Tatanan
Pelaksanaan
Upacara
Manusa Yadnya
(
Pegedong-Gedongan sampai Pawetonan Napak Sithi )
UPACARA
MEGEDONG - GEDONGAN
A.
Smertin
upacara
Upacara ini ditujukan
kepada si bayi dalam kandungan dengan tujuan pembersihan sekaligus mohon
keselamatan jiwa raga si bayi. Upacara ini merupakan upacara pertama kali bagi
si jabang bayi ketika telah tercipta sebagai manusia.
Di dalam lontar kuno
dresti (catur warna,1989) ditegaskan bahwa upacara ini dilaksanakan setelah
umur kandungan 5 – 6 bulan kalender. Apabila umur kandungan belum mencapai 5–6
bulan tidak boleh dibuatkan upacara manusa yadnya, karena secara jasmani si
bayi belum sempurna. Dengan demikian smertinya adalah untuk membersihkan dan
memohon kepada ida Sang Hyang Widhi keselamatan jiwa dan raga si jabang bayi.
B.
Stratifikasi/tingkatan
upakara.
1.
Upakara yang kecil :
Untuk pebersihan :
beyakala dan prayascita
Untuk tataban : sesayut
pengambeyan pengambeyan. peras, penyeneng dan sesayut pemahayu tuwuh.
2.
Upakara yang lebih besar
Untuk pebersihan : beyakala, prayascita dan penglukatan.
Untuk tataban :
sama dengan di atas hanya ditambah/dilengkapi dengan banten pegedongan matah.
3.
Tata upacaranya :
Pada umumnya upacara
dilaksanakan di sebuah permandian atau bisa juga dibuatkan permandian sementara
di rumah. Diawali oleh ibu sang bayi melaksanakan biyakala dan prayascita.
Prosesi ini dilakukan di ajeng/ dihadapan “kemulan” (Rong Tiga). Piranti yang
disiapkan benang hitam satu tukel kedua ujungnya diikatkan pada cabang kayu
dapdap posisi kanan kiri, sebuah bambu runcing, daun kumbang diisi air, ikan
nyalian, udang, yuyu dan ceraken dibungkus kain putih sukla (baru).
Pelaksanaannya:
1) Kedua
cabang kayu dapdap ditancapkan mengarah pintu gerbang (angkul-angkul).
2) Ibu si
bayi mengusung ceraken, tangan kanan menjinjing daun kumbang yang berisi air
dan ikan tersebut di atas.
3) Sang suami
tangan kirinya memegang benang dan tangan kanannya memegang bambu runcing. Banten
segehan diperciki tirtha suguhan pada butha yang sifatnya selalu menggoda.
4) Selanjutnya
sambil berjalan di belakang ibu si bayi menusuk daun kumbang sampai air dan
ikannya tumpah. Sesudah itu suami dan ibu si bayi melakukan persembahyangan
dengan permohonan kepada Hyang Widhi agar saatnya melahirkan nanti memperoleh
keselamatan baik bagi si ibu bayi maupun bayi itu sendiri.
Mantram
pegedong-gedongan :
“0m sang hyang paduka ibu
pretiwi, bethari gayatri, bethari savitri, bethari suparni, bethari wastu,
betahri kedep,bethari angukuhi,bethari kundang kasih,betahri kamajaya
kamaratih,mekadi pakulun hyang widyadara widyadari, hyang kuranta kuranti
samadaya, iki tadah saji aturan manusan ira si ………ajaken sarowanganira amangan
anginum, menawi ana kirangan kaluputan ipun den agung ampuranen
manusanira,mangke ipun aminta nugraha ring sira samua aja sira angedonging,
angancinging, muwang anyengkalen, uwakakena lawangira selacakdana, uwakakena
den alon sepungana nuta anak-anak ipun denapekik dirgayusa yowana weta urip tan
ana saminaksan ipun. Om siddhi rastu swaha”.
4. Tetandingan beberapa banten:
1)
Banten pegedongan matah. Sebuah wakul/paso yang berisi beras,kelapa,
telur,benang putih,ketan, injin, pisang mentah,sudang, tingkih,pangi,
bijaratus, pelawa peselan, base tampel, dan isin daksina masing-masing satu
biji/butir.
2)
Sesayut pemahayu tuwuh.
3)
Alas kulit sesayut diatasnya diisi
penek/tumpeng kuning, ikan ayam satu ekor panggang, dilengkapi buah-buahan,
jajan, rerasmen, sampiyan nagasari dan penyeneng yang berisi tetebus benang
tridatu.
5. Brata bagi si ibu bayi:
1)
Wak capala
2)
Wak purusya
3)
Tidak menyembah mayat
4)
Tidak mendukung tirtha pengentas.
Sedangkan
suami hendaknya senantasa berusaha tidak membuat ibu sang bayi (istri) cemburu,
terkejut. Usahakanlah suasana rumah selalu damai, tenang, saling pengertian
satu sama lain sesuai ajaran agama.
A. Upacara bayi lahir.
Sesungguhnya pada
momentum ini tidak ada upacara yang luar biasa atau istimewa, karena kelahiran
bayi yang ditunggu-tunggu tentu melahirkan rasa gembira dan penuh syukur
(angayu bagia) sekeluarga trutama bagi pasangan suami istri. Upacara yang
diperlukanhanya banten “dapetan” manifestasi sebuah penjemputan (mapag sang
bayi).
1. Banten dapetan tingkatan kecil:
Nasi/ajengan muncuk
kuskusan dilengkapi buah-buahan (raka-raka), rerasmen (kacang, saur, garam, sambal
dan ikan), sampiyan jaet, dan canang sari/canang genten, serta sebuah
penyeneng. banten/upakara ini dihaturkan kepada sang dumadi.
Pada prinsipnya sama
dengan di atas hanya dilengkapi dengan jerimpen wakul (jerimpen dewa), yaitu
sebuah wakul berisi sebuah tumpeng putih lengkap dengan raka-raka, rerasmen dan
sampiyan jaet.
Upacara kelahiran
bayi ini dilanjutkan dengan tata cara menanam ari-ari sebagai berikut
(sudarsana,2010.6).
1)
Persiapannya:
a.
Air kumkuman secukupnya.
b.
Boreh gading (dibuat dari beras + bangle).
c.
Kelapa yang telah terkupas kulit
luarnya dan dibelah menjadi dua.
d.
Serabut ijuk (duk).
e.
Daun lontar panjangnya lebih kurang 10
cm dan ditulisi huruf bali/latin dengan
tulisan “ i a ka sa ma ra la wa ya ung” (aksara dasa bayu).
f.
Sebuah ngaad panjangnya lebih kurang 5
cm.
g.
Sebuah batu bulitan (batu hitam) besar
berpenampang lebih kurang 15 – 20 cm.
h.
Pohon pandan
i.
Batang pohon kantawali
j.
Sanggah tutuan beratap ijuk/kelopak bamboo
k.
Air bersih
l.
Sebuah kwangen berisi uang kepeng
bolong 11 kepeng.
2) Cara
menanam ari-ari:
1)
Pertama-tama menyalakan dupa tujuannya
mohon perlindungan dan amertha kepada sang hyang ibu pretiwi dengan mengucapkan
mantra :
“om
ang sri basunari jiwa mertha, trepti paripurna
ya
namah swaha”.
Boleh
juga dengan sesonteng, sbb:
“pukulun sang hyang ibu pretiwi, pinakengulun
aminta sih, ingsun angengkap pretiwi ngulah amendem ari-ari, tan keneng sira
kaletehan, rinaksanan denira sang hyang catur sanak, manadi pageh uripe si
jabang bayi.om siddhi rastu ya namah swaha”.
2)
Setelah mengucapkan sehat tersebut
barulah membuat lubang (bangbang), ari-ari dicuci dengan air biasa sampai
bersih, setelah itu diusapi boreh gading sampai rata, kemudian dibilas dengan
air kumkuman agar bersih. Semua air cucian tadi dibuang ke dalam bangbang
tersebut.
3)
Ari-ari dimasukkan ke dalam kelapa
yang telah dibelah tadi lalu diisi ngaad, lontar yang telah ditulisi aksara
dasa bayu dan kwangen yang berisi uang kepeng bolong 11 kepeng kemudian kelapa
dibungkus dengan serabut ijuk dibungkus kain putih dibuatkan simpul diatasnya
langsung dipasangkan lagi sebuah kwangen.
4)
Masukkan ari-ari ke dalam lubang
dengan muka kwangen ke arah halaman rumah. Ketika meletakkan ari-ari itu
disertai ucapan mantra “om presadha stiti sarira sudha ya namah”.
5)
Pakeling : tata letak menanam ari-ari
mempunyai etika yang berbeda antara bayi laki-laki dan perempuan. Jika
laki-laki ditanam dibagian kanan pintu masuk rumah dari kita menghadap ke
halaman rumah. Sedangkan bayi perempuan di bagian kirinya.
6)
Ditempat ari-ari itu di tanam di
atasnya ditanami pohon pandan dan batang kantawali, kemudian diletakkan sebuah
batu hitam/batu bulitan.
7)
Di atas batu diletakkan sebuah lampu
bali yang telah dinyalakan, kemudian ditutup dengan sangkar ayam.
8)
Di bagian hulu ari-ari ditancapkan
sebuah sanggah cucuk lengkap diisi sampiyan gantung-gantungan sebagai stana Sang
Hyang Maha Yoni.
9)
Etika selanjutna kepada ari-ari disuguhkan
segehan manca warna menjadi 5 tanding, sbb :
a.
Segehan putih satu tanding menghadap
ke timur.
b.
Segehan abang/merah satu tanding
menghadap ke daksina/selatan
c.
Segehan kuning satu tanding menghadap
ke barat/pascima.
d.
Segehan ireng/hitam satu tanding menghadap
ke utara/lor
e.
Segehan brumbun satu tanding di
tengah-tengah menghadap ke timur/wetan.
Ucapan/mantranya
:
“sa,ba,ta,a,i,
panca butha ya namah swaha. Ndah ta kita sang antapreta, metu saking wetan,
sang kala metu saking kidul, sang butha metu saking kulon, sang dengen metu
saking lor, muwah sang angga sakti metu
saking madya, mari sira mona mekabehan, ingsun paweh sira tadah saji ganjaran, pilih
kabelanira suang-suang, iki tadah sajin ira, ngeraris amuktisari, wus
amuktisari ingsun aminta kasidianta, tunggunan si jabang bayi sekala niskala. manadi
urip waras dirgayusa, ang ah mertha butha ya namah swaha (percikkan tetabuhan
berem arak).
10) Dilanjutkan
menghaturkan soda putih kuning, canang sari pada sanggah tutuan dengan
ucapan/mantra, sbb :
“om pukulun paduka sang hyang maha yoni maka
dewaning rare astana ring pelataran, penyawangan, pinakengulun sang adruwe
jabang bayi angaturaken bhakti seprakaraning penek putih kuning,meduluran
kesuma,pinakengulun aminta nugraha, kemit rare ningulun rahina kelawan wengi,
anulak sarwa ala, sakwehing joti matemahan jati, ang …ah amertha sanjiwa ya
namah swaha (lontar dharma kahuripan).”.
