itu. Adapun pembagian kebudayaan zaman pra-sejarah tersebut adalah:
Zaman Batu Tua (Palaelitikum)
Berdasarkan tempat penemuannya, maka kebudayaan tertua ini lebih dikenal dengan sebutan kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong. Pada tahun 1935 di daerah Pacitan ditemukan sejumlah alat-alat dari batu, yang kemudian dinamakan kapak genggam, karena bentuknya seperti kapak yang tidak bertangkai. Dalam ilmu pra-sejarah alat-alat atau kapak Pacitan ini disebut chopper (alat penetak). Soekmono; mengemukakan bahwa asal kebudayaan Pacitan adalah dari lapisan Trinil, yaitu berasal dari lapisan pleistosen tengah, yang merupakan lapisan ditemukannya fosil Pithecantropus Erectus. Sehingga kebudayaan Palaelitikum itu pendukungnya adalah Pithecanthropus Erectus, yaitu manusia pertama dan manusia tertua yang menjadi penghuni Indonesia (Kebudayaan Pacitan). Di sekitar daerah Ngandong dan Sidorejo dekat Ngawi, Madiun, ditemukan alat-alat dari tulang bersama kapak genggam. Alat-alat yang ditemukan dekat Sangiran juga termasuk jenis kebudayaan Ngandong. Alat-alat tersebut berupa alat-alat kecil yang disebut flakes. Selain di Sangiran flakes juga ditemukan di Sulawesi Selatan. Berdasarkan penelitian, alatalat tersebut berasal dari lapisan pleistosen atas, yang menunjukkan bahwa alat-alat tersebut merupakan hasil kebudayaan Homo Soloensis dan Homo Wajakensis (Soekmono, 1958: 30). Dengan demikian kehidupan manusia Palaelitikum masih dalam tingkatan food gathering, yang diperkirakan telah mengenal sistem penguburan untuk anggota kelompoknya yang meninggal.
Zaman Batu Madya (Mesolitikum)
Peninggalan atau bekas kebudayaan Indonesi zaman Mesolitikum, banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores. Kehidupannya masih dari berburu dan menangkap ikan. Tetapi sebagian besar mereka sudah menetap, sehingga diperkirakan sudah mengenal bercocok tanam, walaupun masih sangat sederhana. Bekas-bekas tempat tinggal manusia zaman Mesolitikum ditemukan di goa-goa dan di pinggir pantai yang biasa disebut Kyokkenmoddinger (di tepi pantai) dan Abris Sous Roche (di goa-goa). Secara garis besar kebudayaan zaman Mesolitikum terdiri dari: alat-alat pebble yang ditemukan di Kyokkenmoddinger, alatalat tulang, dan alat-alat flakes, yang ditemukan di Abris Sous Roche. Kebudayaan zaman Mesolitikum di Indonesia diperkirakan berasal dari daerah Tonkin di Hindia Belakang, yaitu di pegunungan Bacson dan Hoabinh yang merupakan pusat kebudayaan prasejarah Asia Tenggara. Adapun pendukung dari kebudayaan Mesolitikum adalah Papua Melanesia.
Zaman Batu baru (Neolitikum)
Zaman Neolitikum merupakan zaman yang menunjukkan bahwa manusia pada umumnya sudah mulai maju dan telah mengalami revolusi kebudayaan. Dengan kehidupan yang telah menetap, memungkinkan masyarakatnya mengembangkan aspek-aspek kehidupan lainnya. Sehingga dalam zaman Neolitikum ini terdapat dasar-dasar kehidupan. Berdasarkan alat-alat yang ditemukan dari peninggalan zaman Neolitikum yang bercorak khusus, dapat dibagi kedalam dua golongan, yaitu; Kapak persegi, didasarkan kepada penampang dari alat-alat yang ditemukannya berbentuk persegi panjang atau trapesium (von Heine Geldern). Semua bentuk alatnya sama, yaitu agak melengkung dan diberi tangkai pada tempat yang melengkung tersebut. Jenis alat yang termasuk kapak persegi adalah kapak bahu yang pada bagian tangkainya diberi leher, sehingga menyerupai bentuk botol yang persegi. Kapak lonjong, karena bentuk penampangnya berbentuk lonjong, dan bentuk kapaknya sendiri bulat telur. Ujungnya yang agak lancip digunakan untuk tangkai dan ujung lainnya yang bulat diasah, sehingga tajam. Kebudayaan kapak lonjong disebut Neolitikum Papua, karena banyak ditemukan di Irian.
Kapak pacul, beliung, tembikar atau periuk belanga, alat pemukul kulit kayu, dan berbagai benda perhiasan dan yang lainnya adalah termasuk benda-benda pada zaman Neolitikum. Adapun yang menjadi pendukungnya adalah bangsa Austronesia untuk kapak persegi, bangsa Austro-Asia untuk kapak bahu, dan bangsa Papua Melanesia untuk kapak lonjong.
Zaman Logam
Zaman logam dalam prasejarah terdiri dari zaman tembaga, perunggu, dan besi. Di Asia Tenggara termasuk Indonesia tidak dikenal adanya zaman tembaga, sehingga setelah zaman Neolitikum, langsung ke zaman perunggu. Adapun kebudayaan Indonesia pada zaman Logam terdiri dari; kapak Corong yang disebut juga kapak sepatu, karena bagian atasnya berbentuk corong dengan sembirnya belah, dan kedalam corong itulah dimasukkan tangkai kayunya. Nekara, yaitu barang semacam berumbung yang bagian tengah badannya berpinggang dan di bagian sisi atasnya tertutup, yang terbuat dari perunggu. Selain itu, benda lainnya adalah benda perhiasan seperti kalung, anting, gelang, cincin, dan binggel, juga manik-manik yang terbuat dari kaca serta seni menuang patung. Dongson adalah sebuah tempat di daerah Tonkin Tiongkok yang dianggap sebagai pusat kebudayaan perunggu Asia Tenggara, oleh sebab itu disebut juga kebudayaan Dongson. Sebagaimana zaman tembaga, di Indonesia juga tidak terdapat zaman besi, sehingga zaman logam di Indonesia adalah zaman perunggu.
Zaman Batu Besar (Megalitikum)
Zaman Megalitikum berkembang pada zaman logam, namun akarnya terdapat pada zaman Neolitikum. Disebut zaman Megalitikum karena kebudayaannya menghasilkan bangunan-bangunan batu atau barangbarang batu yang besar. Bentuk peninggalannya adalah: a. Menhir, yaitu tiang atau tugu yang didirikan sebagai tanda peringatan terhadap arwah nenek moyang. b. Dolmen, berbentuk meja batu yang dipergunakan sebagai tempat meletakkan sesajen yang dipersembahkan untuk nenek moyang. c. Sarcopagus, berupa kubur batu yang bentuknya seperti keranda atau lesung dan mempunyai tutup. d. Kubur batu, merupakan peti mayat yang terbuat dari batu.
Punden berundak-undak, berupa bangunan pemujaan dari batu yang tersusun bertingkat-tingkat, sehingga menyerupai tangga. f. Arca-arca, yaitu patung-patung dari batu yang merupakan arca nenek moyang.
SEJARAH AGAMA HINDU DI DUNIA.
Sejarah Agama Hindu di Dunia; Untuk pertama kalinya agama Hindu mulai berkembang di lembah Sungai Shindu di India. Di lembah sungai ini para Rsi menerima wahyu dari ”Sang Hyang Widhi” (Tuhan) dan diabadikan ke dalam bentuk Kitab Suci Weda. Agama Hindu sering disebut dengan sebutan Sanātana Dharma (Bahasa Sanskerta) berarti ”Kebenaran Abadi”, dan Vaidika-Dharma ”Pengetahuan Kebenaran”. Agama Hindu merupakan sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya).
Agama Hindu diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa. Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam kitab Rg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Kata sapta sindhu berdekatan dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18)- sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya. baru terbentuk setelah masehi ketika beberapa kitab dari Weda dilengkapi oleh para brahmana. Zaman munculnya agama Buddha, nama agama Hindu lebih dikenal dengan sebutan sebagai ajaran Weda. Agama Hindu sebagaimana istilah yang dikenal sekarang ini, pada awalnya tidak disebut demikian, bahkan dahulu ia tidak memerlukan nama, karena pada waktu itu ia merupakan agama satu-satunya yang ada di muka bumi. Sanatana Dharma adalah nama sebelum nama Hindu diberikan. Kata ”Sanatana dharma” bermakna ”kebenaran yang kekal abadi” dan jauh belakangan setelah ada agama-agama lainnya barulah ia diberi nama untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sanatana dharma pada zaman dahulu dianut oleh masyarakat di sekitar lembah sungai Shindu, penganut Weda ini disebut oleh orang-orang Persia sebagai orang indu (tanpa kedengaran bunyi s), selanjutnya lama-kelamaan istilah indu ini menjadi Hindu. Sehingga sampai sekarang penganut sanatana dharma disebut Hindu.
Agama Hindu adalah suatu kepercayaan yang didasarkan pada kitab suci yang disebut Weda. Weda diyakini sebagai pengetahuan yang tanpa awal tanpa akhir dan juga dipercayai keluar dari nafas Tuhan bersamaan dengan terciptanya dunia ini. Karena sifat ajarannya yang kekal abadi tanpa awal tanpa akhir maka disebut sanatana dharma. Apabila membahas tentang Agama Hindu, kita harus mengetahui sejarah tempat munculnya agama tersebut. India adalah sebuah Negara yang penuh dengan rahasia dan cerita dongeng, masyarakatnya berbangsa-bangsa dan berkasta-kasta, malah ada masyarakat dalam masyarakat, serta sungguh banyak ditemui agama-agama. Bahasa dan warna kulit pun bermacam-macam.
Pembicaraan mengenai India berarti adalah pembicaraan yang bercabangcabang. Dipandang dari sudut etnologi, India adalah tanah yang beraneka penduduknya, dan akibatnya orang dapat melihat kebudayaan yang beraneka pula. Semuanya ini tercermin dalam agamanya. Oleh karena itu barang siapa mulai mempelajari agama Hindu yang bersangkutan segera merasa terlibat dalam sejumlah ajaran-ajaran, sehingga hampir tidak dapat menemukan jalan untuk mengadakan penyelidikan. Sepanjang orang dapat menyelidikinya, maka sejarah kebudayaan India mulai pada zaman perkembangan kebudayaankebudayaan yang besar di Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi, di lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsabangsa yang peradabannya menyerupai kebudayaan bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan Tigris. Berbagai cap daripada gading dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan lukisan-lukisan binatang, menceritakan kepada kita bahwa pada zaman itu di sepanjang pantai dari Laut Tengah sampai ke Teluk Benggala terdapat jenis peradaban yang sejenis dan sudah meningkat pada.
Perkembangan yang tinggi. Sisa-sisa kebudayaan tersebut terutama terdapat di dekat Kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara Karachi. Bahkan disitu diketemukan sisa-sisa sebuah Kota, Mohenjodaro namanya, dimana ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga. Penduduk India pada zaman itu terkenal dengan sebutan bangsa Dravida. Mula-mula mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tetapi lama-kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memerintah negerinya sendiri, karena mereka di sebelah utara hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada bangsa-bangsa yang merebut negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih, berperawakan kecil dan berambut keriting. Nama India diambil dari sungai Indus. Perkataan Indus dan Hindu keduanya berarti bumi yang terletak di belakang Sungai Indus, dan penduduknya dinamakan orang-orang India atau orang-orang Hindu. Mengenai penamaan Negara India, Gustav Le Bon menyatakan: ”Orang-orang Barat berpendapat bahwa sebutan Sungai Indus telah dipinjamkan kepada negara yang mengandung berbagai rahasia yang terletak di sebelah belakangnya. Alasan ini tidak diterimanya bulat-bulat sebab sebutan India itu harus diambil dari sebutan Tuhan Indra.” Peradaban India telah berlangsung lama. Negara India telah menghasilkan beberapa Filosof agung sebelum Socrates dilahirkan. Di Negara India ini sudah tersebar tanda-tanda ilmu pengetahuan dan bangunan-bangunan yang megah pada masa dahulu ketika Kepulauan Inggris masih dalam keadaan terbelakang. India adalah negara yang penuh dengan keajaiban. India adalah salah satu pusat peradaban kuno di dunia. Dalam hal ini, India menandingi Mesir, Cina, Assyria, dan Babilonia. Peradaban India sebelum zaman Arya dapat diketahui dan ditemukan dengan pengungkapan-pengungkapan pada tingkat kemajuan yang pernah dicapai oleh India dalam bidang arsitektur, pertanian, dan kemasyarakatan sejak masa 300 tahun SM, yaitu 1500 tahun sebelum kedatangan bangsa Arya.