11) Langkah
selanjutnya menghaturkan soda pada pelinggih kemulan,dengan tujuan memohonkan
tirtha pesucian ke hadapan hyang fguru dengan ucapan/mantra.sbb:
“om guru rupam sadadnyanam, guru pantharanam
dewam, guru nama japet sadha, nasti-nasti, dine-dine, om gung guru paduka byo
namah swaha”.
Sesonteng
: “om pukulun bhatara hyang guru mami
angaturaken tadah saji pawitra, aminta nugraha bhatara tirtha penglukatan
pebersihan, nggen lumilangaken kaletehan sariran ipun si jabang bayi,
kelukat,kelebur,de paduka bhatara matemahan sarira sudha nirmala ya namah,om
sidhi rastu ya namah swaha”.
12) Lanjut
mohon tirthanya di mrajan, percikkan tirtha ke sanggah tutuan dan tempat ari-ari, banten buwu serta
dapetan. Kemudian ibu dan bayinya juga diperciki tirtha buwu dan ayabang banten
dapetan itu kepada si bayi.
13) Pada
hari-hari berikutnya lampu bali diayabkan dulu pada bayinya, baru kemudian
diletakkan di atas batu tempat ari-ari ditanam. demikian setiap hari sampai
bayi kepus puser.
B.
Smerti dan tetujon.
Seperti
diketahui dengan uraian di atas bahwa ada sarana yang dipergunakan pada upacara
saat bayi lahir, eksistensinya memiliki smerti dan tetujon, antara lain :
1. Ari – ari.
beberapa
unsur yang ada pada ari-ari sesungguhnya merupakan manifestasi dan
personifikasi dari sang “catur sanak” dari bayi itu sendiri, yaitu:
a.
Air ketuban (yeh nyom) sebagai
personifikasi saudara tertua dari sang bayi,karena dengan air ketuban itu
sebagai pengantar bayi lahir ke dunia, dan air ketuban ini disebut “sang anta
preta”.
b.
Darah yang ikut serta keluar merupakan
sumber energi sang bayi, sehingga bayi dapat bergerak dari perut ibunya sampai bisa
lahir. darah itu disebut “sang kala”.
c.
Selaput air (lamas) sebagai pembungkus
seluruh tubuh sang bayi, fungsinya sebagai penetralisir suhu udara sebelum
lahir maupun detik-detik lahir, sehingga suhunya menjadi seimbang. Selain itu
selaput air itu juga sebagai sarana pelicin agar bayi cepat lahir saat sang ibu
mangedan (nyeden). Dia disebut “Sang butha”.
d.
Ari – ari (placenta) yang turut serta
lahir setelah sang bayi. ari-ari ini sangat berperan bagi bayi sebagai sumber
kehidupannya semasih dalam garbha/kandungan sang ibu. Ari-ari merupakan
transformator dan mediator zat-zat makanan dari sang ibu kepada sang bayi guna
melangsungkan pertumbuhannya dari bentuk “kama reka” (nukleus) sampai menjadi
rare (bayi) dan sekaligus menjadi selimut sang bayi dalam kandungan atau
sebagai katalisator untuk menjadikan suhu tubuh bayi stabil terhadap suhu badan
sang ibu. jadi suhu itu sebagai pendorong perkembangan janin untuk menjadi
seorang bayi. Itulah sebabnya ari-ari dikatakan diberikan “pengempu”/pembantu
lalu diberi sebutan “sang dengen” (lontar kandapat rare).
2. Batu bulitan (batu hitam.
Smerti batu
bulitan/batu hitam sebagai permohonan kepada sang hyang widhi agar sang bayi
dianugrahi panjang umur (nutug tuwuh). Dalam “puja daha” diungkapkan sbb:
“om maya-maya, mayanira sang
hyang raditya, mayanira sang hyang wulan, mayan nira sang hyang lintang
tranggana mekadi pagehaning sang watu item, maka awetaning segara ukir, maka
lungguhira sang hyang mahameru, mangkana langgeng uripi sang rare”.
3. Pohon pandan.
Di dalam ajaran
“karma kanda” yang disebut “katuturan kanda mpat”(sudarsana,2003,17)
diungkapkan bahwa kandapat memiliki kekuatan sakti (bermutu asuri sampad) serta
dapat bermanifestasi menjadi kekuatan – kekuatan lain seperti: buwes, setan, buaya
putih, busah, kulisah, ijajil dsbnya. Secara kontekstual pohon pandan
dipersonifikasikan sebagai buaya putih sebagai penjaga bayi terhadap
gangguan-gangguan yang bersifat black magic.
4. Lampu bali.
Lampu bali yang telah
menyala sebagai lambang kekuatan sinar “sang hyang surya candra” yang mempunyai
kekuatan “widia”, maka lampu tsb harus diayabkan (ayab).
Mantra: “om ang ah surya candra gumelar ya namah swaha”.
5.
Sangkar
ayam.
Gunanya
adalah penutup lampu bali setiap hari menjelang malam sampa bayi kepus puser
(pungsed). Sangkar ayam sebagai simbul kekuatan maya Sang Hyang Widhi, juga
sebagai “cakra jala”(batas pandang alam semesta). Dikaitkan dengan sang catur
sanak bahwa ia merupakan bagian dari mayanya Sang Hyang Widhi yang merupakan
suatu unit kehidupan yang maya di dalam semesta ini sekaligus sebagai pelindung
sang bayi.
6.
Pohon
Kantawali.
Pohon kantawali
adalah nyasa/simbul kekuatan asuri sampad, karena merupakan manifesytasi sang
catur sanak yang disebut “malipa malipi”. Dia juga sebagai kekuatan pelindung
bayi, hal ini jelas tersurat dalam puja bajang colong. ketika sudah saatnya
bayi disapih (belas), maka pohon kantawali itu dipotong dan getahnya diteteskan
pada mamae/susu sang ibu.
7.
Sanggah
Tutuan.
Sanggah tutuan adalah
nyasa atau simbul nya “Sang Hyang Maha Yoni” sebagai dewa pengasuh.
8.
Banten
bhuwu.
Banten bhuwu
smertinya sebagai penyucian terhadap sang bayi dari kecuntakan (sebel kandelan)
pada tahap awal. Kata bhuwu berasal dari buawu. Suku kata bhu artinya alam, gelap,
kotor. sedangkan kata awu berasal dari kata awi yang artinya penyalin, dirubah.
Jadi kata bhuwu smerti dan tetujonnya untuk menyucikan sebel dari sang bayi dan
ibunya serta lingkungan agar menjadi suci.
9.
Banten
Dapetan.
Jika penyucian telah
selesai dilaksanakan, maka sang bayi natab banten dapetan. Smerti dan
tettujonnya adalah sebagai penyapa kehadapan roh suci yang baru reinkarnasi
menjadi bayi.
C. Upakara.
1. Untuk di pemrajan.
·
Daksina, peras, soda, ketipat kelanan
atau banten soda.
2.
Upakara ayaban untuk si bayi dan
ibunya.
§ Banten
dapetan asoroh
3.
Upakara penyucian.
·
Banten bhuwu asoroh
4.
Upakara di sanggah tutuan.
§ Soda
putih kuning adalah
§ Canang
burat wangi
§ Canang
lenga wangi
5.
Upakara di ari – ari.
§ Segehan
manca warna asoroh.
UPACARA PENELAHAN
Esensi upacara
penelahan adalah upacara penyucian khususnya bagi si bayi, disebabkan putusnya
tali placenta terpisah dari pusarnya. Dengan putusnya tali placenta ini
menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi sang bayi karena kehilangan organ
tubuhnya. Dari kata sedih ini sinonim dengan sebet dan dari kata sebet menjadi
sebel/kotor. kotor secara kontektual adalah kekotoran bathiniah. Maka dipandang
perlu dilaksanakan upacara penyucian ketika bayi telah berusia 12 hari. Di
dalam “wana parwa” (sudarsana, 2003.24) lumrah disebut ngerorasin. Dan secara
ritual bernama “namadhewa”.
Dari sudut pandang
nilai ajaran karma kanda, bahwa karena tubuh bayi telah bersih dari lapisan
selaput air (lamas) dan putusnya tali placenta berarti kekuatan asuri sampad
telah hilang. Oleh karena itulah dilaksanakan upacara penyucian baik matetujon
pisik maupun spiritual. Ida Bagus Sudarsana mengutip “manawa dharmasastra”
mengungkapkan :
“
namadheyam dacamyam tu
dwadacyam
wacya karayat
punye
ti thau muhurtee wa
nasaktra
wa gunanwite”
Maksudnya: hendaknya
orang tua melakukan upacara namadhewa pada saat umur bayi 10 – 12 hari setelah
kelahirannya.
A. Tata cara pelaksanaan upacara
penelahan.
1. Memohon tirtha penglukatan.
Menghaturkan
upakara di pemrajan smerti dan tetujon memohon tirtha penglukatan pebersihan
kepada hyang guru agar si bayi selalu mendapat kesucian.
Mantra: “om
guru rupam sadadnyanam
guru pantaranam dewam
guru nama japet sadha
nasti-nasti, dine-dine
om gung guru paduke byonamah
swaha.
Sesonteng:
pukulun paduka bhatara hyang guru
pinakengulun angaturaken seprekaraning daksina, anyenengana paduka bhatara,
ngeyoganing pinunas pinakengulun, maminta tirtha penglukatan pabersihan,
anglukat lara roga sebel kandelan sariran ipun si jabang bayi matemahan sudha
nirmala ya namah swaha.
2. Mencabut sanggah tutuan.
Sudah saatnya
mencabut sanggah tutuan diganti dengan sebuah Pelangkiran yang disebut kumara.
Sanggah tutuan dibuang ke sungai dibarengi segehan putih kuning. Ketika
penyucian bayi berlangsung tersucikan pula dewa pengasuhnya sederajat dengan
penyucian bayi sehingga “Sang Hyang Maha Yoni” bermanifestasi menjadi “sang hyang
kumara”.
Mantranya :
“om sang hyang kumaragana kumaragani, para
gandharwa, widyadara,widyadari, manusanira angaturaken tadah saji pawitra, aminta
asih, pageh denira angayomi sang rare rahina kelawan wengi menadia trepti
paripurna ya namah. Om sidhi rastu ya namah swaha”.
3. Pemujaan terhadap banten/upakara.
Yang dpuja secara
berurutan terdiri dari banten penelahan, banten penglepas hawon dan
dapetan,dllnya.
mantra penelahan :
“om ngadeg bhatara guru, anepung
tawari
Angresiki, anglengeni manusanira lumilangaken
Mala papa petaka sebel kandelan
sariran ipun
Moksah ilang matemahan sudha nirmala ya namah.
Om sryambhawantu, purnam
bhawantu,sukham
Bhawantu” (puja daha).
Mantra penglepas hawon (banten muncuk
kuskusan).
“om pukulun bhatara brahma,bhatara wisnu
Bhatara iswara, manusanira
angidep anglepas
Hawon ipun ri bhatara tiga, pukulun
anyadah
Letuh ipun anglepasaken sebel
kandelan, teka sudha lepas malan ipun. Om sidhi rastu ya namah. (puja daha).