Antara 2000 dan 1000 tahun SM masuklah kaum Arya ke India dari sebelah utara. Bangsa Arya memisahkan diri dari bangsanya di Iran dan yang memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan Hindu-Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani dan Romawi dan bangsabangsa lainnya di Eropa dan Asia. Mereka tergolong dalam apa yang kita sebut rumpun-bangsa Indo-German. Hinduisme dapat disamakan dengan rimbaraya yang penuh dengan pohon-pohonan, tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan dan kembang-kembangan. Hinduisme memperlihatkan berbagai bentuk dan bermacam-macam gejala agama. Gambaran yang diberikan Hinduisme dalam keseluruhannya memang beraneka warna. Pesan pertama yang kita dapat ialah bahwa dalam Hinduisme boleh dikatakan terhimpun seluruh sejarah agama. dengan segala ragam dan bentuknya. Hinduisme ialah agama dari jutaan penduduk India.
Tidaklah mudah untuk menentukan dengan kata-kata yang singkat, apakah sebenarnya Hinduisme itu. Lebih tepat rasanya jika Hinduisme kita namakan sebagai suatu sistem sosial yang diperkuat oleh cita-cita keagamaan dan dengan demikian lalu mempunyai tendensi keagamaan. Tak ada seorang pun yang dapat menjadi seorang Hindu dengan jalan menganut suatu agama tertentu. Menjadi seorang Hindu adalah berkat kelahirannya. Keadaan ini meletakkan kewajiban untuk megikuti peraturan-peraturan upacara-upacara tertentu, pada umumnya peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pembagian Varna dan khsusunya pemberian korban dan upacara-upacara keagamaan yang timbul dari pada pembagian Varna tadi. Ikatan-ikatan batin pada upacara yang turun temurun ini sangat kuat. Hal ini nyata sekali pada diri Gandi yang jelas bersimpati terhadap agama lain, tetapi tetap tinggal di Hindu karena pertanian, bangsa dan hubungan batinnya dengan kebudayaan agama sukunya. Bangsa Arya turun ke lembah Indus kira-kira 1500 tahun SM dan memberi corak pada kebudayaan India. Bangsa Arya satu suku dengan bangsa Iran.
Menurut pendapat para peneliti bahwa bangsa Arya berasal dari Asia, dahulunya mereka hidup di Asia Tengah dari negeri Turkistan yang berdekatan dengan Sungai Jihun, kemudian berpindah dalam kelompok-kelompok yang besar menuju ke India melalui Parsi, dan mereka juga menuju Eropa. Nyatalah bahwa kedatangan bangsa Arya ke India terjadi pada abad ke-15 SM. Bangsa Arya ini telah memerangi kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh bangsa berkulit kuning di India dan berhasil mengalahkan sebagaian besar dari mereka serta menjadikan kawasan-kawasan yang dikalahkannya itu sebagai wilayah yang tunduk di bawah pengaruh mereka. Bangsa Arya tidak bercampur dengan penduduk India dengan jalan perkawinan. Mereka menjaga dengan sungguh-sungguh keturunan mereka yang berkulit putih itu. Bangsa Arya menggiring penduduk asli Negara India ke hutan-hutan atau ke gunung-gunung dan menjadikan mereka sebagai orang-orang tawanan yang dalam sastra lama Bangsa Arya dinamakan sebagai Bangsa Hamba Sahaya. Bangsa Arya ini telah meminta pertolongan dari Tuhan mereka ”Indra” untuk mengalahkan penduduk India. Di antara bacaan do’a mereka adalah ”wahai Indra Tuhan kami! Suku-suku kaum Dasa (budak) telah mengepung kami dari segenap penjuru dan mereka tidak memberikan korban apa-apa, mereka bukan manusia dan tidak berkepercayaan. Wahai Penghancur musuh! Binasakanlah mereka dari keturunannya.”
Tentang sejauh mana pengaruh bangsa-bangsa berkulit kuning (Bangsa Turan) dan berkulit putih (Bangsa Arya) di India telah diterangkan oleh Gustav Le Bon: ”Bangsa Turan adalah bangsa penyerang yang kuat. Bangsa Arya meninggalkan kesan yang mendalam terhadap bangsa India dari segi budaya. Dari bangsa Turan, penduduk India mengambil ciri ukuran tubuh dan raut muka. Dari bangsa Arya mereka mengambil ciri bahasa, agama, undangundang, dan adat-istiadat.” Pertemuan bangsa Arya dan bangsa Turan dengan penduduk asli telah menimbulkan kelas-kelas masyarakat di India, dan merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam sejarah negara ini. Dari bangsa Arya terbentuk golongan ahli-ahli agama (Brahmana) dan golongan prajurit (Ksatria)
Dari bangsa Turan terbentuk pula golongan saudagar dan ahli-ahli tukang (Waisya). Pada mulanya orang-orang Hindu yang bergaul dengan bangsa Turan tidak termasuk dalam pembagian ini. Tetapi dalam beberapa zaman kemudian peradaban Arya meresap ke dalam sebagian diri mereka. Selanjutnya bangsa Arya pun terbentuk dari kalangan orang-orang Hindu golongan keempat, yaitu golongan pesuruh dan hamba sahaya (Sudra). Penduduk-penduduk asli yang tidak tersentuh dengan peradaban Arya adalah disebabkan karena mereka memisahkan diri dari bangsa-bangsa pendatang itu. Maka, tinggallah mereka jauh dari pembagian ini dan terus menjadi orang-orang yang tersingkir atau terhalau dari masyarakat (out-casts). Bangsa Arya ketika masuk ke India kemungkinan kurang beradab dari pada bangsa Dravida yang ditaklukkannya. Tetapi mereka lebih unggul dalam ilmu peperangan daripada bangsa Dravida. Pada waktu bangsa Arya masuk ke India, mereka itu masih merupakan bangsa setengah nomaden (pengembara), yang baginya peternakan lebih besar artinya daripada pertanian. Bagi bangsa Arya, kuda dan lembu adalah binatangbinatang yang sangat dihargai, sehingga binatang-binatang itu dianggap suci. Dibandingkan dengan bangsa Dravida yang tinggal di kota-kota dan mengusahakan pertanian serta menyelenggarakan perniagaan di sepanjang pantai, maka bangsa Arya itu bolehlah dikatakan primitive.
Dahulu orang belum tahu dengan tepat dan selalu memandang kebudayaan yang ada di India dibawa oleh bangsa Arya. Sesudah adanya penggalianpenggalian di India, pandangan orang berubah dan makin banyak diketahui bahwa bermacam-macam unsur di dalam kebudayaan India berasal dari kebudayaan Dravida yang tua itu. Bangsa Arya belum mempunyai patungpatung Dewa, bangsa Dravida sudah. Sebuah gejala yang khas di dalam agama Hindu ialah pengakuan adanya Dewa-Dewi induk, itupun suatu gejala praArya. Banyak gejala-gejala Agama Hindu yang rupa-rupanya tidak berasal dari agama bangsa Arya, melainkan berasal dari bangsa Dravida. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa agama Hindu sebagai agama tumbuh dari dua sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan fikiran keagamaan dua bangsa yang berlainan, yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan, tetapi kemudian lebur menjadi satu. Di dalam tulisan-tulisan Hindu tua, unsurunsur Arya-lah yang sangat besar pengaruhnya. Hal itu tidak mengherankan karena tulisan-tulisan itu berasal dari zaman bangsa Arya memasuki India dengan kemenangan-kemenanganya. Pengaruh bangsa Dravida tentunya belum begitu besar. Agama bangsa Arya dapat kita ketahui dari kitab-kitab Weda (Weda artinya tahu). Oleh karena itu masa yang tertua dari agama Hindu disebut masa Weda. Maulana Mohamed Abdul Salam al-Ramburi juga berkata: ”Umat India mudah menerima apa saja pemikiran dan kepercayaan yang ditemuinya.
Agama Hindu adalah yang tertua di antara agama-agama yang ada. Penyebarannya meliputi kebanyakan atau semua orang India. Buku Hinduism telah menerangkan sebab-sebab terjadinya hal demikian dengan menuliskan; amat sulit untuk dikatakan, bahwa Hinduisme itu adalah suatu agama dalam pengertiannya yang sangat luas. Ini merupakan kehidupan India dengan caranya tersendiri yang dianggap sebagai satu dari semua masalah suci dan masalah hina karena di dalam pemikiran Hindu tidak ada batas yang memisahkan keduanya. Agama Hindu adalah suatu agama yang berevolusi dan merupakan kumpulan adat-istiadat yang tumbuh dan berkembang pada daerah yang dilaluinya. Kedudukan bangsa Arya sebagai penakluk negeri, yang lebih tinggi daripada penduduk asli telah melahirkan adat-istiadat Hindu. Kiranya dapat dikatakan bahwa asas agama Hindu adalah kepercayaan bangsa Arya yang telah mengalami perubahan sebagai hasil dari percampuran mereka dengan bangsa-bangsa lain, terutama sekali adalah bangsa Parsi, yaitu sewaktu dalam masa perjalanan mereka menuju India. Agama Hindu lebih merupakan suatu tatanan hidup dari pada merupakan kumpulan kepercayaan. Sejarah menerangkan mengenai isi kandungannya yang meliputi berbagai kepercayaan, hal-hal yang harus dilakukan, dan yang boleh dilakukan. Agama Hindu tidak mempunyai kepercayaan yang membawanya turun hingga kepada penyembahan batu dan pohon-pohon, dan membawanya naik pula kepada masalah-masalah falsafah yang abstrak dan halus. Seandainya Agama Hindu tidak mempunyai pendiri yang pasti maka begitu pula halnya dengan Weda. Kitab suci ini yang mengandung kepercayaan-kepercayaan, adat-istiadat, dan hukum-hukum juga tidak mempunyai pencipta yang pasti. Para penganut agama Hindu mempercayai bahwa Weda adalah suatu kitab yang ada sejak dahulu yang tidak mempunyai tanggal permulaan. Kitab Weda diwahyukan sejak awal kehidupan, setara dengan awal yang diwahyukannnya.
Penduduk asli Lembah sungai Indus adalah bangsa Dravida yang berkulit hitam. Di sekitar sungai itu terdapat dua pusat kebudayaan yaitu Mohenjodaro dan Harappa. Mereka sudah menetap disana dengan mata pencaharian bercocok tanam dengan memanfaatkan aliran sungai dan kesuburan tanah di sekitarnya. Menurut teori kehidupan bangsa Dravida mulai berubah sejak tahun 2000-an SM karena adanya pendatang baru, bangsa Arya. Mereka termasuk rumpun berbahasa Indo-Eropa dan berkulit putih. Bangsa Arya ini mendesak bangsa Dravida ke bagian selatan India dan membentuk Kebudayaan Dravida, sebagian lagi ada yang bercampur antara bangsa Arya dan Dravida yang kemudian disebut bangsa Hindu. Oleh karena itu, kebudayaannya disebut kebudayaan Hindu.
Letak Geografis Sungai Indus, di sebelah utara berbatasan dengan China yang dibatasi Gunung Himalaya, selatan berbatasan dengan Srilanka yang dibatasi oleh Samudra Hindia, barat berbatasan dengan Pakistan, timur berbatasan dengan Myanmar dan Bangladesh. Peradaban sungai Indus berkembang disekitar (2500 SM). Kebudayaan kuno India ditemukan di Kota tertua India yaitu daerah Mohenjodaro dan Harappa. Penduduk Mohenjodaro & Harappa adalah bangsa Dravida. Terdapat hubungan dagang antara Mohenjodaro dan Harappa dengan Sumeria. Mohenjodaro dan Harappa ditata dengan perencanaan yang sudah maju, rumah-rumah terbuat dari batu-bata, saluran air bagus, jalan raya lurus dan lebar. Mohenjodaro dan Harappa sebagai Kota tua yang dibangun berdasarkan penataan dan peradaban yang maju. Peradaban Lembah Sungai Indus diketahui melalui penemuan-penemuan arkeologi. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibu Kota daerah Lembah Sungai Indus bagian selatan dan Kota Harappa sebagai ibu Kota Lembah Sungai Indus bagian utara. Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat peradaban bangsa India pada masa lampau. Di Kota Mohenjodaro dan terdapat gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoan yang dibangun secara teratur dan berdiri kukuh. Gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoan itu sudah terbuat dari batu bata lumpur. Wilayah Kota dibagi atas beberapa bagian atau lokasi yang dilengkapi dengan jalan yang ada aliran airnya.