Mantra penlepas hawon (dapetan, jerimpen
peneteg, ajuman putih kuning).
“om ang, ung, mang angadeg sang
hyang tri
Premana ri sariran sang rare
sumurp ring awak
Walunan,manerus maring
sabda,bayu,idep
Manadi pageh urip ipun. Om sidhi
rastu ya namah
Swaha.om sarira paripurna ya
namah swaha.
(puja daha).
4.
Penyucian
si ibu.
jika telah usai puja
untuk semua banten, maka diteruskan melaksanakan penyucian dengan memercikkan
tepung tawar, pengresikan, tirtha terhadap si ibu dan si bayi, serta ngayab penglepas
hawon, banten dapetan dan lain-lainnya. kemudian banten sorohan itu dihaturkan
kepada pelinggh-pelinggih dan bangunan bale, lanjut ngayab banten penglepas
hawon dan lain-lain serta dipasangkan gelang benang tri datu berisi mesui, jinah
bolong dan jangu.
B. Upakara/banten upacara penelahan.
1. Upakara di
mrajan.
a.
peras, soda, daksina, penyeneng
b.
ketipat sari akelan (6 buah).
c.
canang payasan, canang sari
2. Upakara kumara.
a.
eteh-eteh daksina (beras, porosan, pepeselan,
gegantusan benang).
b. soda
putih kuning, yuyu (kepiting).
c. canang
burat wangi, lenga wangi, canang geti-geti.
d. ketela
dan jagung mentah.
3. Upakara penyucian.
a.
banten penglepas hawon(muncuk
kuskusan, raka-raka berisi linting menyala).
b.
banten penelahan(eteh-eteh pesucian).
c.
banten sorohan (peras tulung sayut).
4. Upakara ayaban.
a.
dapetan asoroh
b.
ajuman putih kuning
c.
peras pengambean
d.
jerimpen peneteg (sebuah wakul di
dalamnya diisi sebuah tumpeng berisi telur itik matang, banten peras tulung
sayut raka-raka, beras, porosan, gegantusan, peselpeselan, tingkih, Pangi, benang,
jinah satakan, sampian nagasari.
UPACARA
PEKAMBUHAN/PECOLONGAN/42 HARI.
Upacara pekambuhan
mempunyai kaitan erat dengan upacara penelahan, karena upacara pekambuhan wajib
hukumnya sesuai dengan ajaran agama (Hindu) yang secara esensial merupakan
penyucian tahap kedua namun mengandung nilai-nilai kesucian tinggi. Mengenai
pemaknaannya mari kita bahas dari beberapa sudut pandang (perspektif),yakni:
A. Upacara pekambuhan.
Artifisial kata
pekambuhan mempunyai konotasi yang sangat luas sehubungan dengan swadharma
kelahiran sebagai manusia. Kata pekambuhan berasal dari kata “kambuh” yang
artinya telah bangkit kembali, mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” menjadilah
kata “pekambuhan” bersifat kata kerja, sehingga menjadi pengertian “menjadikan
bangkit kembali”. Dengan demikian pengertian bangkit kembali terhubung dengan
upacara ini adalah “kelahiran sang roh kembali ke dunia (reinkarnasi). Jadi
upacara pekambuhan maknanya upacara peringatan dan penyucian terhadap roh yang
reinkarnasi. Oleh karena itu yang menyandang manusia khususnya umat Hindu seyogyanya
kita harus terus berusaha meningkatkan kesucian diri selama hayat dikandung
badan,sebab tujuan akhir dari kehidupan adalah kembali ke haribaan yang maha
suci (moksartam atmanam). Mari kita simak relepansinya dengan referensi pustaka
“sila krama” sbb:
“adbhir
gatrani cudhayanti
Manah
satyena cudhyanti
Widyatapobhyam
bhrtatma
Buddhir
jnanena cudhyanti”
Maksudnya :
Tubuh
dibersihkan dengan air (tirtha)
Pikiran
dibersihkan dengan kejujuran
Jiwa
dibersihkan dengan ilmu dan tapa, serta akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.
B. Upacara bulan pitung dina = 42
hari.
Disebut upacara satu
bulan tujuh hari/bulan pitung dina mengandung makna dan tujuan sekala niskala.
Mengapa harus dilaksanakan tepat pada saat bayi berumur 42 hari? Di bawah ini kajiannya.
1. Perspektif Niskala (Spiritual).
Dasar
filosofis/tattwa dalam perhitungan angka samkhya berpijak pada angka 42 yang
dpergunakan sebagai nyasa (simbul) agama, antara lain bahwa angka 4 ditambahkan
dengan angka 2 menjadi 6. Angka 6 itu dijadikan simbul “sad ripu” atau karma wasana. Dari sini diperoleh pengertian bahwa
rokh yang masih diselimuti karma wasana, niscaya ia akan reinkarnasi. Hal
inilah disebut “samsara” sesuai
dengan ajaran panca sradha. Oleh karena itulah ketika bayi berusia 42 hari
dibuatkan upacara penyucian sebagai peringatan pada sang rokh bahwa ia telah
memasuki alam samsara selain peringatan agar ia selalu ingat akan kesucian diri
selama menapaki kehidupan ini.
2. Perspektif sekala (phisik).
Angka 42 dari
perspektif sekala merupakan kurun waktu persepsi terhadap sang ibu bayi, bahwa
di hari 42 setelah melahirkan tidak lagi mengeluarkan darah ataupun air
ketuban. Saat-saat sang ibu masih mengeluarkan darah dan air ketuban, pada saat
itu ia merasa risih menyebabkan segala tindaknya menjadi terbatas. Kemudian
dari kata risih ini menjadi kata sebet dan kata sebet menjadi sebel. Oleh
karena setelah 42 hari sang ibu merasakan dirinya telah bersih,amaka
dibuatkanlah upacara penyucian yaitu “upacara bulan pitung dina”. Jadi dengan
demikian perhitungan sebelumnya adalah 42 hari disebut “sebel kandelan” (sebel
diri). Dari saat ini sang ibu telah terbebas dari belenggu sebel kembali telah
bersih.
C. Upacara Pecolongan.
Semantik kata
pecolongan yang berasal dari kata “colong” (bahasa jawa) berarti
“maling”/pencuri, mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” bersifat verb/kata
kerja yang artinya “melakukan pencurian”. Dalam kontek spiritualitas upacara
agama kata “maling” menjadi “mala” sama dengan leteh/kotor. Selain itu jika
dikaitkan dengan ilustrasi fungsional menjadilah kata “ngemalingin
mala”/mencuri malanya atau disucikan. Maka di dalam upacara pecolongan
diperagakan dengan dua ekor ayam jantan betina dengan cara “mencuri”. Aplikasi dalam
pelaksanaan upacaranya mematukkan paruh ayam jantan ke arah ubun-ubun dan dahi
si bayi. sedangkan ayam betina dipatukkan paruhnya ke arah bahu kanan dan kiri,
punggung serta dada si bayi.
Beberapa tatanan dalam upacara
pekambuhan.
1. Upakara bajang-bajang.
1)
disiapkan sebuah periuk tanah pada
bagian bawahnya berlubang kemudian dibungkus tapis,diisi tapak dara dari kapur
sirih(pamor).di dalam periuk diisi sebuah kawu(tempurung kelapa) berisi dua
buah tumpeng wot (dedak),dilengkapi buah-buahan dialasai tamas kecil,pusuh biyu
ditancapkan uang kepeng bolong tiga buah dengan posisi segi tiga.
2)
sebuah papah bolong panjangnya satu
hasta kira-kira 40 cm dihitung dari pangkal papah, diolesi kapur sirih
berbentuk tapak dara,lalu dibungkus dengan kain putih lanjut dihias dengan
bunga-bunga yang ditusuk dengan lidi ujung papah,digantungkan tipat blayag
mentah dihiasi sampyan gantung-gantungan dan lamakkecil.
3)
upakara/banten.
·
Sebuah ceper berisi dua buah untek
lengkap dengan tetandingan (porosan, jajan, tebu, pisang) serta rerasmen kacang
saur, canang burat wangi lalu diikat menjadi satu.
·
peras tulung sayut (sorohan alit) 4
soroh dan masing-masing perasnya diisi guling katak,guling capung,guling balang
dan peras terakhir berisi guling ayam semelulung (ayam pitik).
4)
banten tegen-tegenan (tanpa ayam dan
itik).
2. Banten Jejanganan.
Tetandingan banten
jejanganan ini terdiri dari :
·
Sebuah ngiyu berisi eteh-eteh tetukon
(beras, porosan, base tampelan, benang-uang kepeng bolong 3 buah).
·
Di atasnya disusuni sebuah taledan
(kekebat) diisi perlengkapan,antara lain:
1)
Peras, soda dan daksina
2)
Suci alit asoroh
3)
Ketipat kelanan disajikannasi
kepel 6 tanding berisi tipat satu
lengkap dengan rerasmen dengan tangkih celemik.
4)
Buatkan nasi berbentuk matahari
dialasi daun muncuk pisang saba, rerasmen kacang saur,nasi berbentuk
bulan,alasnya sama,nasi berbentuk bangkal
5)
Nasi berbentuk burung, nasi berbentuk
tangkar iga (tulang belakang dan rusuk) nasi berbetnuk pelangi (seperti bentuk
jajan uli).
6)
Membuat nasi kepel 5 buah dijadikan 5
tanding masing-masing alasnya sebuah ceper. Setiap nasi kepel diisi
congger(tanda), nasi kepel pertama ditusukkan bulu ayam, yang kedua bulu
itik,yang ketiga bulu angsa,yang keempat bulu burung dan yang kelima dengan
bunga terung (bunga tuung).lalu dilengkapi dengan lauk pauk,seperti :
Ø Nasi
kepel pertama berisi siput
Ø Nasi
kepel kedua berisi terasi mentah
Ø Nasi
kepel ketiga berisi bawang jae
Ø Nasi
kepel keempat berisi kunir
Ø Nasi
kepel kelima berisi lombok dan laos.
Pada
masing-masing nasi kepel diisi padang lepas dan pelasan(bumbu mateng dibungkus
seperti brengkes) serta berisi kacang-kacangan.
7) Dilengkapi
nasi takilan sebuah,penek andong satu dengan tetandingan sebuah nasi penek gede
dialasi sebuah tamas,lalu penek itu dihias dengan kecambah yang ditusuk
sebanyak 5 tusukan selanjutnya penek itu ditancapkan kelimanya pada posisi
nyatur desa dan di tengah-tenga diisi bawang jae,garam.
8) Berisi
tumpeng gurih (tumpeng yang dicampur dengan kelapa dan kacang putih) dialasi
sebuah tamas, berisi bubur kacang dialasi sebuah takir kecil,ditambah
sayur-sayuran seperti daun delundung, bayam, daun piduh, daun kacang, buah
kacang, daun canging,daun kelor,daun bulu baon,dlsbnya.
9) Tulung
metangga tiga, berisi nasi kacang saur
10) Tulung
metangga lima, berisi nasi kacang saur,ulam ayam mepanggang,canang burat
wangi,sampian nagasari.