Daerah Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur. Pertanian menjadi mata pencaharian utama masyarakat India. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat telah berhasil menyalurkan air yang mengalir dari Lembah Sungai Indus sampai jauh ke daerah pedalaman. Pembuatan saluran irigasi dan pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukkan bahwa masyarakat Lembah Sungai Indus telah memiliki peradaban yang tinggi. Hasil-hasil pertanian yang utama adalah padi, gandum, gula/tebu, kapas, teh, dan lainlain. Masyarakat Mohenjodaro dan Harappa telah memperhatikan sanitasi (kesehatan) lingkungannya. Teknik-teknik atau cara-cara pembangunan rumah yang telah memperhatikan faktor-faktor kesehatan dan kebersihan lingkungan yaitu rumah mereka sudah dilengkapi denga jendela. Masyarakat Lembah Sungai Indus sudah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemampuan mereka dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan budaya yang ditemukan, seperti bangunan Kota Mohenjodaro dan Harappa, berbagai macam patung, perhiasan emas, perak, dan berbagai macam meterai dengan lukisannya yang bermutu tinggi dan alat-alat peperangan seperti tombak, pedang, dan anak panah. Demikian sekilas tentang kebudayaan prasejarah di India sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya agama Hindu yang sampai saat ini kita yakini kebenarannya sebagai pedoman dan penuntun dalam hidup dan kehidupan ini.
Seiring dengan perkembangan zaman, sebagaimana negeri lainnya yang diperintah oleh masing-masing rajanya dalam sebuah kerajaan, negeri India juga demikian adanya. Raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Maurya antara lain: Candragupta Maurya. Setelah berhasil menguasai Persia, pasukan Iskandar Zulkarnaen melanjutkan ekspansi dan menduduki India pada tahun 327 SM melalui Celah Kaibar di Pegunungan Himalaya. Pendudukan yang dilakukan oleh pasukan Iskandar Zulkarnaen hanya sampai di daerah Punjab. Pada tahun 324 SM muncul gerakan di bawah Candragupta. Setelah Iskandar Zulkarnaen meninggal tahun 322 SM, pasukannya berhasil diusir dari daerah Punjab dan selanjutnya berdirilah Kerajaan Maurya dengan ibu Kota di Pattaliputra. Candragupta Maurya Menjadi raja pertama Kerajaan Maurya. Pada masa pemerintahannya, daerah kekuasaan Kerajaan Maurya diperluas ke arah timur, sehingga sebagian besar daerah India bagian utara menjadi bagian dari kekuasaannya. Dalam waktu singkat, wilayah Kerajaan Maurya sudah mencapai daerah yang sangat luas, yaitu daerah Kashmir di sebelah barat dan Lembah Sungai Gangga di sebelah timur.
Ashoka memerintah Kerajaan Maurya dari tahun 268-282 SM. Ashoka merupakan cucu dari Candragupta Maurya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Maurya mengalami masa yang gemilang. Kalingga dan Dekkan berhasil dikuasainya. Namun, setelah yang bersangkutan menyaksikan korban bencana perang yang maha dahsyat di Kalingga, timbul penyesalan dan tidak lagi melakukan peperangan. Mula-mula Ashoka beragama Hindu, tetapi kemudian menjadi pengikut agama Buddha. Sejak saat itu Ashoka menjadikan agama Buddha sebagai agama resmi negara. Setelah Ashoka meninggal, kerajaan terpecah-belah menjadi kerajaan kecil. Peperangan sering terjadi dan baru pada abad ke-4 M muncul seorang raja yang berhasil mempersatukan kerajaan yang terpecah belah itu. Maka berdirilah Kerajaan Gupta dengan Candragupta I sebagai rajanya.
Sistem kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Indus bersifat politeisme atau memuja banyak Dewa. Dewa-Dewa tersebut misalnya Dewa kesuburan dan kemakmuran (Dewi Ibu). Masyarakat Lembah Sungai Indus juga menghormati binatang-binatang seperti buaya dan gajah, pohon seperti pohon pipal (beringin). Pemujaan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. Interaksi bangsa Dravida dan bangsa Arya menghasilkan Agama Hindu. Bagaimana dengan perkembangan agama Hindu di Dunia?
Sejarah perkembangan agama Hindu di Dunia dapat diketahui dari berbagai jenis kitab suci Hindu seperti; weda sruti, weda smrti, brahmana, upanisad dan yang lainnya. Pertumbuhan filsafat keagamaan dan perkembangan pelaksanaan kehidupan beragama tidak dapat terlepaskan dari sumber-sumber tersebut. Dengan demikian perkembangan agama Hindu senantiasa bersifat religius. Agama Hindu merupakan sumber kekuatan bathin, yang mampu menjiwai seluruh aktivitas kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Kehadiran agama-agama yang ada di dunia ini pada umumnya di dasarkan atas wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang diterima oleh para Maharsi ”orang suci” agama yang bersangkutan. Agama-agama itu diwahyukan dengan tujuan untuk mempermulia kehidupan manusia baik lahir maupun batin. Pada umumnya sebutan atau penamaan dari suatu agama biasanya memiliki keterkaitan dengan para pendirinya. Sebagai contoh agama Buddha memiliki hubungan dengan penamaan Sidharta Gauthama yang disebut-sebut menjadi pendirinya, agama Kristen memiliki keterkaitan dengan Yesus Kristus sebagai nabi dan pendirinya.
Berbeda dengan nama agama-agama tersebut di atas, agama Hindu tidak dikaitkan dengan nama salah seorang Maha Rsi penerima wahyu sebagai pendirinya, karena agama Hindu diyakini sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa dan diterima oleh banyak Maha Rsi. Para tokoh menyatakan sebutan Hindu itu berasal dari kata Shindu, yaitu sebutan sebuah sungai yang terdapat di wilayah India bagian Barat Daya yang sekarang dikenal dengan nama punjab. Punjab artinya daerah aliran 5 (Lima) anak sungai.
Peninggalan di Mohenjadaro, diperkirakan ± tahun 6000 SM datanglah bangsa Arya dari daratan Eropa bagian timur ”kemungkinan dari wilayah Hungaria dan Bosnia atau Cekoslovakia” memasuki daerah India secara bertahap. Bangsa Arya memasuki India melalui celah Kaiber ”Khyber Pass” yang terletak diantara pegunungan Himalaya dan Hindu Kush. Bangsa Arya tergolong ras bangsa indojerman yang memiliki kegemaran mengembara. Setelah memasuki wilayah India, mereka kemudian menetap di lembah sungai Sindhu yang kondisi alamnya sangat menarik dan subur. Sebelum bangsa Arya memasuki India, daerah ini telah diuni oleh bangsa Dravida. Bangsa Dravida disebut-sebut sebagai bangsa yang telah memiliki peradaban sangat tinggi. Para ahli berhasil menemukan bekas-bekas peninggalan bangsa Dravida di Harappa dan Mohenjodaro. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di wilayah Mohenjodaro dan Harappa, ditemukan beberapa peninggalan yang menunjukkan mengandung nilai-nilai ajaran agama Hindu. Diantara penemuan yang dimaksud adalah:
Arca manusia berkepala tiga, bertangan empat, berdiri dengan kaki kanan dan kaki kirinya terangkat ke depan. Arca ini terbuat dari dari batu kapur yang dibakar. Postur arca ini memberikan inspirasi kepada kita tentang adanya arca Siwanatharaja. Arca Siwanatharaja adalah merupakan perwujudan dari adanya pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa sebagai raja dari alam semesta. Sangat memungkinkan perkembangan selanjutnya sampai di Indonesia khususnya ”Bali” yang mana hal ini mengingatkan kita pada fungsi arca Shang Hyang Acintya
Materai yang berisi hiasan burung elang yang sedang mengembangkan sayapnya, kepalanya menghadap ke kiri-atas, di atas kepalanya terdapat hiasan ular. Diperkirakan konsep inilah yang memberi inspirasi pada hiasan burung Garuda bersama para naga yang terdapat dalam kitab Itihasa
Materai yang bergambarkan orang yang duduk bersila, bermuka tiga bertanduk dua, hiasan kepalanya meruncing ke atas, dan dikelilingi oleh para binatang seperti; gajah, lembu, harimau, dan Badak. Konsep inilah kemudian diperkirakan memberikan inspirasi kepada kita tentang pemujaan kepada Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati. Selain itu juga ditemukan materai yang berisi lukisan pohon yang berdekatan dengan seorang Dewa. Konsep ini kemudian dapat dihubungkan dengan keberadaan pohon Kalpataru atau pohon Surgawi. Pohon Kalpataru diyakini oleh umat dapat mengabulkan semua keinginaan manusia seperti yang terdapat dalam kitab Ithihasa.
Bangunan rumah yang sudah memiliki tata ruang dan tata letak yang sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dari letak bangunan dan adanya kamarkamar yang memiliki fungsi berbedabeda. Di samping itu juga diketemukan ada jalan-jalan yang lebar dan lurus serta di samping kiri-kanan dari jalan tersebut sudah dilengkapi dengan parit yang berukuran sangat dalam sebagai pembuangan air limbah dan air hujan.
Arca orang tua yang berjanggut dan mempergunakan jubah, serta arca seorang wanita yang bentuk badannya agak gemuk. Kedua arca tersebut dikenal dengan sebutan arca Terracota, yang bahannya terbuat dari tanah liat yang dibakar. Diperkirakan arca orang tua yang berjanggut itu adalah sebagai arca tokoh spiritual, sedangkan arca seorang perempuan itu di duga sebagai arca dewi kesuburan.
Permainan anak-anak yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Dan disamping itu juga diketemukan kolam ”Latra” lengkap dengan pancurannya yang dimungkinkan sebagai tempat permandian umum atau sebagai tempat yang disucikan untuk memandikan arca-arca dewa.
Sandal yang terbuat dari bahan kaca. Penemuan ini memberikan bukti kepada kita bahwa peradaban lembah sungai Sindhu memiliki nilai kemajuan yang sangat tinggi.
Kehadiran bangsa Arya ke India ”Punjab” dinyatakan menimbulkan peperangan dengan penduduk asli India. Bangsa Dravida sebagai penduduk asli India berhasil dikalahkannya dan terdesak ke Selatan. Semula bangsa Arya bermaksud mempertahankan kemurnian darah ”ras” mereka, tetapi kemudian secara perlahan mulai terjadi percampuran darah dan kebudayaan dengan bangsa Dravida. Pencampuran darah dan Kebudayaan ini menghasilkan kebudayaan baru di lembah sungai Sindhu. Pada masa itu diantara mereka telah menjalin hubungan dagang dengan bangsa Yunani dan Persia. Bangsa Persia yang datang ke lembah sungai Sindhu menyebutkan kata Sindhu dengan kata Hindu, rupanya bangsa Persia itu tidak memiliki lafal ”S” dalam bahasa mereka, sedangkan bangsa Yunani menyebut Sindhu dengan sebutan Indo.Pada beberapa abad kemudian, bangsa-bangsa barat lainnya mengenal daerah ini dan menyebutnya dengan nama India. Dari data-data tersebut dapat dikemukakan bahwa nama Hindu berasal dari kata Sindhu, yaitu sebuah nama sungai yang berada di wilayah India bagian Barat Daya. Lembah sungai Sindhu yang amat subur itu memiliki lima aliran sungai pada hulunya dan kelima aliran tersebut dinamakan Pancanadi. Perkembangan selanjutnya ”India” disebut dengan nama Arya Wartha yang berarti daerah yang didiami oleh bangsa Arya, Bhatara Warsa yang artinya daerah yang penuh Hujan, Jambudwipa yang artinya pulau yang berbentuk Sumber: http://4.bp.blogspot.com 15-07-2013. Gambar 2.8 Wilayah Kedudukan Hindu Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 67 buah jambu. Hal ini sangat memungkinkan karena anak benua India ini ada kemiripan atau menyerupai buah jambu bila kita perhatikan sebagai mana dilihat dalam peta dunia. buah jambu. Hal ini sangat memungkinkan karena anak benua India ini ada kemiripan atau menyerupai buah jambu bila kita perhatikan sebagai mana dilihat dalam peta dunia.
Adanya pembauran budaya dan kepercayaan diantara bangsa arya dengan bangsa Dravida dalam perkembangan berikutnya rupanya mengalami kemajuan yang sangat pesat sampai pada munculnya agama Hindu di lembah sungai Sindhu. Semua bentuk budaya dan kepercayaan yang ada pada masa itu, dirangkul dan mengalami penyempurnaan senafas dengan keberadaan agama Hindu. Hal ini dimungkinkan karena agama Hindu bersifat universal dan fleksibel.
Perkembangan Agama Hindu di India.
Terhitung sejak ribuan tahun yang lalu, India telah dikenal oleh berbagai macam bangsa-bangsa di dunia. Disekitar tahun 4000 SM negeri India sudah banyak didiami oleh berbagai macam suku bangsa, yang kemudian membentuk system pemerintahan Kota yang berpisah-pisah. Mohenjodara dan Harappa adalah Kota yang paling maju, dan didiami oleh bangsa Dravida. Disekitar (3000 – 1500) SM. Kebudayaan Mohenjodaro dan Harappa sedang suburnya, datanglah bangsa Arya (bangsa kulit putih) menyerang India dan menghancurkan hasil-hasil kebudayaannya. Dalam kondisi seperti itu terjadilah percampuran kebudayaan (kebudayaan asli bangsa Dravida – India dengan bangsa Arya – Kaspia) dan akhirnya munculah kebudayaan Weda.