Pengastawa:
a)
Pengastawa upakara bajang-bajang.
“om sa ba ta a i ndah
ta kita sang korsika,sang garga, sang metri, sang pretanjala, i malipa i malipi
sira maka sedahan bajang-bajang, mekadi bapa bajang, sira bajang bukikha, bajang
kumereretan, bajang bukal, bajang toya, bajang
papah, bajang dodot, bajang sembur, bajang kebo, bajang deleg, bajang
weking, sakuwehing 108 bajang-bajang kinabehan,mari sira mona, manusanira
apaweh tadah saji ganjaran, iki tadah sajinira, ngeraris sira amukti sari, wus
amukti sari tuntunen atmaning rare, raksanen jiwa premanan sang rare rahina
kelawan wengi manadi urip waras dirgayusa ring mercapada.om sidhi rastu ya
namah swaha.
b)
Pengastawa jejanganan.
“om sa, ba, ta, a,i
ndah ta kita bapa banglong,babu benang,babu calungkup, babu gadobyah, babu
suparni, babu dukut sabumi apan sira sangkaning araning babu bajang mekabehan, manusanira
paweh tadah saji sanggraha sega liwet, jejanganan,
kacang setungkeban, iki tadah sajinira, sama suka samalolia sira,wus anadah
saji, raris sira manadi prawatek widyadara widyadari, mengeraksa jiwa premanan
sang rare rahina kelawan wengi matemahan urip waras dirgayusa,om sidhi rastu
tatastu ya namah swaha (puja daha).
c)
Pengastawa upakara pasuwugan.
“om taru lata
kebaretan keampehang dening angin pengadenganing bhatara guru anepung tawari
angelengeni, angeresiki manusanira, lumilangaken lara roga wigna geleh pata
leteh ring sarira matemahan sarira sudha nirmala manerus maring suarga
pinarisudha. om sriyam bhawantu, sukham bhawantu, purnam bhawantu.
Om awetaning raga
langgeng angapusi balung pila pilu
Angapusi otot pila
pilu, angapusi sebel kandelan rig sarira, matemahan sarira sudha nirmala ya
namah, tinunggunen dening sang hyang bayu premana, amuwuhana tuwuh ipun.om
dirgayusa aweta urip sidhi rastu tatastu astu swaha.
d)
Pengastawa semua upakara
pengulapan.
“om ngadeg sang teja
pengulapan, angawe pengulap-ulap, angulapi prewatek sarwapinuja, angulapibayu
premana sang rare mulih kejati mula, mulaning ning nirmala ya namah.
Om sang hyang sapta
petala, sang hyang panca kosika gana, sang hyang panca rupa,mekadi sang tri
premana, pageh ring sang tinamben-amben.om sidhi rastu pujaningulun.”
e) Pengastawa upakara prayascita
bayekaonan.
Mantra
Prayascita :
“om ngadeg bhatara
guru anepung tawari, angelengini, angeresiki, amrayascitaning prewatek sarwa
pinuja,lumilangaken sarwa dasa mala, papa, petaka sariran ipun”
Mantra
Lis :
“om ila-ila tan hana,
aeng-aeng tan hana, sapa-sapa tan hana
Namitaning angdakaken
lis, angunduraken sarwa sapa-sapa, aeng-aeng ri prewatek sarwa pinuja, sang, bang,
tang, ang, ing, nang, mang, sing, wang, yang, ang, ung, mang, om”
Mantra
Bayekaoan:
“om pukulun bhatara
kala,manusanira angaturaken pabayekala, katur ring sang kala pengpengan, sang
kala sliwah, sang kala pati, sang kala bumi, aja sira anyangkalen sang hyang
dewa, aluara sira ri prewatek sarwa piuja pasang sarga sira ring bhatara
siwa.ong ing namah swaha.”
Tatanan
ketika menghaturkan pabuktian kehadapan Ida Bhatara atas upakara yang
dihaturkan.
“Om Hyang angadakaken
sari
Hyang angaturaken
sari
Hyang angisepanig
sarining yadnya
Lunga sari, teka
sari………….3x.
Om buktyantu sarwa ta
dewa
Buktyantu sri loka
natha
Saganah sapari warah
Swarga sadha siwasce
Ang….ah tadah saji
dewa tarpana ya namah swaha
Ang ung mang siwa amertha ya namah swaha”
Mantra
pengambeyan :
“Om
sang hyang sapta petala,sang hyang kosika gana mekadi sang hyang tri premana
pageh ring sang tinamben-amben.”
Mantra
dapetan :
“Om atma, niratma,
suniatma amertha ya namah swaha”
Mantra
semua sesayut :
“Om atma paripurna
treptita ya namah
Om jiwita paripurna
treptita ya namah
Om sarira paripurna
treptita ya namah”.
Mantra
sarwa peras :
“Om kara muktayet
sarwa peras presida sudha nirmala ya namah swaha”
D.
Upakara Pasuwugan.
Pasuwugan berasal
dari kata “suwuk” artinya dilepas, ditarik, kemudian karena dialektika bahasa
menjadilah kata “suwug” mendapat sufik
“pe” dan akhiran “an” menjadi pasuwugan artinya penyucian jadi pasuwugan
mempunyai smerti dan tetujon menyucikan sebel kandelan si bayi dan ibunya.
E. Upacara Penyepihan.
upacara penyepihan
mempunyai tatanan upacara sekala niskala. Secara sekala melalui upacara
penyepihan ini merupakan basik pendidikan budhi pekerti bagi si bayi guna
berorientasi kepada lingkungan serta cepat beradaptasi sebagai hakekat ajaran “Tri Hita Karana”. Sebuah penelitian
tentang “natural sosio human” dapat dibedakan kondisi bayi jika diasuh/diemong
di dalam kamar dibandingkan dengan di halaman rumah, maka bayi yang diemong di
halaman rumah akan merasakan jauh lebih nyaman.
Sedangkan niskala
kata sepih berarti ambil sebagian. Jadi penyepihan mempunyai smerti dan tetujon
memohon ke hadapan Hyang Tri Murti agar si bayi dianugrahi kekuatan Tri Premana (sabda bayu idep). Ketika
tiba saatnya bisa bicara agar terealisasi maka dimohonkan anugrah kepada
bhatara brahma di dapur, demikian untuk cepat berjalan anugrah dimohonkan
kepada bhatara wisnu di sumur. sedangkan penganugrahan hyang siwa mempercepat
munculnya kecerdasan. Di samping itu upacara penyepihan juga berfungsi
penyucian dari “tri malapaksa”
prospeknya kelak si bayi mampu mengejawantahkan “Tri Kaya Pasrisudha”.
Tata
cara pelaksanaan upacara pekambuhan.
1. Penataan upakara:
1)
Upakara munggah di sanggah surya
Ø Daksina,
peras, soda, ketipat kelanan
Ø Penyeneng,
suci alit asoroh
2)
Upakara di kemulan munggah
Ø Masing-masing
rong (daksina, peras, soda, suci alit, penyeneng).
3)
Upakara di sor sanggah surya
Ø Upakara
pecolongan
4)
Upakara di sor sanggah kemulan
Ø Daksina,peras,soda,penyeneng
Ø Suci
alit asoroh
Ø Pengambeyan,
tumpeng putih, ajuman putih maulam ayam putih mepanggang.
Ø Pengulapan
Ø Ngajum
tirtha
Ø Segehan
putih 5 tanding, sorohan alit.
5)
Upakara di dapur
Ø Daksina,
peras, soda, penyeneng, suci alit
Ø Pengambeyan,
tumpeng barak, ajuman bark maulam ayam biying mepanggang
Ø Pengulapan
Ø Segehan
barak 9 tanding
Ø Ngajum
tirtha
Ø Sorohan
alit
6)
Upakara di sumur
Ø Daksina,
peras, soda, penyeneng, tipat kelanan, suci alit
Ø Pengambeyan
Ø Tumpeng
selem ajuman selem maulamayam selem mepanggang
Ø Pengulapan
Ø Segehan
selem 4 tanding
Ø Ngajum
tirtha
7)
Upakara ayabannya di piyasan.
2. Pengastawa:
1)
Mantra penyucian upakara
Om jala sidhi maha
sakti
Sarwa sidhi maha
tirtha
Siwa tirtha manggala
ya
Sarwa papa winasaya
Om sryam bhawantu, sukham
bhawantu
Purnam bhawantu”
2)
Kepada Sang Hyang Surya Raditya
“Om adtya sya
paranjotir rakta teja namastute
Swetapangkaja
madiaste, bhaskara ya namonamah swaha.om
Hrang hring sah
parama siwa ditya ya namah swaha”
Sesonteng
:
“Om nastuti paduka
sang hyang siwa raditya, sang hyang wulan lintang teranggana meraga sang hyang
trio dasa saksi, Manusanira angaturaken tadah saji pawitra, seprakaraning
daksina, saksinin manusanira sang rare amelaku, angelepas sebel Kandelan, asung
kertha nugraha bhatara manugraha tirtha penglukatan, pebersihan, matemahan
sarira sudha nirmala ya namah. om sidhi rastu ya namah swaha”.
3)
Pengastawa kehadapan sang hyang tri
murti.
Om dewa-dewa tri
dewanam
Tri murti tri
linggadmanam
Tri purusa sudha
nityam
Sarwa jagat
pratistanam
Om sidhi rastu ya
namah swaha
Sesonteng
:
Om pukulun bhatara
brahma wisnu maheswara, saksinin manusanira angaturaken tadah saji pawitra
saprekaraning daksina, maruntutan saji pekambuhan, ipun aminta nugraha tirtha penglukatan pebersihan
sariran ipun sang rare miwah babunta, mangda kelukat, kalebur matemahan ta
sarira sudha nirmala ya namah. Om sryam bhawantu, sukham bhawantu, purnam
bhawantu ya namah swaha.
4)
Pengastawa kehadapan Hyang Guru (upakara
disanggah).
Mantra:
Om guru rupam
sadadnyanam
guru pantaranam dewam
guru nama japet sadha
nasti – nasti dine –
dine
om gung guru paduka
byonamah swaha.
Sesonteng
:
om pukulun bhatara
hyang guru kemulanhyang guru reka sang hyang kawi swara, sang hyang saraswati
suksma, sang hyang surya candra lintang
teranggana, saksinin manusanira angaturaken tadah saji pawitra, ipun aminta
nugraha anglukat dasa mala, lara roga wigna danda upadrawan ipun kelukat
kelebur sahananing joti matemahan jati, atma paripurna ya namah swaha. Om sidhi
rastu tatastu astu ya namah swaha.
5)
Pengastawa kehadapan Hyang Brahma (Sang
Hyang Utasana) untuk upakara di dapur.
Mantra
:
Om ndah ta kita sang
hyang utasana sira maserira sarwa baksa, saksinin manusanira angaturaken tadah
saji pawitra, ipun angidep amelaku nugraha angeseng lara roga wigna, mala papa
patakan ipun wastu geseng manadi awu ngamolihaken sabda premana paripurna ya
namah. Ong ang gni rudra ujuala ya namah swaha.
6)
Pengastawa kehadapan Hyang Wisnu (Bhatara
Ganggapati) untuk upakara di sumur.
Mantra
:
Ong ung gangga sapta
jiwa ya namah
Ong gangga meli ya
namah
Ong ung gangga pati
maha sidhi ya namah swaha.
Sesonteng
:
Pukulun bhatari
ganggapati, saksinen manusanira angaturaken tadah saji pawitra, ipun angidep
amelaku linukatan asung kertha nugraha
bhatari nglukat ngelebur sarwa mala,papa petakan ipun, muah angaturaken
tinebasan anebasaken bayu premanan ipun, menawa ketepuk ketegah dening sarwa bhuta kala, kakerem ring
sumur agung ndaweg antukakena ring raga walunan ipun matemahan dirgayusa sudha
nirmala ya namah.
Om sryam bhawantu,
sukham bhawantu, purnam bhawantu.
v Setelah
selesai melaksanakan pebuktian kehadapan Ida Bhatara, barulah persembahyangan
bagi ibu dan bayi diawali ke dapur sembahyang kehadapan bhatara brahma, lalu
diperciki tirtha yang dipuja tadi, kemudian tirtha pengulapan, dipasangi bija,
tetebus kemudian ngayab upakaranya dan terakhir natab segehan seraya
metetabuhan arak berem.
Demikian juga
pelaksanaannya di sumur (persembahyangan kepada bhatara wisnu). Selesai di
dapur barulah dilanjutkan di mrajan kehadapan hyang guru dan leluhur untuk
mohon penyuciandan keselamatanbayi. Pelaksanaannya sama seperti di sumur
dilanjutkan dengan bayi natab banten pecolongan seraya metetabuhan di sor
surya.
v Prosesi
selanjutnya si bayi disucikan oleh sang pemuput/sang penganteb dengan tatanan
sbb:
1)
si bayi dipasangkan bija beras kuning
pada ubun-ubn,selagan lis,bahu kanan dan kiri, dada dan punggung serta pada
kedua telapak tangan.
2)
Ambilkan ayam yang jantan patukkan
paruhnya pada beras diubun-ubunnya, pada selagan alisnya, dan terakhir ayam itu
ditatabkan pada si bayi. Selanjutnya ambil ayam betina patukkan paruhnya pada
beras yang ada pada bahu kanan dan kiri, dada dan punggungnya serta kedua
telapak tangan, lalu tatabkan/ayabang.
3)
Sang pemuput/penganteb mengambil
kuskusan yang berisi beberapa duri kemudian dilukat dengan tirtha (di bale
agung) sampai bersih bija-bija yang ada pada tubuh sang bayi.
usai melukat barulah dperciki tirtha di
pemrajan dan terakhir tirtha di sanggah surya. Selanjutnya kembali dipasangkan
bija, benang tetebus,karawista dan benang tridatu sebagai gelang pada waktu
upacara penelahan dipotong diganti dengan gelang benag selem/hitam.
Tatanan
yang paling terakhir natab ayaban dan saat itu si bayidiberikan makan pisang
udang saba tapi dilumatkan dulu dengan carang dapdap di atas sebuah kawu.
F. Upacara Tiga Bulan (Penyambutan).
1. Memaknai jumlah hari 105 (6
bulan).
Jumlah 105 hari
dijumlahkan dan dibulatkan seperti 1 + 0 + 5 = 6 (adalah angka samkya) bermakna
nyasa/simbul “sad ripu”. Dengan
demikian perhitungan ini melahirkan sebuah kepercayaan bahwa setiap kelahiran
manusia secara sekala diikuti oleh sifat-sifat sad ripu inklusif bagi bayi, oleh
karena itulah pada hari penyambutannya dilaksanakan upacara penetralisir
sifat-sifat sad ripu dimaksud.
2. Tinjauan dari sudut kata
penyambutan.
Secara leksikal kata
penyambutan berasal dari kata “sambut” artinya “dijemput”. Pengertian dijemput
disini adalah memohon kehadapan ida sang
hyang widhi agar semua bentuk kekuatan yang reinkarnasi seperti kekuatan
pancamaha bhuta dalam bentuk “stula sarira”,kekuatan purusa berntuk “anta
karana sarira (badan jiwa) kekuatan percikan sang hyang widhi yang membentuk badan “suksma sarira” atau badan atma agar
dianugrahkan ketiga badan tersebut dalam standar normal (tidak cacat), mengapa?
Karena ketiga badan itulah akan bermanifestasi menjadi kekuatan “tri premana”
(sabda bayu idep).alasan inilah kemudian menjadi titik tolak untuk terbentuknya anak yang
“suputra”.karma wasan positif
dari anak suputra kelak akan dapat melebur dosa-dosa sepuluh tingkat
keturunannya dan dia sendiri termasuk yang ke duapuluh satu (veda smrti, 37 hal. 143).
PERSIAPAN
UPACARA PENYAMBUTAN :
(TIGA
BULAN).
1. Upakaranya.
a.
Upakara di kemulan.
v 1.pejati,suci
asoroh (setiap rong)
v 2.canang
burat wangi lenga wangi
b.
Upakara di sanggah surya (jika dipuput
sulinggih)
v Daksina
gede sarwa
v Peras,soda,suci
v Banten
ardhanareswari (dewa dewi)
c.
Upakara tetamanan
v Pejati
asoroh
v Banten
taman
v Banten
pengulapan
v Banten
peras pengambean
d.
upakara di kumara
v Pejati,
suci asoroh
v Ketipat
lepet akelan meulam taluh ayam lebeng abungkul
v Canang
burat wangi,lenga wangi
v Canang
geti-geti
e.
Upakara di ayunannya.
v Pejati,suci
asoroh
v Pengulapan
v Ayaban
peras pengambean
f. Upakara pemetikan (jika dipuput sulinggih)
v 1.daksina
gede sarwa 4, peras, soda, suci
v 2.soroan
banten among,rayunan among, meulam guling jambot
v Soroan
banten jejanganan
v Banten
parurubayan antara lain :
§ Sebuah
dulang sebagai alasnya, dengan banten tumpeng putih kuning, lengkap dengan
jajan buah-buahan,meulam ayam putih siungan mepanggang.
§ dua
buah wakul masing-masing wakul berisi Tumpeng abungkul lengkap berisi
jajan,buah-buahan meulam ayam putih mulus mepanggang untuk satu wakul, sedangkan
wakul satunya lagi ulam ayam putih siungan mepanggang.banten ini dilengkapai
dengan sebuah pejati,suci asoroh.
g. Upakara
ayabannya (jika dipuput sulinggih).
v Daksina
gede sarwa
v Peras,soda,suci
v Banten
bebangkit,pulagembal ulam guling bawi
v Banten
ayaban tumpeng 33 bungkul,pedudusan alit
v Sesayut
sidapurna
v Sesayut
pebersihan
v Sesayut
atma rauh
v Sesayut
pageh urip
v Sesayut
prayascita
v Banten
penyambutan
v Banten
penglepas aon
v Dua
buah banten jerimpen agung
2. Tata cara pelaksanaan upacara penyambutan (tiga
bulan).
Tata cara pelaksanaan
upacara tiga bulan memiliki beberapa tatanan (pengastawa/penganteb),sbb:
1)
Penyucian upakara, mantranya lihat di
depan.
2)
Pengastawa-pengastawa
v ke
hadapan Sang Hyang Surya Raditya (lihat depan)
v Kehadapan
bhatara guru (lihat depan)
3)
Upakara tetamanan.
Tattwa
upakara tetamanan.
Upakara
tetamanan merupakan perwujudan dari pura taman sebagai stananya “Hyang Dewi Gangga” dan pura telaga waja
sebagai stananya “Bhatara Bayu” dengan demikian penataan upakaranya adalah :
v Parikrama
diawali di natar mrajan diletakkan sebuah lesung, dihias dengan kain wali atau kain poleng ditempelkan sebuah
satsat. Diatas lesung ditaruh sebuah pane/paso sudah diisi air, perhiasan
seperti kalung, cincin emas, pupuk, anting. Ditengah pane diletakkan sebuah
dulang dan di atas dulang diletakkan serangkaian upakara yakni pejati, suci dan
banten taman. Dan di dalam banten itu ditaruh sebuah payuk pere berisi air
dengan sarana bunga pelung.berdasarkan tatanan tsb diperoleh smertinya bahwa
lesung dan pane berisi air hanya ikannya diganti perhiasan merupakan
nyasa/simbul telaga waja, sedangkan dulang dan upakaranya sebagai stananya “Hyang
Dewi Gangga dan Bhatara Bayu”.
v Di
samping lesung pada bagian bawahnya diletakkan banten pengulapan,dan ayaban
peras pengambean dan tongkat bungbungnya disandarkan pada pane.
Pelaksanaannya
:
Sang
pemuput/penganteb ngastawa ke hadapan bhatara bayu dan hyang dewi gangga sbb:
“Ong, mang pawana
dipati ya namah swaha
Ong bayu bajra ya
namah swaha
Ong, ang, ang catur
gangga maha pawitra yanamah swaha”
Sesonteng:
pukulun paduka
bhatara bayu,bhatari gangga,meraga sang hyang catur gangga,saksinin manusanira
angaturaken tadah saji pawitra seprakaraning daksina,suci,canang asebit sari, muah
angaturaken pesucian,angadeg bhatara bhatari presama, alelenga, areresiki, acemana,
ong gangga paripurna ya namah swaha. Wus bhatara asesucen asung nugraha
anyumput sari, angayab sarining yadnya, amaweh nugraha ring manusanira sang
rare, apan ipun amelaku yadnya, aminta penglukatan pebersihan tri premanan
ipun, menadi seregep paripurna waras dirgayusa.ong sidhirastu ya namah swaha.
v Pengastawa/penganteb
upakara pada ayunan.
Perlu diketahui sebelumnya bahwa
uparengga sebuah ayunan merupakan nyasa/simbul “Sang Hyang Ayu”,maksudnya
adalah “rahayu”/keindahan bathiniah dan sebagai dewa keindahan adalah “Sang Hyang Ratih”.oleh karena itu
tetujonnya adalah mohon kepada sang hyang widhi agar diangugrahkan kekuatan nur
welas asihnya kepada bayi yang diupacarai.sehingga si bayi memperoleh
ketenangan, sehat dalam perkembangannya baik phisik maupun emosinya. Kita tentu
masih ingat bahwa pada masa lampau seberapun teriak dan tangisan bayi, namun
ketika diayun-ayunkan di ayunan serta merta dia akan tidur pulas. Masa kini
budaya ini telah terkikis habis dicaplok globalisasi. Terkait dengan upacara
tiga bulan patut masih dilestarikan meskipun umat kini tidak lagi menggunakan
ayunan menina bobokkan si bayi.
Mantra
ayunan :
Ong ang ratih dampati
ya namah swaha
Ayu listuayu ya namah
swaha (puja daha).
Sesonteng:
pukulun paduka sang
hyang ratih,meraga sang hyang ayu, manusanira angatraken tadah saji pawitra, seprakaraning
daksina, suci, anyenengana bhatari ratih, angadeg, asesucen, angeraris anyumput
sari, angayapaning sarining yadnya. Asung kertha nugraha bhatari amaweh
kerahayuan ring sang rare, alungguha sira ring hyun, matemahan trepti paripurna
kang rare.
Ong sidhi rastu ya
namah swaha.
v Pengastawan
upakara pada kumara.
Kumara merupakan nyasa kekuatan sang
hyang widhi yang dipersonifikasikan berupa upakara kumara sebagai kekuatan”dewa
pengasuh bayi” yang disebut “sang hyang kumara” (pustaka sapu leger). Tetujonnya
mohon kepada sang hyang kumara agar beliau berkenan memberikan tuntunan dan
pengajaran kepada sibayi.harapannya pada saatnya bayi berjalan bisa cepat
berjalan, jika satnya bicara tiba mak bisa cepat berjalan,demikian juga saat
bicara tiba juga cepat mampu berbicara.
Mantranya
:
ang,
ung, mang, sang hyang kumaragana-kumaragani
Maha
sidhi ya namag swaha.
Sesonteng
:
pukulun paduka sang
hyang kumaragana-kumaragani,maka dewaning rare,saksinin manusanira angaturaken
tadah saji pawitra seprakaraning saji kumara, asung kertha nugraha sira
asesucen, areresiki, acemana, wus acemana angeraris paduka anyumput sari
angayap sarining yadnya.manusanira mamuita seregep sapreyanan ipun,matemahan
pageh kewidnyanan ipun sang rare.ong sidhi rastu ya namah swaha.
Nganteb
/ ngastawa upakara ayaban.
pengastawan ini adalah tahap terakhir
setelah upakara-upakara sebelumnya diastawayang /dianteb. Tatanannya adalah
sbb:
1)
Banten Penyeneng.
ong pengadeganing
sang hyang janur puti, siwa rininggiting guru, tinutus dening prewateking
dewata kabeh, kajenenganing prewatek sarwa pinuja, lumilangaken sarwa dasa mala
sariran ipun. Ong sri guru sidhirastu ya namah swaha.
2)
Banten Jejanganan.
ong sira babu bangle,
babu calungkup,babu gadobyah, babu suparmi, babu dukut sabumi, maka sakwehing
babu bajangan, iki tadah sajinira sekul liwet satungkub, jejanganan
satungkeb,ngeraris sira amuktya sari, wus sira amuktya sari, aja sira
anyengkalen sang rare, paweha urip waras dirgayusa ring mercapada.
Ong sidhi rastu ya
namah swaha.
3)
Banten pemetikan.
Ong, kaki among nini
among.sira angamongin atma jiwataning sang rare. Ih kita kaki petik nini petik,
pukulun bhagawan citra gotra citra gotri, sira sang bhuta dengen, sang danawa
danawi, raksasa raksasi, sang hyang mahayoni, bhetari durga,saksinin manusanira
sareng makabehan, ipun angaturaken seprakaraning saji pemetikan, saruntutan
saji among, iki tadah sajinira, pilihan kabelanira suang-suang,angraris sira
amuktya sari, sama suka sama lolia ta sira mekabehan, wus sira amukti sari
ulihakena bayu premanan sang rare,aja sira angadakaken drewala drewali, sebel
kandelan, aja sira angadakaken lara roga kegeringan ring sang rare apan ipun
wus tinajen sajen, aluara sira,sumurup sira menadi prewatek dewa dewi, apan
mangke manusanira amelaku pemetikan,matemahan sarira sudha nirmala. Ong sudha,
sudha wariastu ya namah swaha.
4)
Banten penglepas aon.
Kata “aon” bukan berarti “abu” atau
memang berasal dari kata “aon”, tetapi sesungguhnya berasal dari kata “aum” sehingga
menjadi ucapan aksara suci “om” yang artinya kekuatan gninya Sang Hyang Siwa untuk ngeseng kekotoram
rokhaniah sang bayi yang dibawa sejak lahir. Tetujon penglepas aon adalah
memohon kepada Sang Hyang Siwa agar beliau menganugrahkan geni pengesengan
segala kekotoran yang dibawa lahir sang bayi ke dunia ini.
mantranya:
ong, gni
ngabiar-abiar, gninira bhatara siwa,sekalangan urubira, menadi gni
pengesengan,angeseng lara, roga, geleh pateleteh, sebel kandelan sang rare, matemahan
sarira sudha nirmala ya namah swaha. Ong sidhi rastu tatastu astu ya namah
swaha.
5)
Banten penyambutan.
sesonteng:
Ong, pukulun kaki
sambut, nini sambut, tan edanan sambut agung, sambut alit,yan lunga mangetan, mangidul,
mangulon, mangalor, muah maring madya atman jiwitan ipun si jabang bayi, tinututaning
dening prewatek dewata kabeh, tinayunganing kala cakra, pinageraning
wesi,sambutakna atma muah bayu premanan ipun si jabang bayi maka satus ulu
likur, ulihakna maring awak swaragan ipun suang-suang, alungguha ring sabda, bayu,
idep ipun matemahan waras dirgayusa ring mercapada.
Ong sidhirastu ya namah
swaha.
6)
Pengastawa pada simbul catur sanak si
bayi.
v Sebutir
telur itik terbungkus kain putih sebagai simbul
v Sang
anta preta (yeh nyom).
v Sebuah
jantung pisang kayu bertuliskan aksara suci,dibungkus kain merah sebagai simbul
“sang kala”(darah).
v Sebuah
blego atau timun bertuliskan aksara suci diberi kain warna kuning sebagai
simbul “sang butha”(lamas).
v Sebuah
batu bulitan bertuliskan aksara suci diberi kain warna hitam sebagai simbul
“sang dengen”(ari-ari).
Semua simbul tersebut diletakkan pada
satu wadah dan diisi canang 4 tanding dengan posisi tempatnya dalam sebuah
bokoran, sbb:
v Telur
di arah timur
v Jantung
pisang di selatan
v Blego/timun
di arah barat
v Batu
bulitan di arah utara
Pengastawanya.
Mantranya
:
i, ba, sa, ta, a,
sa, ba, ta,a,i sarwa
bhuta ya namah swaha ih,kita sang anta preta,mijil sira saking wetan,mari sira
mona,antiga tapakan sira, kita sang kala mijil sakeng kidul,pusuh tapakan sira,
kita sang bhuta,mijil sira sakeng kulon blego tapakan sira,sang dengen mijil
sira sakeng lor watu tapakan sira,mari sira presama matunggalan lawan sanak ta
i lega prana peparenga sira asuci laksana, adyus, akejamas, areresiki, acemana,
akekambpuh. Ong gangga parisudha ya namah swaha.
7)
Banten pengulapan.
Mantra:
ong ngadeg sang hyang
teja pengulapan,angadakaken bayu keduk timbul bujana kulit, angulapi prewatek
sarwa pinuja, angulapi bayu premana sang rare,genep ring swaragan ipun
suang-suang,teka ulap pada ulap. Sang hyang sapta petala, mekadi sang hyang tri
premana pageh ring sang tinulap-ulap. Ong sidhi rastu ya namah swaha.
8)
Ngastawa/nganteb banten
prayascita(lihat sebelumnya).
9)
Ngastawa/nganteb banten
pabayekaon(lihat sebelumnya)
10) Mantra
pebuktyan:
Ong bhuktyantu sarwa ta dewa,
Bhuktyantu sri loka natha seganah
separiwarah swarga sadha siwasce ang ah amertha sanjiwa ya namah swaha. Ang ung
mang siwa amertha ya namah swaha.
Mantram peras
pengambean.
Ong sang hyang sapta
petala, sang hyang panca kosika gana,mekadi sang hyang tri premana pageh ri sang
tinamben-amben. Ongkara muktayet sarwa peras, presida sudha ya namah
swaha. Ang ung mang sarwa dewa angisep
sarining yadnya ya namah.
Mantra seluruh Banten
Ayaban.
ong, paripurna ya
namah,jiwita paripurna ya namah,sarira paripurna ya namah swaha. Ong nirlara, niroga,
nirwigna ya namah swaha.
11) Setelah
puja ayaban selesai di lanjutkan dengan puja pengaksama dengan mantra sbb:
om ksama swamam maha
dewah, sarwa prani hitangkarah…………………………………selesaikan mantra gayatri (bait
keenam sampai om shanti 3x om.
12) Bagi
si bayi dilaksanakan tata ethikanya sebagai berikut :
1.
Pertama-tama si bayi diajak
mengelilingi upakara tetamanan, dengan aturan sang ayah memegang tongkat, ibu
si bayi membawa simbul catur sanak dan si bayi dibopong/digendong oleh salah
seorang anggota keluarga lain. Mengelilingi tetamanan purwa daksina sebanyak
tiga kali, sambil mengusap air dalam pane diusapkan ke si bayi demikian juga
terhadap simbul catur sanaknya.usai purwa daksina si ibu menukar simbul catur
sanak dengan bayinya sambil mengucapkan “niki pianak tiange tusing pianak
pusuh,nanging pianak tiange wantah panak manusa”,lalu dipangku ibunya sambil
tangan si bayi dimasukkan ke dalam pane (megogo-gogoan) sampai dapat mengambil
semua perhiasan yang ada di dalam pane tersebut,langsung dipakaikan.
Selanjutnya si bayi diperciki tirtha pengulapan, lalu tirtha di banten
taman,terakhir ayabin si bayi dengan banten pengulapan dan banten peras
pengambean.
13) Lanjutan
dari upakara tetamanan melaksanakan persembahyangan.
14) Diteruskan
dengan pemetikan dengan tatanan sebagai berikut:
Sang pemuput mengambil cincin emas
bermata mirah, lalu ucapkan mantra:
Om, eng tejo
sakalpanam suci, tri maha sidhi papa klesa winasa syat, tatkara mantra utaman.
Mengambil
5 buah seet mingmang, dengan mantra:
Om, kusa sri kusa
widyanam, pawitram
Papanasanam, papa
klesa winasa syat mangkara mantra utamam.
Mengambil
bunga tunjung putih, mantra:
Om, ing, siwa nirmala
angelebur geleh pata leteh
Sebel kandel ring
sarira,sudha ya namah swaha.
Sang
pemuput memotong ujung rambut bayi yang Berada di depan, pada tangan
kirinya memegang Seet mingmang, cincin dan bunga tunjung, sedang Tangan
kanannya memegang gunting dan Memotong sarana itu terlebih dahulu sebanyak Tiga
kali, barulah memotong ujung rambut si bayi
Dengan
mantra:
Om sang sadya ya
namah,
Hilanganing papa
klesa petaka
Kemudian
memotong rambut disebelah kanan
Kepalanya,
dengan mantra:
Om bang bhama dewa ya
namah
Hilanganing lara roga
wigna
Memotong
rambut di belakang kepalanya, dengan mantra :
Om, tang tat purusa
ya namah
Hilanganing sarwa
gegodan
Sakwehing satru musuh
Memotong
rambut di sebelah kiri kepalanya,dengan mantra :
Om, ang agore ya
namah
Hilanganing sarwa
gering sasab merana
Memotong
paling akhir rambut di ubun-ubun dengan mantra:
Om, ing isana yanamah
Hilanganing sebel
kandelan
Sang pitentik.
15) Potongan
rambutnya dimasukkan ke dalam sebuah kulit blayag serta diisi sebuah kwangen
dan potongan-potongan rambutnya di tanam di belakang pelinggih kemulan.
16) Sang
pemuput mengambil kuskusan dan tirtha untuk penglukatan si bayi, sesudah itu
percikkan tirtha pemetikan yang ada pada banten amongnya, lalu tirtha
bayekaonan, prayascita, pengulapan dan terakhir tirtha kekuluh di pemrajan, tirtha
di surya, tirtha penyambutannya, Tirtha di kumara, dan terakhir tirta di ayunan.
Selanjutnya dipasangkan sesedep (beras bija, benang tetebus) serta mekarawista.
17) Memotong
gelang benang hitam diganti dengan benang putih atau gelang selaka atau gelang
emas serta memasang sebuah pupuk di ubun-ubunnya.
18) Kemudian
memberikan bayi makan tipat dicampur minyak kelapa dan garam secara simbolis
untuk mengajarkan bayi tentang “sad rasa”. Maknanya kelaksetelah dewasa mampu
menyiapkan diri untuk menghadapi pahit getirnya kehidupan.
19) Acara
yang paling terakhir adalah natab semua banten ayaban,dengan selesainya natab
banten ayaban ini maka selesailah pula pelaksanaan upacara tiga bulan.
MEMAKNAI
SIMBUL- SIMBUL DALAM UPACARA TIGA BULAN
(
PENYAMBUTAN ).
A.
Banten Penglepas Aon.
1.
Sebuah pane/pasoberisi ujung pelepah
daun pisang kayu.
2.
Di atas daun itu diisi nasi muncuk
kuskusan,ulam ayam biying mepanggang
3.
Berisi woh-wohan
4.
Tiga buah linting
maknanya:
Ø Unsur
daun pisang maksudnya “aspi” (sunya) dan kata “sang”menjadi “sang amolahaken”
yang artinya karma,dan kata kayu
menjadi kayun.
Ø nasi
muncuk kukusan bentuknya seperti gunung,dan gunung adalah simbul “lingga”, sedangkan
lingga merupakan kekuatan hyang siwa.
Nyala linting berjumlah tiga merupakan simbul kekuatan agni dari sang hyang tri
murti (ang ung mang),jika kekuatan itu menyatu akan menjadi kekuatan siwa(om),sehingga
banten penglepas aon sesungguhnya adalah penglepas om.dengan apabila semua simbul tsb disatukan terbentuklah
bahasa isyarat sebagai wujud bahasa weda, yakni:
“bahwa
pengleburan dosa yang reinkarmasi (numitis) menjadi bayi adalah tetap dari
hasil karmanya dan hal itulah yang dimohonkan kehadapan hyang siwa oleh
keluarganya karena si bayi belum bisa berkarma pada kehidupan sekarang”.
Ø Sebuah
lesung batu
maknanya
dilihat dari bentuknya bundar dan ditengahnya berisi lubang secara keseluruhan bentuknya
menjadi simbul “windu sunya” atau “sunya
amertha”.sedangkan kata batu mengalami perubahan sandi dan kena pengaruh suara
pbw sehingga menjadi kata “watu” yang artinya “lahir” di atas lesung ada air
berisi perhiasan.jika semua simbul tsb disatukan
maka
diperoleh makna :
bahwa
manusia dilahirkan berasal dari air yang mengandung unsur panca maha butha(pane
sebagai wadahnya), unsure jiwatma (cincin emas simbul jiwa dan permata mirah
simbul atma) semua unsure tsb datangnya dari alam sunya.oleh karena itu melalui
pembuatan upakara tetamanan memohon ke hadapan hyang widhi agar dianugrahkan
kesucian,keteguhan iman,serta kedirgayusan agar nantinya mendapat kesempatan
berkarma yang baik karena manusia lahir dari hyang maha suci, dan selama hidup
di dunia selalu meningkatkan kesucian diri,karena nantinya akan pulang kembali
ke maha suci.
Ø Sebuah
tongkat bungbungan.
Tongkat dibuat dari bamboo gading yang
memiliki tiga
Ruas,dan di dalam bamboo diisi uang
kepeng bolong
Sejumlah 250 kepeng dan ujung bagian
atasnya dihiasi
Bunyi-bunyian (gongseng). Jadi tongkat
itu bermakna:
a.
Bambu gading simbul “urung-urung
gading”,
yang
maksudnya adalah intuisi (spiritual).
b.
Uang kepeng 250,jika dijumlahkan
menjadi
angka 7 (angka samkya) sebagai simbul “sapta sunya”.
c.
Gongseng simbul “dasendrya”
d. Tongkat
dipegang oleh orang tua si bayi bukan orang lain.
jika
kemudian simbul-simbul itu disatukan akan mengandung makna, bahwa orang tua si
bayilah yang harus memberikan tuntunan dan tauladan ke pada anaknya, agar kelak
setelah menginjak dewasa selalu berpegangan atas kebenaran (bambunya) serta
mampu mengendalikan dasendriyanya sehingga tercapai keseimbangan antara
kebutuhan jasmaninya(gongseng) dengan kebutuhan rokhaninya (angka 7 sebagai
simbul sapta sunya) dan terakhir akan tercapainya “moksartham jagadhita ya ca
iti dharma” dan “moksartham atmanam”.hal ini sebagaimana diungkapkan di dalam
bhagawdgita 27,hal.70 :
“garbhairhomaairjatakarma
caudamaunyini
bhandanah
baijikamgarbhikam
caime
dwijanamapamrjyate”
Maksudnya : dengan upacara membakar bau-bauan harum pada
waktu sang ibu hamil dengan upacara “jatakarama” (bayi baru lahir), upacra
“cauda” (upacara gunting rambut pertama), dan upacara “maunji bandhana”(upacara
memberikan kalung,gelang) maka kekotoran yang didapat dari orang tua akan
hilang daritri malanya.
menyimak
isi sloka di atas jelaslah ,bahwa kelahiran manusia ke dunia adalah memiliki
kewajiban diri pribadi,yakni mempertahankan dan meningkatkan kesucian
diri,karena segala ciptaan hyang widhi
bersumber dari hyang maha suci dan kembalinyapun kepada hyang maha suci.
dengan
demikian pelaksanaan upacara tiga bulan dan upacara pemetikan
Patut dilaksanakan baik dalam kualitas
utama,madya maupun nista sesuai kemampuan masing-masing.
dalam
konteks ini sri mpu berharap mari kita laksanakan kembali budaya hindu yang
tercermin dari nilai-nilai luhur ajaran agama (sastra dresta),dan yang telah
hilang dari pelaksanaan upacara-upacara agama di daerah-daerah dan desa (desa
deresta) maupun di suatu tempat (loka deresta).
terkait
denfgan hal di atas ini pengertian ‘deresta’ adalah segala aturan-aturan atau
dharma negara dan dharma agama yang disepakati oleh masyarakat pada daerah
tertentu,serta telah dilaksanakan sejak dahulu hingga sekarang yang mempunyai
sifat sangat luwes senantiasa berdasarkan pancaran ajaran weda sehingga tetap
memiliki kualitas kebenaran.(sudarsana,2003.92).
Upacara
pawetonan dan
Upacara turun ketanah
(
napak siti ).
Sebagai kelanjutan dari upacara tiga
bulan/penyambutan adalah upacara pawetonan dan upacara turun ke tanah (napak
siti). Pelaksanaan upacara ini ketika si bayi tepat berusia 210 hari. Mengapa
setelah umur tsb, tentu memiliki argumentasi,antara lain :
A.tinjauan darti sudut niskala.
secara
duniawi seorang bayi baru boleh diturunkan ketanah setelah memasuki usia enam
bulan,karena sebelum usia 6 bulan sang bayi belum dianggap penuh waktunya
beradaptasi dengan alamnya,sehingga belum juga secara penuh mendapat kekebalan
tubuh (pembentukan anti bodinya),khusus terhadap penyakit “polio”,maka ketika
bayi memasuki usia 6 bulan itulah diprediksi telah memiliki kekebalan tubuh
terhadap kekuatan alam. Alas an lainnya bahwa sebelum usia 6 bulan si bayi
masih dalam kondisi labil,maka tidak mungkin bayi belajar didudukkan dan jika
dipaksakan akibatnya akan sangat mengganggu pertumbuhan
tulangnya.kontektualisasi pada momen ini ajaran nilai-nilai agama relevan
dengan ilmu pengetahuan duniawi,khususnya ilmu pengetahuan kedokteran dan ilmu
pengetahuan psikologi.
B.tinjauan sudut filsafat agama.
disimak
dari angka 210 hari,merupakan petunjuk angka samkya sebagai landasan
tattwa,yaitu : dengan menjumlahkan angka itu diperoleh angka 3 dan angka ini
merupakan simbul,bahwa mulai aktifnya “tri premana” (sabda,bayu,idep) si bayi terhadap
stimulus/rangsangan dari luar,sehingga dalam keadaan demikian dimohonkan
penyucian kepada ida sang hyang widhi melalui koridor upacara pawetonan dan
napak siti.
dari
sudut kata enam bulan,akan mendapat angka samkya “6” mengandung makna simbul
“sad ripu”.sifat-sifat sad ripu yang dibawa bayi ket8ka lahir,maka pada usia 6
bulan dibuatkanlah upacara pawetonan dan napak siti (siti artinya
“pertiwi”/tanah).
beberapa
persiapan yang diperlukan dalam upacara pawetonan adalah sbb:
1.
Upakaranya.
a.
Upakara munggah di kemulan.
·
Pejati, suci asoroh
·
Canang pesucian
b.
Upakara di sanggah surya (dipuput
sulinggih).
·
Daaksina gede sarwa 4,peras,soda,suci
·
Banten ardhanareswari
·
Canang pesucian
c.
Upakara di pertiwi.
·
Pejati, suci asoroh
·
Banten peras pengambean
·
Banten pengulapan
·
Banten dedanganan antara lain :
I
tetandingan jaja geti-geti, gula kelapa
Ii
who-wohan (memanisan)
·
Sarana yang diperlukan,antara lain:
I.sebuah
pane berisi air dan berisi yuyu,ikan nyalian dan udang.
d. Upakara ayaban
·
Daksina gede sarwa 4,peras,soda,suci
·
Ayaban tumpeng 33 bungkul
·
Banten pulogembal
·
Banten soroan bebangkit
·
Pengulapan
·
Prayascita, bayekaonan
·
Segehan manca warna.
2.
Tata cara melaksanakan upacara pawetonan dan napak siti.
a).
Pertama-tama sang pemuput membuat rerajahan berupa “bedawang gni” di hadapan
pelinggih kemulan,lanjut mengucapkan mantra ditujukan kepada sang hyang ibu
pretiwi :
ong,pertiwi
sariram dewi
catur
warna maha dewi
catur
asrama bhatari
siwa
bumi maha sakti
ong,
ang,sribasundari jiwa amertha ya namah swaha.
sesonteng
:
pukulun
bhatari ibu pertiwi,saksinin manusanira angaturaken tadah saji pawitra,
seprekaraning daksina suci,anyenengana
paduka bhatari,manusanira aminta nugraha,ipun angidep anuruni rare
amelaku napaksiti, asungakna de paduka bhatari angyomi,amaweh kamerthan ring
sang rare, mangda tan keneng cakra bawa, tulah pamidi manadi ipun sang rare
ngemangguhin uriip waras dirgayusa ring mercapada.ong sidhi rastu pujaningulun.
lalu
percikkan tirtha pebersihan,pengulapan pada rerajahan tadi kemudian ayabang
banten peras pengambeannya.
b).
Selanjutnya bayi dibopong serta injakkan kakinya pada rerajahan sebanyak 3 kali
seraya mengucapkan mantra “ ang ah,”
sebanyak 3 kali juga. Sesudah itu si bayi agar dipangku oleh seorang anak yang
belum tanggal gigi (belum meketus),tangan bayi diambil dimasukkan ke dalam air
di pane (megogo-gogoan) sambil tutup bayi dengan sangkar ayam.
c).
Selanjutnya bayi natab banten peras pengabean dan pengulapan dilanjutkan dengan
upacara medagang-dagangan. Saat itu sanak keluarga dan yang hadir saat itu
bersama-sama berbelanja menggunakan uang biasa.
d).
Pemuput upacara barulah mulai ngastawang upacara dengan tatanan sebagai berikut :
·
Menyucikan diri.
·
Membersihkan upakara dengan tirtha
pebersihan,dengan mantra (lihat di depan).
·
Pengastawa ke sang hyang surya raditya
(sama lihat di depan).
·
Bhatara hyang guru,mantra sudah ada di
depan,dibawah ini kiranya perlu sesontengnya, sebagai berikut :
“pukulun
paduka bhatara hyang guru, hyang kawitan, hyang kamimitan,saksinin manusanira
angaturaken tadah saji pawitra,seprakaraning daksina,penek alit, canang asebit
sari,mangke manusanira aminta nugraha,anyenengana de paduka bhatara,sang rare
amelaku pawetonan,miwah upacaraning anapak siti mangda
ipun tan keneng kecampahan, cakra bawa, asung nubraha bhatara anugraha tirtha
penglukatan,pebersihan,mangda kelukat de paduka bhatara matemahan sarira sudha
nirmala,anampeni waras dirgayusa.ong
sriyambhawantu,sukhambhawantu,purnambhawantu.”.
·
Ke hadapan dewan pawetonan.
mengenai
dewan pawetonan diungkapkan di dalam lontar/sastra agama (lontar uda yadnya),
bahwa setiap kelahiran manusia ke dunia memiliki hari kelahiran sendiri,dan
dari hari kelahiran itulah merupakan manifestasi dari dewa kelahirannya,yaitu :
o
Lahir pada hari minggu,dewanya sang
hyang iswara.
o
Pengastawanya : ong,sang iswara
dipataye namah swaha.
o
Lahir hari senin,dewanya sang hyang
wisnu.
o
Pengastawanya : ong,ung wisnu dipataye
namah swaha.
o
Lahir hari selasa,dewanya sang hyang
rudra.
o
Pengastawanya : ong, mang rudra dipataye
namah swaha.
o
Lahir hari rebo,dewanya sang hyang
mahadewa.
o
Pengastawanya : ong, tang mahadewa
dipataye namah swaha.
o
Lahir hari kemis,dewanya sang hyang
mahesora.
o
Pengastawanya : ong, nang mahesora
dipataye namah swaha.
o
Lahir hari jumat, dewanya sang hyang
sambu.
o
Pengastawanya : ong, wang sambu
dipataye namah swaha.
o
Lahir pada hari sabtu, dewanya sang hyang brahma.
o
Pengastawanya : ong, bang brahma dipataye namah swaha.
·
Pengastawan dewan oton tsb di atas
sesuaikan dengan hari kelahirannya.
B.
Kehadapan roh yang reinkarnasi (sang
manumadi).
ang,ung,mang.pukulun
sira sang hyang tutur menget,sang hyang tutur jati,sang manumadi ring sang
rare, saksinen santananta angaturaken tadah saji pawitra seprakaraning
pawetonan, tumurun sira aneng swarga, kairing dening para widyadara widyadari,
angadega sira,santananta angaturaken pasucian,
angadeg,adyus,ankejamas,areresiki,akekampuh,wus sira asusucen,ngeraris sira
anyumput sari, angayap sari, angisep sarining yadnya puput sira tinanggapa.
Tutur- tutur aja lupa, menget-menget aja lali ring santananta sang rare, paweha
urip waras dfirgayusa ring mercapada.
C.
Pengastawan banten ayaban.
pukulun
sira kaki siwa gotra, nini siwa gotri,kaki among,nini among,kaki lulut,nini
lulut,sira sang hyang mertha bhuana,sang hyang mertyunjaya, sang catur
sanak,metu sira sakeng wetan,saking kidul saking kulon,saking lor muah sakeng
madya, mari sira mona presama kelawan dewa, muang watek widyadara
widyadari,angadeg adyus, ankejamas, areresiki, akekampuh,wus sira
asesucen,ngeraris anyumput sari, angayap sari,angisep sarining yadnya.
Ong,sidhi rastu yanamah swaha.
D. Sesudah
pelaksanaan pengastawan selesai semua, barulah memantrai pengulapan,
prayascita, dan bayekaonan. Prsyascitanya ke surya dulu,kemudian ke pelinggih
kemulan lalu ke pelinggih lainnya yang terakhir ke tempat banten ayabannya.
E.
D.selanjutnya sang pemuput ngaturang
pebuktyan (sama dengan di depan).
F.
Kemudian mengucapkan mantra pengaksama
(lihat di depan).
G. Sang
pemuput memimpin persembahyangan seluruh keluarga. Dilanjutkan metirtha,
mesesedep dan terakhir ngayab banten ayaban. Paling terakhir ayabang
segehannya. Dengan selesainya ngayabang segehan maka berakhirlah sudah tatanan
upacara pawetonan dan napak sithi.
guna
melengkapi pengetahuan tentang upacara pawetonan dan tatannnya perlu mengetahui
makna simbul-simbul yang digunakan.
A.
Rerajahan bedawang gni.
Rerajahan bedawang gni merupakan simbul kekuatan
pertiwi sebagai dasar kekuatan alam semesta, sebagai sumber dan kehidupan semua
makhluk hidup untuk dapat melaksanakan swadharmanya masing-masing,dan agar
memiliki kesempatan berkarma untuk menebus dosa-dosanya di kehidupannya yang
terdahulu.
B.
Sangkar ayam.
Sangkar
ayam adalah simbul kekuatan “akasa” (cakra dala) untuk memberikan kehidupan
bagi semua ciptaannya akibat dari penyatuan kekuatan pertiwi dengan akasa.
C.
Aktivitas medagang-dagangan.
Aktivitas
ini merupakan simbul permohonan kepada hyang widhi agar kelak jika si bayi
telah dewasa dianugrahkan “kewigunan”(profesi). Terungkap pula dalam salah satu
sastra agama,bahwa mabusia lahir ke dunia telah memiliki garis tangan atau
wiguna yang jumlahnya 10 kelompok wiguna,yaitu :
Guna
rsi, guna wibawa, guna balian, guna dagang, guna pacul, guna sastra, guna
dalang, guna pregina, gun sangging, dan guna tukang. (lontar sarining
pawintenan agama tirtha).
masalah bagaimana implementasinya
tentu kembali kepada manusianya sendiri, tentu diharapkan sebagai makhluk utama
yang diciptakan tuhan wajib hukumnya selalu berusaha untuk berkarya sesuai
dengan profesi masing-masing. Simak pustaka bhagawadgita 8.hal.75, sbb:
“niyatam
kuru twam
karma
jyaya hy akarmanah
sarirayatra
pi ca ta
na
prasidnyed akarmanah”
maksudnya
:
Bekerjalah seperti yang telah
ditentukan
Sebab berbuat lebih baik daripada
tidak berbuat
Dan bahkan tubuhpun tidak akan
berhasil
Terpelihara tanpa berkarya.
D. Simbul
yuyu,ikan nyalian dan udang.
o
1). Megogo-gogoan maknanya sebagai
cerminan permohonan ke hadapan sang hyang widhi agar dianugrahkan kekuatan
(sabda,bayu,idep) si bayi secara normal. Kata normal disini dimaksudnya jika
saatnya bayi berbicara agar ia bisa berbicara demikian juga saat berjalan dan
berpikir.
o
2).simbul yuyu, ikan nyalian, udang,
merupakan simbul dari kekuatan sabda bayu idep yang merupakan cerminan dari
kekuatan panca maha bhuta (udang ), kekuatan jiwa (yuyu), dan kekuatan atma
(ikan nyalian).
e. Sebuah pane berisi air.
pane/paso
sebagai simbul sebuah wadah yaitu “angga sarira”, airnya sebagai simbul
pikiran. Artinya bahwa dalam pikiran yang bersih serta suci akan melahirkan
perilaku yang bijaksana dan berbudi luhur berdasarkan rasio serta hati nurani
yang tulus serta cemerlang. Dengan demikian upacara pawetonan dan napak sithi
mempunyai nilai ajaran agama yang sangat mendalam inklusif nilai-nilai luhur
keagamaan sekaligus dapat mencerminkan nilai seni budaya yang adhi luhung.
F.momentum medagang-dagangan.
g. Anak yang belum meketus memangku si bayi saat-saat megogo-gogoan.
maksud
dan tujuan bahwa anak yang belum meketus itu masih berstatus kedewa-dewan
(masih dalam status alam kedewaan) dan pikirannya masih bersih.dalam kaitan ini
yang diutamakan adalah dampaknya,sehingga
vibrasi kesucian dapat mempengaruhi sifat-sifat bayi kelak. Hasil
penjualan dagang-dagangan itu diberikan kepada anak yang memangkunya sebagai
upah. Perlakuan itu mengandung nilai sangat tinggi untuk mengajarkan si bayi
nantinya setelah dewasa bisa menghargai pendapat orang lain, membuat senang
orang lain (angawe suka wong len) tentu dalam koridor yang wajar.yang tak kalah
pentingnya adalah pendidikan bagi bayi agar ia kemudian suka berdana punia
kepada orang lain.
demikianlah
smerti dan tetujon dalam beberapa nyasa dalam upacara pawetonan dan napak
sithi,mudah-mudahan dapat dimanfaatkan sebagai penuntun khususnya si bayi dalam
pendakian hidup dan kehidupannya di dunia ini. Sebagaimana pernah diungkapkan
oleh drs. I made suandhi m ag dalam sebuah tulisannya di media cetak,bahwa
prosesi evolusimanusia dalam rentang dua tangis,yakni ketika lahir menangis dan
ketika mati ditangisi. Apakah yang dapat dilakukan diantara kedua tangis
tersebut. Barangkali semua upakara upacara manusa yadnya telah terurai di atas
merupakan pengejawantahan dari ranah dua tangisan dimaksud.
om
bajrodakom om ah hum.