Menurut catatan yang ada menyatakan bahwa sejarah perkembangan agama Hindu di India, berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang yakni berabad-abad lamanya hingga sampai sekarang. Rentang waktu yang sangat panjang itu memungkinkan bila sejarah perkembangannya, kita kelompokkan menjadi beberapa fase sebagaimana pola pemikiran yang disampaikan oleh ”Govinda Das Hiduism Madras”. Pengelompokan yang dimaksud adalah sebagai berikut; Zaman Weda, Zaman Brahmana, dan Zaman Upanisad.
Zaman Weda.
Zaman Weda diperkirakan berlangsung lebih kurang dari tahun 1500 SM sampai dengan tahun 600 SM. Pada zaman ini muncullah kitab suci weda yang isinya merupakan kumpulan dari wahyu Tuhan Yang Maha Esa, yang diterima oleh para Maha Rsi. Penjelasan ini dapat dijumpai dalam kitab Nirukta, yaitu kitab yang memuat penafsiran autentik mengenai kata-kata yang ada dalam kitab suci weda yang disebut ”Bhumikabhasya” yang ditulis oleh Maha Rsi Sayana. Kitab Nirukta juga menjelaskan bahwa sabda suci itu diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan diterima oleh para Maha Rsi.
Maha Rsi penerima wahyu disebut Mantra Drstah iti Rsih. Dari penjelasan itu dapat disimpulkan bahwa Maha Rsi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa itu adalah orang-orang suci, yang dapat berhubungan langsung dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam sastra agama Hindu disebutkan bahwa ada banyak nama para Maha Rsi penerima wahyu, beberapa diantaranya dikenal dengan sebutan sapta Rsi penerima Wahyu, yaitu Maha Rsi Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Arti, Baradwaja, Wasitwa dan Kanwa. Selain Sapta Rsi penerima wahyu Tuhan, juga ada disebutkan dua puluh tiga Maha Rsi lainnya yang dikenal dengan nama ”Nawawimsatikrtyasca Vedavyastha Maharsibhih” diantaranya adalah Maharsi; Daksa, Usana, Swayambhu, Wrhaspati, Aditya, Mrtyu, Indra, Wasistha, Saraswata, Tridhatu, Tridrta, Sandhyaya, Akasa, Dharma, Tryguna, Dananjaya, Krtyaya, Ranajaya, Bharadwaja, Gotama, Uttama, Parasara, dan Wyasa.
Menurut tradisi Hindu, Maha Rsi yang terpopuler dan sangat besar jasanya dalam menghimpun serta mengkodefikasikan weda adalah Maha Rsi Wyasa. Beliau juga dikenal dengan sebutan Kresna Dwaipayana Wyasa. Maha Rsi Wyasa mengkodefikasi kitab-kitab weda menjadi catur weda samhita, dibantu oleh empat Maha Rsi lainnya yang disebut-sebut sebagai siswanya, yaitu:
Maha Rsi Paila, yang juga disebut Maharsi Puhala, beliau sebagai penyusun kitab suci Rg. Weda Samhita. b. Maha Rsi Waisampayana, sebagai penyusun kitab suci Yayur Weda Samhita. c. Maha Rsi Jaimini, sebagai penyusun kitab suci Sama Weda Samhita. d. Maha Rsi Sumantu, sebagai penyusun kitab Atharwa Weda Samhita. Selain sebagai penghimpun kitab catur Weda samhita, Maha Rsi Wyasa juga berjasa menyusun kitab Purana, Mahabharata, Bhagawadgita, dan kitab Brahmasutra. Dalam kesusatraan Hindu, Maha Rsi wyasa juga memiliki sebutan lain seperti Bagawan Byasa, Kresnadwaipayana, dan Wyasa Dewa. Diantara jenis-jenis weda itu, untuk yang pertama kali ditulis adalah Rg. Weda. Setelah itu dilanjutkan dengan kitab-kitab weda yang lainnya. Tatanan hidup beragama pada zaman itu sepenuhnya didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada weda samhita. Pembelajaran agama kepada umat lebih menekankan pada pembacaan dan merafalkan ayat-ayat suci weda, dengan menyanyikan serta mendengarkan secara berkelompok. Pada zaman weda pemujaan terhadap para dewa yang dipandang sebagai suatu kekuatan yang nyata dan berpribadi sangat mendominasi. Para Dewa. dipuja dengan nyanyian yang sangat indah, disertai dengan menghaturkan sajian yang dipersembahkan kepada-Nya. Persembahan sesajen dan pemujaan kepada para dewa dilakukan setiap hari, selain itu ada juga yang dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk memohon anugerah agar kehidupan seseorang menjadi selamat dan sejahtera baik lahir maupun batin. Keberadaan hukum alam yang disebut ”Rta” sangat dipercaya pada zaman Weda, karena hukum itulah yang mengatur segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, seperti; geraknya matahari, bintang-bintang, dan planet-planet lain yang ada di alam semesta. Semua yang ada di alam semesta ini harus tunduk pada ”Rta” tanpa terkecuali. Barang siapa yang mencoba menentangnya pasti binasa. Manusia dan para dewa seolah-olah memiliki hubungan kekeluargaan yang amat erat. Para dewa dipandang sebagai bapak atau ibu sebagai tempat memohon berkah dan perlindungan dalam hidup ini. Pandangan manusia terhadap susunan alam pada masa itu sudah cukup luas. Disebutkan bahwa alam semesta itu terdiri dari; matahari, bumi, langit, dan surga yang masing-masing dari wilayah itu ada Dewanya. Bumi yang ditempati oleh manusia itu di pandang sebagai sesuatu yang nyata, bukan merupakan hal yang semu. Hal itu dapat dibuktikan dari doa-doa yang dipanjatkan kepada para dewa, banyak berhubungan dengan hal-hal yang bersifat keduniawian, misalnya seperti; memohon kekayaan, kesejahteraan, keselamatan, banyak anak, kesuburan, kesehatan, dan lain sebagainya.
Pada zaman weda dewa-dewa yang dipandang populer dalam kitab suci weda ditampilkan melalui cerita mengenai mitologi para dewa. Dengan adanya uraian-uraian mengenai mitologi dewa-dewa itu, diharapkan dapat memperjelas tentang ajaran Ketuhanan dalam agama Hindu. Dewa-dewa yang dipandang populer pada zaman weda adalah Dewa; Agni, Indra, Rudra, dan Waruna. Adapun mitologinya dapat dikisahkan secara singkat sebagai berikut:
a. Dewa Agni
Pemujaan terhadap Dewa Agni sangat banyak dijumpai dalam kitab suci weda terutama dalam kitab suci Rg weda. Keberadaan Dewa Agni selalu dihubungkan dengan upacara persembahan api. Wujud Dewa Agni digambarkan berambut nyala api, berjenggot pirang, berdagu tajam, bergigi emas dengan kepalanya selalu bersinar. Sinar Dewa Agni seperti sinar matahari pagi. Beliau disebut sebagai putra Dewa Dyanus yaitu dewa langit. Dewa Agni sering disebut sebagai putra dewa langit dan bumi. Disebutkan pula bahwa Dewa Agni adalah keturunan air, yang namanya sering dihubungkan dengan Dewa Indra. Dewa
Agni Dipandang sebagai dewa pemimpin upacara, dan orang-orang melakukan persembahan pertama kali di dunia ini hanya pada Dewa Agni. Selanjutnya matahari dipandang sebagai perwujudan Dewa Agni, yang di pandang sebagai cahaya sorga pada waktu langit cerah. Dewa Agni juga disebut Grhapati yang artinya tuan-nya rumah tangga, dan dewa yang selalu mengunjungi orang-orang dirumahnya. Dewa Agni sering dipanggil sebagai ayah, sebagai saudara, sebagai seorang putra dari pemujanya. Dewa Agni menghantarkan persembahan seseorang atau orang banyak kepada para dewa, mengajak para dewa untuk hadir pada waktu upacara keagamaan. Dewa Agni dipandang sebagai duta dari para dewa dan para pemujanya untuk menghantar suatu persembahan kepadanya. Dalam pelaksanaan upacara keagamaan, Dewa Agni dipandang sebagai pendamping para pendeta, oleh sebab itu beliau sering dipanggil dengan sebutan Vipra, Purohita, Hotri, Adwaryu dan Brahman. Semua sebutan itu mengandung pengertian pendeta. Kependetaan adalah karakter yang paling menonjol dari Dewa Agni, oleh karena itu beliau dipandang sebagai pendeta yang besar, yang mengetahui semua rincian upacara, maha bijaksana dan mengetahui segalanya. Oleh karena itulah beliau selalu dipanggil dengan sebutan Yatadewa yang artinya mengetahui semua yang lahir.
Dewa Agni dipandang sebagai dewa yang amat dermawan oleh para pemuja-Nya. Beliau memberkahi mereka bermacam-macam karunia, baik berupa kebahagian dalam rumah tangga, maupun yang lainnya. Kitab Mahabrata mengisah bahwa Dewa Agni dipandang sebagai dewa yang membakar hutan Kandhawa. Sedangkan kitab Ramayana menyebutnya sebagai penjelmaan Nila. Dalam kitab suci Purana, disebutkan Dewa Agni mengawini Dewi Svaha dengan tiga orang putranya, yaitu Pavaka, Pavamana, dan Suchi. Dalam seni arca India, Dewa Agni dipuja diberbagai candi-candi yang ada. Beliau digambarkan sebagai orang tua berbadan merah, bermata enam, bertangan tujuh, memegang sendok kecil dan sendok besar sebagai pelaksana upacara Agnihotra, mempunyai tujuh lidah, empat tanduk, tiga kaki, rambutnya dikepang, perutnya besar, dan berbusana merah. Pada kaki kiri dan kaki kanannya terdapat arca Svaha dan Svadha, mengendarai biri-biri jantan. Nama lain dari Dewa Agni adalah Vahni artinya membakar, Vitihotra artinya memberi pahala kepada penyembah, Dananjaya artinya mengalahkan musuh, Dhumaketu artinya bermahkota Asap, Chagartha artinya mengendarai kambing betina, dan Sapta Jihwa yang artinya berlidah tujuh. Berikut ini adalah mantra yang termuat dalam kitab suci weda, sering diucapkan untuk memuliakan Dewa Agni, antara lain: "Agnih purvebhri rsibhirrijyo nutairita, sa devam eha vaksati” Terjemahannya: Demikianlah Agni menjadi sasaran pemujaan para resi pada zaman dahulu dan zaman sekarang. Ia mengundang para dewa dari semua arah untuk datang pada upacara korban ini. ”Agnina rayimasnavat posameva dive-dive, yasam viravattamam”. Terjemahannya: Atas karunia Agni setiap hari, dunia kini mendapatkan kemakmuran, yang menyebabkan adanya kekuatan, jasa dan kepahlawanan yang mulia.
b. Dewa Indra
Keberadaan Dewa Indra sangat dominan dalam kitab suci Weda. Disebutkan ada 200 mantra yang mengagungkan Dewa Indra dalam Weda. Kata Indra berasal dari kata Ind dan dri yang artinya memberi makan. Menurut Niruktha kata Ind berarti penuh dengan tenaga. Indra pada mulanya adalah Dewa hujan yang bersenjatakan bajra atau petir mengalahkan raksasa Vrtra. Dewa Indra lebih dikenal sebagai Dewa Perang yang mengalahkan tiga benteng musuh, karena itu Dewa Indra disebut Tri Puramdhara (Tri Puramtaka). Dalam kitab Purana dikisahkan bahwa, beliau disebut-sebut sebagai Dewa Khayangan (sorga). Beliau merupakan saksi agung setiap perbuatan manusia, karena memiliki seribu mata (Sahasraaksa). Kendaraan Dewa Indra adalah seekor gajah Airavata dan istrinya bernama Sanchi atau Indriani. Keberadaannya banyak dikisahkan dalam kitab Itihasa dan Purana. Nama lain dari Dewa Indra adalah; Sakra (yang mulia), Divapati (Raja dari para dewa), Bajri (yang bersenjata Bajra), Meghavahana (yang berkendaraan awan), Mahendra (dewa yang agung), Svargapati (Raja Khayangan), Mahakasa (Ia yang bermata hebat), Sahasraksa (Ia yang bermata seribu). Berikut ini adalah mantra yang terdapat dalam kitab suci weda yang memuliakan Dewa Indra: